Advertisement
Pilewort atau Lesser Celandine (Ficaria verna) adalah tumbuhan berbunga tahunan yang termasuk dalam famili Ranunculaceae. Tumbuhan ini dikenal luas dengan nama "Pilewort" karena secara historis digunakan untuk mengobati wasir (hemoroid/piles), berdasarkan doktrin tanda bahwa umbi-umbi kecilnya menyerupai wasir. Ciri khasnya meliputi daun berbentuk hati yang mengilap, bunga kuning cerah dengan kelopak biasanya berjumlah 8–12, serta umbi akar berbentuk gada yang menjadi cadangan makanan. Tumbuhan ini tumbuh rendah dan kerap membentuk hamparan hijau di tanah yang lembap, muncul awal musim semi sebelum kanopi hutan menutup.
Advertisement
Secara ekologi, Ficaria verna banyak ditemukan di tepi hutan, padang rumput basah, pinggir sungai, dan area teduh dengan tanah yang subur. Siklus hidupnya bersifat ephemeral—berbunga dan berbuah cepat di musim semi lalu layu menjelang musim panas. Tumbuhan ini mampu berkembang biak secara vegetatif melalui umbi akar dan bulbil (umbi kecil di ketiak daun), sehingga dapat menyebar cepat dan di beberapa wilayah dianggap sebagai gulma invasif yang sulit dikendalikan. Meski tampak cantik, getah dan bagian segar tumbuhan ini mengandung ranunculin yang dapat terhidrolisis menjadi protoanemonin, senyawa yang bersifat iritan bagi kulit dan selaput lendir.
Dalam pengobatan tradisional, Ficaria verna pernah digunakan secara topikal untuk mengatasi ambeien, luka, dan kondisi kulit tertentu—biasanya setelah diolah atau dikeringkan untuk mengurangi toksisitasnya. Namun, penggunaan internal atau pemakaian segar sangat tidak disarankan karena dapat menyebabkan iritasi mulut, muntah, hingga kerusakan gastrointestinal. Penelitian modern lebih menyoroti potensi senyawa bioaktifnya sebagai antimikroba dan antiinflamasi, tetapi masih membutuhkan studi lanjut. Dengan demikian, pilewort adalah contoh menarik bagaimana tanaman obat klasik menyimpan potensi sekaligus bahaya, dan menuntut kewaspadaan dalam setiap pemanfaatannya.
Manfaat Pilewort / Lesser Celandine untuk kesehatan.
Tanin bersifat astringen dengan mengendapkan protein pada mukosa yang mengalami eksudasi, sehingga mengurangi kebocoran cairan dan edema lokal; flavonoid glikosida memperkuat dinding kapiler melalui stabilisasi membran endotel dan penurunan permeabilitas; saponin serta anemonin menekan mediator inflamasi di jaringan perianal.
Anemonin menghambat aktivasi NF-κB dan MAPK, sehingga menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, TNF-α, IL-6, dan IL-1β. Flavonoid kaempferol dan quercetin menghambat enzim COX/LOX serta menstabilkan mediator peradangan di jaringan.
Senyawa fenolat mendonorkan elektron kepada radikal bebas, menghentikan propagasi peroksidasi lipid, dan mengkhelat logam transisi. Beberapa flavonoid juga mengaktifkan faktor transkripsi Nrf2, sehingga meningkatkan enzim antioksidan endogen seperti katalase dan superoksida dismutase.
Protoanemonin mengandung gugus lakton α,β-tak jenuh yang bereaksi dengan gugus tiol protein dan enzim mikroba, mengganggu metabolisme sel bakteri/jamur. Saponin dan tanin merusak integritas membran serta menghambat adhesi biofilm.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Pilewort / Lesser Celandine.