Egyptian Walking Onion

Allium ? proliferum
Nama
Egyptian Walking Onion
Nama Latin/Ilmiah
Allium ? proliferum
Bagian Digunakan
Umbi Lapis, Umbi Udara (bulbil), Daun
Rasa
Bawang merah, sedikit bawang putih
Nama Lain
Tree onion (Britania Raya), Etagenzwiebel (Jerman), Cebolla caminante (Spanyol), Oignon d'Égypte (Prancis), Cipolla egiziana (Italia).
Asal
Mesir
Kandungan Utama
Senyawa organosulfur (alliin, allicin), flavonoid (quercetin), saponin, dan minyak atsiri.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Egyptian Walking Onion

Bawang berjalan Mesir (Allium × proliferum) adalah tanaman unik dari famili Amaryllidaceae yang dikenal karena kebiasaan tumbuhnya yang tidak biasa: daripada berbunga di ujung tangkai lalu mati, tanaman ini menghasilkan sekumpulan umbi kecil (bulbil) di puncak tangkai bunga. Umbi-umbi tersebut cukup berat sehingga membuat tangkai bengkok ke tanah, lalu menumbuhkan akar dan memulai generasi baru di lokasi yang sedikit lebih jauh. Proses ini berulang, sehingga koloni tanaman tampak “berjalan” perlahan melintasi kebun — itulah asal usul nama umumnya.

Baca Lebih Lanjut
Update: 16 Agu 2026 - 03:20:09
 

II. Ciri-ciri Egyptian Walking Onion

Tanaman ini cukup tangguh dan bisa tumbuh di berbagai jenis tanah asal drainasenya bagus. Mereka sangat menyukai sinar matahari penuh dan dikenal sebagai tanaman tahunan yang sangat adaptif di iklim sedang hingga subtropis. Karakteristik/ciri-ciri Egyptian Walking Onion (Allium ? proliferum):

Bagian Ciri-Ciri
Umbi Memiliki umbi yang mirip bawang bombay, tapi ukurannya cenderung lebih kecil dan sering tumbuh berkelompok.
Batang Batang utamanya tegak, berongga, dan cukup kokoh untuk menopang beban di bagian ujungnya.
Daun Daun berbentuk silindris, berongga, dan berwarna hijau kebiruan, mirip dengan daun bawang pada umumnya.
Perbungaan Ciri paling unik adalah tidak menghasilkan biji sejati, melainkan membentuk 'bulbil' atau bawang kecil di ujung tangkai bunga sebagai pengganti bunga.
Sistem Proliferasi Saat bulbil di ujung batang tumbuh cukup besar dan berat, tangkai akan melengkung ke tanah, lalu bulbil tersebut akan menancap dan tumbuh menjadi tanaman baru—itulah sebabnya disebut 'walking onion'.

III. Manfaat Egyptian Walking Onion

4 Manfaat Egyptian Walking Onion untuk kesehatan.

  1. Stres oksidatif dan kerusakan akibat radikal bebas

    Gugus hidroksil fenolat pada quercetin dan kaempferol menyumbangkan elektron untuk meredam radikal bebas; senyawa organosulfur turunan isoalliin dapat meningkatkan regenerasi glutathione serta mengaktifkan jalur Nrf2/Keap1 yang memicu ekspresi enzim antioksidan endogen seperti SOD, GPx, dan HO-1.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Isoalliin
    Tampilkan
  2. Infeksi bakteri dan jamur permukaan (potensial)

    Tiosulfinat dan tiosulfonat yang terbentuk dari S-alk(en)ilsistein sulfoksida mengoksidasi gugus tiol pada enzim dan protein membran mikroba, mengganggu permeabilitas membran, serta menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Quercetin turut berkontribusi melalui kerusakan dinding sel mikroba.

    Senyawa Aktif: Dipropil tiosulfinat, Propanethial S-oksida, Kuersetin
    Tampilkan
  3. Inflamasi kronis ringan

    Quercetin dan kaempferol menghambat enzim COX-2 dan 5-LOX, menurunkan ekspresi iNOS, serta menekan aktivasi NF-κB sehingga produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β berkurang.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Quercetin glikosida
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+1)

Advertisement


IV. Kandungan Egyptian Walking Onion

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Egyptian Walking Onion.

