Advertisement
Ophiocordyceps sinensis, yang lebih dikenal sebagai cordyceps atau jamur ulat, bukanlah tumbuhan melainkan jamur parasit entomopatogen yang termasuk dalam divisi Ascomycota. Organisme unik ini memiliki siklus hidup yang luar biasa: spora jamur menginfeksi larva serangga (terutama ngengat genus Thitarodes) yang hidup di dalam tanah. Jamur kemudian mengkolonisasi tubuh larva, mengubahnya menjadi mumi, dan pada musim semi menumbuhkan stroma (tubuh buah) berwarna gelap yang mencuat dari kepala larva. Cordyceps hanya ditemukan di dataran tinggi pegunungan Himalaya dan Tibet, pada ketinggian 3.000–5.000 meter di atas permukaan laut, dan menjadi salah satu jamur obat termahal di dunia.
Advertisement
Siklus hidup Ophiocordyceps sinensis berlangsung hingga beberapa tahun. Spora yang tertelan oleh larva akan tumbuh di dalam tubuh inangnya, membentuk jaringan miselium yang secara perlahan mengkonsumsi organ internal larva. Pada musim gugur, larva yang terinfeksi akan mati dan mengeras menjadi mumi. Saat salju mencair di musim semi, stroma jamur tumbuh dari kepala larva ke permukaan tanah, menghasilkan ascospores yang akan menyebar untuk menginfeksi larva baru. Panen cordyceps dilakukan secara manual oleh penduduk setempat pada periode singkat antara April hingga Juni, menjadikannya komoditas langka dan bernilai ekonomi tinggi—di pasaran gelap, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per kilogram.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, Ophiocordyceps sinensis dipercaya memiliki khasiat tonik untuk ginjal dan paru-paru, meningkatkan stamina, serta memperlambat proses penuaan. Penelitian modern menunjukkan bahwa cordyceps mengandung senyawa bioaktif seperti cordycepin, polisakarida, dan ergosterol yang memiliki efek antioksidan, anti-inflamasi, dan imunomodulator. Namun, akibat pemanenan berlebihan dan perubahan iklim, populasi liar cordyceps terus menurun drastis, sehingga kini upaya budidaya buatan dan pengembangan strain sintetis gencar dilakukan. Meskipun demikian, cordyceps asli dari alam liar masih dianggap paling berkhasiat, menjadikannya subjek penelitian yang menarik dalam bidang mikologi dan farmakologi modern.
Manfaat Cordyceps untuk kesehatan.
Cordycepin meningkatkan produksi ATP mitokondria melalui aktivasi AMPK dan SIRT1, meningkatkan aliran darah dan pemanfaatan oksigen. Polisakarida meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen, mengurangi stres oksidatif akibat olahraga.
Cordycepin dan polisakarida menghambat aktivasi NF-κB, menurunkan produksi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan COX-2. Juga meningkatkan aktivitas SOD dan katalase, mengurangi kerusakan oksidatif pada kartilago.
Polisakarida dan cordycepin meningkatkan ekspresi enzim antioksidan seperti SOD, GPx, dan katalase melalui aktivasi jalur Nrf2/ARE. Juga secara langsung menangkap radikal bebas dan besi pengkelat.
Polisakarida mengaktifkan makrofag, sel NK, dan sel T melalui pengikatan reseptor TLR4 dan Dectin-1, meningkatkan produksi sitokin seperti IFN-γ, IL-2, dan TNF-α. Cordycepin memodulasi proliferasi limfosit.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Cordyceps.