Advertisement
Bawang berjalan Mesir (Allium × proliferum) adalah tanaman unik dari famili Amaryllidaceae yang dikenal karena kebiasaan tumbuhnya yang tidak biasa: daripada berbunga di ujung tangkai lalu mati, tanaman ini menghasilkan sekumpulan umbi kecil (bulbil) di puncak tangkai bunga. Umbi-umbi tersebut cukup berat sehingga membuat tangkai bengkok ke tanah, lalu menumbuhkan akar dan memulai generasi baru di lokasi yang sedikit lebih jauh. Proses ini berulang, sehingga koloni tanaman tampak “berjalan” perlahan melintasi kebun — itulah asal usul nama umumnya.
Tanaman ini cukup tangguh dan bisa tumbuh di berbagai jenis tanah asal drainasenya bagus. Mereka sangat menyukai sinar matahari penuh dan dikenal sebagai tanaman tahunan yang sangat adaptif di iklim sedang hingga subtropis. Karakteristik/ciri-ciri Egyptian Walking Onion (Allium ? proliferum):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Umbi | Memiliki umbi yang mirip bawang bombay, tapi ukurannya cenderung lebih kecil dan sering tumbuh berkelompok. |
| Batang | Batang utamanya tegak, berongga, dan cukup kokoh untuk menopang beban di bagian ujungnya. |
| Daun | Daun berbentuk silindris, berongga, dan berwarna hijau kebiruan, mirip dengan daun bawang pada umumnya. |
| Perbungaan | Ciri paling unik adalah tidak menghasilkan biji sejati, melainkan membentuk 'bulbil' atau bawang kecil di ujung tangkai bunga sebagai pengganti bunga. |
| Sistem Proliferasi | Saat bulbil di ujung batang tumbuh cukup besar dan berat, tangkai akan melengkung ke tanah, lalu bulbil tersebut akan menancap dan tumbuh menjadi tanaman baru—itulah sebabnya disebut 'walking onion'. |
4 Manfaat Egyptian Walking Onion untuk kesehatan.
Gugus hidroksil fenolat pada quercetin dan kaempferol menyumbangkan elektron untuk meredam radikal bebas; senyawa organosulfur turunan isoalliin dapat meningkatkan regenerasi glutathione serta mengaktifkan jalur Nrf2/Keap1 yang memicu ekspresi enzim antioksidan endogen seperti SOD, GPx, dan HO-1.
Tiosulfinat dan tiosulfonat yang terbentuk dari S-alk(en)ilsistein sulfoksida mengoksidasi gugus tiol pada enzim dan protein membran mikroba, mengganggu permeabilitas membran, serta menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Quercetin turut berkontribusi melalui kerusakan dinding sel mikroba.
Quercetin dan kaempferol menghambat enzim COX-2 dan 5-LOX, menurunkan ekspresi iNOS, serta menekan aktivasi NF-κB sehingga produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β berkurang.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Egyptian Walking Onion.
Interaksi & Kontraindikasi Egyptian Walking Onion dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Egyptian Walking Onion (Allium × proliferum), yang merupakan hibrida antara bawang bombay (Allium cepa) dan bawang welut (Allium fistulosum), mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti senyawa organosulfur, flavonoid (terutama kuersetin), dan tiosulfinat. Konsumsi tanaman ini, baik bagian umbi maupun bulbilnya, umumnya aman dalam jumlah moderat sebagai makanan. Namun, seperti halnya anggota genus Allium lainnya, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan. Senyawa sulfur dan fructan yang terkandung di dalamnya dapat memicu iritasi lambung, mulas, kembung, flatulensi, serta refluks asam pada individu yang sensitif atau memiliki gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS).
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Egyptian Walking Onion.