  1. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun, umbi, kulit umbi
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Dan Antiinflamasi; Menghambat Peroksidasi Lipid Dan Pelepasan Mediator Inflamasi Pada Studi In Vitro. Keterbatasan: Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia Yang Menggunakan A. × Proliferum..
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun dan umbi
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiproliferatif Dan Proapoptosis Pada Beberapa Lini Sel Tumor Secara In Vitro. Keterbatasan: Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia Untuk A. × Proliferum..
    Tampilkan
  3. Isoalliin (S-trans-1-propenil-L-sistein sulfoksida)

    Golongan: S-alk(en)il-L-sistein sulfoksida
    Bagian Tanaman: Umbi dan bulbil (umbi udara)
    Aktivitas Farmakologis:
    Prekursor Senyawa Bioaktif Thiosulfinat Dan Cepaene Setelah Aktivasi Enzim Alliinase; Dilaporkan Memiliki Aktivitas Antiplatelet Dan Antimikroba Secara In Vitro. Keterbatasan: Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Egyptian Walking Onion

Interaksi & Kontraindikasi Egyptian Walking Onion dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Penggunaan kuliner dalam jumlah normal

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Aman dikonsumsi sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

  2. Penggunaan pada penderita Gangguan lambung ringan (dispepsia, nyeri ulu hati)

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung; gunakan dalam jumlah kecil dan hentikan jika gejala muncul.

  3. Kehamilan dan menyusui

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Konsumsi sebagai bumbu makanan umumnya aman, tetapi hindari ekstrak atau suplemen pekat karena data keamanan kurang.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Egyptian Walking Onion

Egyptian Walking Onion (Allium × proliferum), yang merupakan hibrida antara bawang bombay (Allium cepa) dan bawang welut (Allium fistulosum), mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti senyawa organosulfur, flavonoid (terutama kuersetin), dan tiosulfinat. Konsumsi tanaman ini, baik bagian umbi maupun bulbilnya, umumnya aman dalam jumlah moderat sebagai makanan. Namun, seperti halnya anggota genus Allium lainnya, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan. Senyawa sulfur dan fructan yang terkandung di dalamnya dapat memicu iritasi lambung, mulas, kembung, flatulensi, serta refluks asam pada individu yang sensitif atau memiliki gangguan pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS).

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Egyptian Walking Onion

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Egyptian Walking Onion.

Apa kandungan fitokimia utama dalam Egyptian Walking Onion (Allium × proliferum)?
Belum ada analisis fitokimia spesifik yang ekstensif untuk A. × proliferum, tetapi sebagai hibrida antara Allium cepa dan Allium fistulosum, komposisinya diperkirakan mencerminkan kedua induknya. Senyawa utamanya termasuk alk(en)il sistein sulfoksida (misalnya isoalliin), tiosulfinat, flavonoid seperti quercetin dan kaempferol, asam fenolik, saponin steroid, fruktan, vitamin C, serta mineral kalium dan kalsium. Senyawa organosulfur tersebut diproduksi ketika jaringan bawang rusak dan bertanggung jawab terhadap aroma, rasa, dan sebagian aktivitas biologisnya. (Referensi: Griffiths et al., 2002; Lanzotti, 2006; Slimestad et al., 2007).
Bagaimana cara konsumsi Egyptian Walking Onion yang disarankan dalam penggunaan sehari-hari?
Umbi lapis, umbi kecil di pucuk, serta daun mudanya dapat dimakan mentah sebagai lalap atau dijadikan bumbu tumis, sup, dan omelet. Untuk mempertahankan senyawa organosulfur, potong atau cincang bawang terlebih dahulu dan biarkan selama kurang lebih 10 menit sebelum dimasak, karena enzim alliinase lebih aktif sebelum dipanaskan. Tidak ada dosis terapeutik yang baku; gunakan sebagai bahan pangan dalam jumlah wajar. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan. (Referensi: Rose et al., 2005; Griffiths et al., 2002).
Apa manfaat kesehatan yang memiliki bukti ilmiah kuat pada genus Allium dan relevan dengan bawang berjalan?
Konsumsi sayuran genus Allium dikaitkan dengan efek antioksidan, antiradang, dan kardioprotektif, antara lain menurunkan tekanan darah dan memperbaiki profil lipid pada studi pendahuluan. Senyawa quercetin dan polifenol lain berperan dalam menangkap radikal bebas, sedangkan senyawa organosulfur dapat memodulasi jalur inflamasi dan agregasi trombosit. Namun, penelitian spesifik pada A. × proliferum masih sangat terbatas; sebagian besar bukti berasal dari bawang bombay (A. cepa), bawang putih, dan bawang daun. Karena itu, manfaat ini tidak dapat disetarakan dengan obat. (Referensi: Griffiths et al., 2002; Nicastro et al., 2015).
Apakah Egyptian Walking Onion dapat digunakan sebagai antimikroba alami?
Ekstrak dan minyak atsiri berbagai spesies Allium diketahui memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri Gram-positif, Gram-negatif, dan jamur tertentu melalui senyawa tiosulfinat dan alk(en)il sistein sulfoksida. Sebagai contoh, ekstrak bawang bombay dan bawang putih menghambat pertumbuhan bakteri patogen makanan seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dalam kondisi laboratorium. Namun, aktivitas in vitro tidak berarti efektif atau aman sebagai obat infeksi pada manusia. Jangan menggantikan pengobatan medis dengan bawang. (Referensi: Benkeblia, 2004; Kyung, 2012).
Apa efek samping yang mungkin timbul akibat konsumsi Egyptian Walking Onion?
Dalam jumlah makanan, umumnya aman. Efek samping ringan dapat berupa bau napas, kembung, nyeri ulu hati, dan iritasi lambung, terutama jika dimakan mentah dan berlebihan. Kontak kulit dapat menyebabkan iritasi atau dermatitis kontak pada orang sensitif. Karena senyawa organosulfur dapat menghambat agregasi trombosit, konsumsi ekstrak dosis tinggi berpotensi meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika digabung dengan obat antikoagulan seperti warfarin atau jika akan menjalani operasi. Karena itu, suplemen Allium pekat sebaiknya digunakan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. (Referensi: Rose et al., 2005; Griffiths et al., 2002).
Apakah Egyptian Walking Onion aman dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak?
Tidak ada data keamanan khusus untuk A. × proliferum pada bayi dan anak. Namun, bawang merupakan bahan pangan umum yang dapat diberikan sebagai makanan pendamping ASI setelah bayi berusia sekitar 6 bulan, dalam bentuk dimasak, dihaluskan, dan tanpa tambahan garam atau gula tinggi. Untuk anak yang lebih besar, penggunaan sebagai bumbu dalam porsi kecil umumnya dianggap aman. Hindari bawang mentah dalam jumlah besar karena rasa pedas dan seratnya dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada saluran cerna. Selalu perkenalkan satu bahan baru dan amati reaksi alergi. (Referensi: World Health Organization, 2003).
Apakah Egyptian Walking Onion aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Untuk ibu hamil dan menyusui, tidak ada uji klinis khusus yang meneliti A. × proliferum. Dalam jumlah makanan normal, bawang ini tergolong aman dan umumnya telah menjadi bagian diet masyarakat. Namun, karena ekstrak Allium dosis pekat dapat memengaruhi agregasi trombosit dan belum ada data keamanan yang memadai, suplemen atau ekstrak Allium sebaiknya dihindari selama kehamilan dan menyusui. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi jika ingin menggunakannya secara terapeutik. (Referensi: Griffiths et al., 2002; Rose et al., 2005).
Apakah Egyptian Walking Onion dapat menggantikan obat resep seperti antikoagulan atau antibiotik?
Tidak. Egyptian Walking Onion adalah bahan pangan herbal, bukan obat. Meskipun beberapa senyawa Allium menunjukkan aktivitas antiplatelet dan antimikroba dalam penelitian laboratorium, bukti klinis belum cukup kuat untuk mendukung penggunaannya sebagai terapi pengganti. Menghentikan obat resep atau mengubah dosis obat tanpa persetujuan dokter dapat membahayakan kesehatan. Bawang berjalan hanya dapat dijadikan bagian dari pola makan sehat, bukan pengganti pengobatan medis. (Referensi: Kyung, 2012; Nicastro et al., 2015).

Society Garlic

Tulbaghia violacea

Elephant Garlic

Allium ampeloprasum

Cari: