Ara

Common Fig | Ficus carica
Nama
Ara (Common Fig)
Nama Latin/Ilmiah
Ficus carica
Famili
Bagian Digunakan
Buah
Rasa
Manis
Nama Lain
Fig (Inggris), fico (Italia), higo (Spanyol), figue (Prancis), feige (Jerman)
Asal
Ara (Ficus carica) berasal dari Asia Barat dan kawasan Mediterania.
Kandungan Utama
Vitamin, mineral, serat, senyawa fenolik, flavonoid, dan antioksidan.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Ara

Ara (Ficus carica) merupakan salah satu tumbuhan buah tertua yang dibudidayakan manusia, berasal dari kawasan Asia Barat dan Mediterania. Secara botani, ara termasuk dalam famili Moraceae dan memiliki keunikan karena bunganya tersembunyi di dalam struktur yang disebut syconium—yang kemudian berkembang menjadi buah palsu atau infructescence. Bagian yang kita konsumsi sebenarnya adalah wadah bunga yang membengkak, bukan buah sejati. Tumbuhan ini mampu tumbuh sebagai perdu atau pohon kecil setinggi 3–10 meter, dengan daun lebar menjari dan getah putih yang mengandung lateks.

Baca Lebih Lanjut
Update: 18 Agu 2026 - 12:51:52
 

II. Ciri-ciri Ara

Tanaman ini berasal dari daerah beriklim subtropis seperti Timur Tengah dan Mediterania. Suka banget sama matahari penuh, tanah yang punya drainase baik (nggak becek), dan toleran sama cuaca kering. Karakteristik/ciri-ciri Ara (Ficus carica):

Bagian Ciri-Ciri
Perawakan Pohon kecil atau perdu yang bisa tumbuh sampai 3-10 meter dengan tajuk yang cukup lebar dan rindang.
Batang Kulit batangnya halus berwarna abu-abu kecokelatan, punya getah putih seperti susu yang keluar kalau batang atau daunnya luka.
Daun Bentuknya unik, lebar, dan berlekuk-lekuk (biasanya ada 3 sampai 5 lobus/jari), permukaannya agak kasar atau berbulu halus.
Buah Sebenarnya bukan buah sejati, tapi namanya 'syconium'. Bentuknya kayak kantong yang menyimpan bunga di dalamnya, teksturnya lembut saat matang dengan warna mulai dari hijau, kuning, sampai ungu gelap.
Bunga Tersembunyi di dalam buah, jadi kita nggak bakal lihat bunganya secara langsung dari luar karena penyerbukannya dibantu oleh tawon khusus.

III. Manfaat Ara

8 Manfaat Ara untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi dan pengurangan nyeri

    Flavonoid seperti rutin dan kuersetin serta triterpenoid seperti lupeol dan asam oleanolat menekan aktivitas COX-2 dan iNOS, menghambat translokasi NF-κB, serta menurunkan produksi TNF-α, IL-6, dan PGE2. Efek anti-inflamasinya juga dimediasi oleh penghambatan jalur MAPK dan pengurangan infiltrasi leukosit.

    Tampilkan
  2. Antidiabetes / antihiperglikemia

    Ekstrak Ficus carica menghambat α-amilase dan α-glukosidase di usus, sehingga memperlambat penyerapan glukosa. Senyawa polifenol seperti asam klorogenat dan rutin juga meningkatkan fosforilasi AMPK dan PI3K/AKT, yang berujung pada peningkatan translokasi GLUT4 dan sensitivitas insulin.

    Senyawa Aktif: Asam Klorogenat, Rutin, Kuersetin, umbelliferon
    Tampilkan
  3. Stres oksidatif / antioksidan

    Antosianin dan asam fenolat pada Ficus carica menangkap radikal bebas, mengkhelat logam transisi, serta mengaktivasi jalur Nrf2/ARE. Akibatnya terjadi peningkatan ekspresi enzim antioksidan endogen seperti SOD, katalase, dan glutation peroksidase serta penurunan peroksidasi lipid.

    Senyawa Aktif: sianidin-3-O-rutinosida, Asam Klorogenat, Rutin, Kaempferol
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Ara

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Ara.

  1. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun, buah (terutama kulit buah)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiinflamasi; Proteksi Pembuluh Darah; Penghambatan α-glukosidase Sehingga Berpotensi Sebagai Antidiabetes..
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun, buah
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiinflamasi; Antiproliferatif; Imunomodulator; Penghambat Enzim Inflamasi Seperti COX Dan LOX..
    Tampilkan
  3. Golongan: Asam fenolat (fenilpropanoid)
    Bagian Tanaman: Daun, buah
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Hipoglikemik Melalui Inhibisi α-glukosidase; Hepatoprotektif; Antiinflamasi..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Efek Samping Ara

Buah dan bagian lain dari tanaman ara (Ficus carica) umumnya aman bila dikonsumsi dalam jumlah moderat sebagai makanan. Namun, konsumsi berlebihan atau penggunaan sediaan herbal dari getah dan daun ara dapat menimbulkan berbagai efek samping, terutama pada saluran pencernaan. Kandungan serat yang sangat tinggi pada buah ara dapat memicu diare osmotik, kram perut, serta kembung jika dikonsumsi secara berlebihan. Selain itu, getah putih dari pohon ara mengandung enzim fitokusin dan furanokumarin yang bersifat iritatif kuat terhadap kulit dan selaput lendir, berpotensi menyebabkan dermatitis kontak iritan serta reaksi fototoksisitas yang parah saat kulit yang terkena getah terpapar sinar matahari.

Baca Semua Efek Samping

VI. FAQ Ara

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Ara.

Apa saja kandungan gizi dan fitokimia utama buah ara (Ficus carica) serta dampaknya bagi kesehatan umum?
Buah ara mengandung serat pangan tinggi (sekitar 9,8 g per 100 g kering), kalium, kalsium, magnesium, zat besi, vitamin K, vitamin B6, folat, serta polifenol seperti asam klorogenat, rutin, quercetin, dan antosianin. Kombinasi serat dan polifenol memberikan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan efek prebiotik. Konsumsi buah ara segar maupun kering dapat meningkatkan kapasitas antioksidan plasma pada manusia. Referensi: Vinson et al., J Am Coll Nutr, 2005; Badgujar et al., Pharm Biol, 2014.
Berapa banyak buah ara yang sebaiknya dikonsumsi setiap hari dan bagaimana cara aman mengolahnya?
Belum ada dosis baku resmi. Sebagai patokan, 2–3 buah ara kering atau sekitar 40–50 g per hari cukup untuk memperoleh serat dan polifenol tanpa kelebihan gula. Buah segar dapat dimakan langsung, sedangkan ara kering dapat direndam sekitar 30 menit agar lebih lunak atau dicampur yogurt dan smoothie. Mulailah dengan 1 buah per hari agar saluran cerna beradaptasi, dan perbanyak minum air putih. Perlu diperhatikan bahwa 100 g ara kering mengandung sekitar 249 kkal dan 47,9 g gula. Referensi: USDA FoodData Central; Slatnar et al., Food Chem, 2011.
Apakah buah ara efektif untuk mengatasi sembelit dan gangguan pencernaan?
Secara tradisional ara digunakan sebagai laksatif ringan. Serat larut dan tidak larut dalam buah ara dapat menahan air, memperbesar volume tinja, dan membantu mempercepat transit usus. Efek prebiotik dari serat dan polifenol juga mendukung keseimbangan mikrobiota usus. Namun bukti klinis pada manusia masih terbatas; untuk konstipasi kronis sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Referensi: Badgujar et al., Pharm Biol, 2014; Mawa et al., Evid Based Complement Alternat Med, 2013.
Apakah daun ara dapat digunakan sebagai obat diabetes?
Penelitian menunjukkan rebusan daun ara dapat menurunkan glukosa darah postprandial pada pasien diabetes tipe 1, dan ekstrak daun ara memiliki efek hipoglikemik pada hewan. Namun mekanisme serta keamanan jangka panjangnya belum mapan. Daun ara tidak boleh menggantikan obat antidiabetes; jika digunakan, harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan karena dapat menyebabkan hipoglikemia. Buah ara kering justru tinggi gula sehingga perlu dibatasi pada diabetesi. Referensi: Serraclara et al., Diabetes Care, 1998; Badgujar et al., Pharm Biol, 2014.
Apa efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan buah atau getah ara?
Efek samping yang mungkin muncul meliputi reaksi alergi seperti gatal, ruam, edema bibir, bahkan anafilaksis pada individu sensitif. Getah segar ara mengandung psoralen dan dapat menyebabkan fotodermatitis atau iritasi kulit bila terkena sinar matahari. Konsumsi berlebihan juga dapat menyebabkan mual, kembung, diare, atau sakit perut karena serat dan gula yang tinggi. Getah ara tidak boleh dioleskan ke kulit tanpa pengawasan karena berisiko menimbulkan luka bakar kimia. Referensi: Zaynoun et al., Br J Dermatol, 1984; Badgujar et al., Pharm Biol, 2014.
Bolehkah buah ara diberikan kepada bayi dan anak-anak?
Buah ara segar yang matang dapat dihaluskan dan diberikan sebagai MPASI setelah bayi berusia 6 bulan, selama tidak ada riwayat alergi dan diberikan dalam jumlah kecil. Ara kering utuh sebaiknya dihindari pada anak di bawah 4–5 tahun karena risiko tersedak; jika diberikan, harus diiris kecil atau dihancurkan. Sediaan getah, daun, atau ekstrak pekat ara tidak dianjurkan untuk bayi dan anak karena belum ada data keamanan yang memadai. Referensi: Badgujar et al., Pharm Biol, 2014; WHO, 2003.
Apakah aman mengonsumsi ara saat hamil dan menyusui?
Buah ara matang yang dikonsumsi dalam jumlah normal makanan umumnya aman dan tidak berisiko toksik bagi ibu hamil dan menyusui. Namun sediaan herbal berupa daun, getah, atau ekstrak pekat tidak dianjurkan selama kehamilan dan menyusui karena belum ada uji keamanan yang memadai. Konsultasikan dengan dokter bila ingin menggunakannya secara rutin, terutama pada kondisi diabetes gestasional atau riwayat alergi. Referensi: Badgujar et al., Pharm Biol, 2014; Mawa et al., Evid Based Complement Alternat Med, 2013.
Apakah ara dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu?
Ya. Buah ara kaya vitamin K sehingga konsumsi dalam jumlah sangat besar dapat mengurangi efek warfarin. Ekstrak daun ara dapat meningkatkan efek obat antidiabetes dan berisiko menyebabkan hipoglikemia. Serat yang tinggi juga dapat memperlambat penyerapan beberapa obat bila dikonsumsi bersamaan. Sebaiknya beri jeda waktu antara konsumsi ara dan obat, serta konsisten dalam jumlah konsumsi harian, kecuali dokter memberikan anjuran lain. Referensi: Badgujar et al., Pharm Biol, 2014; Mawa et al., 2013.
Bagaimana penggunaan ara dalam pengobatan tradisional dan adakah bukti ilmiahnya?
Getah ara digunakan secara tradisional untuk mengobati kutil dan gangguan kulit, sedangkan daunnya digunakan untuk diabetes, peradangan, diare, dan infeksi kulit. Studi in vitro dan hewan menunjukkan aktivitas antimikroba, antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik dari ekstrak daun atau buah ara. Namun sebagian besar bukti belum melibatkan uji klinis manusia yang kuat, sehingga klaim tradisional perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Referensi: Badgujar et al., Pharm Biol, 2014; Mawa et al., Evid Based Complement Alternat Med, 2013.
Apakah ara bermanfaat untuk kesehatan jantung dan kolesterol?
Serat larut dan polifenol dalam ara diketahui bermanfaat untuk mendukung kesehatan jantung. Pada sebagian studi hewan, ekstrak atau serbuk ara dapat menurunkan kolesterol LDL dan trigliserida. Pada manusia, konsumsi ara kering dilaporkan meningkatkan kapasitas antioksidan plasma, tetapi efek langsung terhadap kejadian penyakit jantung belum terbukti. Ara sebaiknya menjadi bagian dari pola makan sehat dan tidak menggantikan obat penurun kolesterol. Referensi: Vinson et al., J Am Coll Nutr, 2005; Mawa et al., 2013.

Beringin

Ficus benghalensis

Kumis Kucing Putih

Orthosiphon stamineus

Cari: