Kelembak Jawa

Himalayan Rhubarb | Rheum emodi
Nama
Kelembak Jawa (Himalayan Rhubarb)
Nama Latin/Ilmiah
Rheum emodi
Bagian Digunakan
Rimpang.
Rasa
Pahit, kelat
Nama Lain
Indian rhubarb (India), Padamchal (Nepal), Dolu (India), Zangbian dahuang (China), Revand Hindi (Pakistan)
Asal
Afghanistan, Pakistan, India, Nepal, Bhutan, Tibet (China)
Kandungan Utama
Antrakuinon, glikosida antrakuinon, tanin, dan resin.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Kelembak Jawa

Kelembak Jawa (Rheum emodi) merupakan tumbuhan herba tahunan dari famili Polygonaceae yang kerap disalahartikan sebagai kelembak asli Jawa, padahal asalnya dari kawasan pegunungan Himalaya hingga Tibet. Meski disebut "Jawa", tumbuhan ini lebih adaptif pada iklim subtropis dan dataran tinggi (1.800–4.000 mdpl), sehingga di Indonesia hanya dapat tumbuh optimal di wilayah pegunungan seperti Dataran Tinggi Dieng atau lereng Gunung Bromo dengan suhu dingin dan tanah vulkanik yang subur. Batangnya tegak, berongga, dengan daun besar menjantung dan akar tunggang tebal yang menjadi bagian utama pemanfaatan.

Baca Lebih Lanjut
Update: 18 Agu 2026 - 04:51:04
 

II. Ciri-ciri Kelembak Jawa

Tanaman ini berasal dari daerah pegunungan tinggi dengan iklim sejuk dan tanah yang subur serta lembap. Di Indonesia, ia sering ditemukan di wilayah dataran tinggi seperti pegunungan di Jawa, di mana suhu dingin sangat mendukung pertumbuhannya. Karakteristik/ciri-ciri Kelembak Jawa (Rheum emodi):

Bagian Ciri-Ciri
Perawakan Tumbuhan herba menahun yang tumbuh tegak dengan ukuran yang cukup besar.
Akar Memiliki akar rimpang (rizoma) yang tebal, berdaging, dan berwarna kuning kecokelatan hingga merah tua di bagian dalamnya.
Daun Bentuknya lebar menyerupai ginjal atau jantung, tepinya agak bergelombang, dengan tangkai daun yang panjang dan kuat.
Batang Batangnya tegak, berongga, dan memiliki tekstur yang agak berair.
Bunga Bunganya kecil-kecil, biasanya berwarna putih kehijauan atau kemerahan, tersusun dalam rangkaian yang menjulang ke atas (panikula).
Buah Buahnya termasuk jenis buah kering (akena) yang bersayap, memungkinkan penyebaran melalui angin.

III. Manfaat Kelembak Jawa

8 Manfaat Kelembak Jawa untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi dan nyeri sendi

    Ekstrak dan antrakuinon R. emodi menghambat fosforilasi IκBα dan translokasi NF-κB p65 sehingga menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, TNF-α, IL-6, dan PGE2. Rhein dan emodin juga menekan jalur MAPK (p38/JNK) pada makrofag dan sel sinovial.

    Senyawa Aktif: Emodin, Rhein, aloe-emodin
    Tampilkan
  2. Antidiabetes / gangguan toleransi glukosa

    Antrakuinon dan stilbenoid R. emodi menghambat α-glukosidase dan α-amilase di usus sehingga memperlambat absorbsi glukosa; emodin meningkatkan fosforilasi AMPK dan translokasi GLUT4, yang memperbaiki sensitivitas insulin pada jaringan perifer.

    Senyawa Aktif: Emodin, Krisofanol, Physcion
    Tampilkan
  3. Antimikroba spektrum luas

    Antrakuinon mengganggu integritas membran sel mikroba, berinteraksi dengan DNA, menghambat topoisomerase, dan menurunkan pembentukan biofilm. Emodin juga dilaporkan menghambat ekspresi faktor virulensi dan mekanisme quorum sensing.

    Senyawa Aktif: Emodin, Rhein, Krisofanol
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Kelembak Jawa

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Kelembak Jawa.

  1. Sennoside A (dan B)

    Golongan: Diantron glikosida
    Bagian Tanaman: Rimpang/akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Laksatif Stimulan Untuk Konstipasi..
    Tampilkan
  2. Golongan: Antrakuinon
    Bagian Tanaman: Rimpang/akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi..
    Tampilkan
  3. Golongan: Antrakuinon
    Bagian Tanaman: Rimpang/akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Neuroprotektif..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Efek Samping Kelembak Jawa

Kelembak Jawa (Rheum emodi) adalah tanaman herbal yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama sebagai pencahar karena kandungan senyawa antrakuinon seperti emodin dan rein di dalamnya. Namun, konsumsi tanaman ini, terutama dalam jangka panjang atau dosis berlebihan, dapat memicu berbagai efek samping gastrointestinal yang signifikan. Beberapa efek samping yang umum dilaporkan meliputi kram perut yang parah, mual, muntah, serta diare osmotik yang dapat berujung pada dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, khususnya hipokalemia (penurunan kadar kalium dalam darah) yang sangat berbahaya bagi fungsi jantung dan otot.

Baca Semua Efek Samping

VI. FAQ Kelembak Jawa

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Kelembak Jawa.

Apa kandungan fitokimia utama Kelembak Jawa (Rheum emodi)?
Kelembak Jawa mengandung antrakinon glikosida seperti emodin, rhein, aloe-emodin, dan krisofanol, serta polifenol dan tanin. Kandungan ini tercatat dalam The Ayurvedic Pharmacopoeia of India. Efek laksatif terutama terjadi setelah antrakinon diubah menjadi aglikon aktif oleh mikrobiota usus besar, seperti dijelaskan dalam Herbal Medicines (Barnes et al., 2007).
Bagaimana cara dan dosis konsumsi Kelembak Jawa yang dianjurkan?
Bagian yang digunakan adalah rimpang kering, dapat dibuat dekokta atau seduhan. Dosis laksatif tradisional berdasarkan The Ayurvedic Pharmacopoeia of India adalah sekitar 1–3 gram serbuk rimpang per hari. Sebaiknya diminum pada malam hari karena efek pencahar umumnya muncul 6–10 jam kemudian, dan gunakan dosis terendah dalam waktu sesingkat mungkin.
Apakah Kelembak Jawa boleh dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang?
Tidak disarankan. Laksatif antrakinon seperti Kelembak Jawa hanya boleh digunakan untuk sembelit dalam jangka pendek, biasanya tidak lebih dari 1–2 minggu. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan melanosis coli, hipokalemia, dan ketergantungan laksatif; hal ini dinyatakan dalam WHO Monographs on Selected Medicinal Plants.
Apakah Kelembak Jawa aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Tidak dianjurkan. Laksatif antrakinon dapat merangsang peristaltik usus dan berisiko meningkatkan kontraksi pada otot polos, sehingga kehamilan dan menyusui merupakan kontraindikasi menurut WHO Monographs on Selected Medicinal Plants. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya memilih laksatif yang lebih aman setelah berkonsultasi dengan dokter.
Bolehkah Kelembak Jawa diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak boleh tanpa pengawasan dokter. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants tidak merekomendasikan laksatif antrakinon pada anak di bawah usia 12 tahun. Anak-anak lebih rentan terhadap dehidrasi, kolik, dan gangguan elektrolit akibat diare yang ditimbulkan oleh senyawa antrakinon.
Apa efek samping yang perlu diwaspadai saat mengonsumsi Kelembak Jawa?
Efek samping yang umum meliputi kram perut, diare, dan perubahan warna urine menjadi kuning atau merah karena metabolit antrakinon. Pemakaian terlalu lama dapat menyebabkan kehilangan kalium, gangguan elektrolit, dan melanosis coli; seperti diingatkan dalam Herbal Medicines (Barnes et al., 2007). Jika terjadi nyeri perut hebat, hentikan penggunaan dan segera periksakan diri.
Apakah Kelembak Jawa dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu?
Ya. Karena mempercepat gerakan usus, Kelembak Jawa dapat mengurangi penyerapan obat yang diminum bersamaan. Penggunaan dengan diuretik atau kortikosteroid dapat memperparah hipokalemia, dan hipokalemia dapat meningkatkan risiko toksisitas digoxin; interaksi ini dijelaskan dalam Herbal Medicines (Barnes et al., 2007).
Selain sebagai pencahar, apakah Kelembak Jawa memiliki manfaat kesehatan lain?
Penelitian fitokimia dan farmakologi menunjukkan bahwa emodin serta antrakinon lain dalam Rheum emodi memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antiproliferatif pada studi laboratorium, mekanismenya diulas dalam Srinivas et al. (2007). Namun bukti klinis pada manusia masih sangat terbatas, sehingga tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Kembang Sungsang

Gloriosa superba

Sangkakala

Aristolochia elegans

Cari: