Advertisement
Asam Kandis (Garcinia cowa) adalah tumbuhan buah tropis dari famili Clusiaceae yang banyak tumbuh di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India bagian timur. Pohonnya dapat mencapai tinggi 10–30 meter dengan tajuk rimbun, daun hijau mengilap berbentuk jorong, serta batang yang mengeluarkan getah kuning apabila dilukai. Buahnya berbentuk bulat dengan kulit tipis berwarna kuning hingga oranye saat matang, memiliki daging buah asam yang khas, serta mengandung biji pipih. Secara botani, Garcinia cowa sering disamakan dengan asam gelugur, namun ukuran buah dan tingkat keasamannya berbeda; asam kandis cenderung lebih kecil dan lebih masam.
8 Manfaat Asam Kandis untuk kesehatan.
Senyawa xanton dalam kulit buah mendonorkan atom hidrogen untuk menetralkan radikal bebas (DPPH, ABTS, peroksil) serta menghambat peroksidasi lipid. Pada jalur intraseluler, xanton juga dapat mengaktifkan faktor transkripsi Nrf2/ARE sehingga meningkatkan ekspresi enzim antioksidan endogen seperti SOD dan katalase.
Xanton terprenilasi dalam Garcinia cowa menghambat produksi nitrit oksida (NO) dan prostaglandin E2 pada makrofag dengan menurunkan ekspresi iNOS dan COX-2. Jalur yang terlibat meliputi inhibisi fosforilasi NF-κB dan MAPK, sehingga pelepasan sitokin pro-inflamasi berkurang.
Xanton berinteraksi dengan membran lipid bakteri, meningkatkan permeabilitas membran, mengganggu integritas sel, serta menghambat pembentukan biofilm. Pada jamur, xanton juga dapat mengganggu biosintesis ergosterol pada membran sel.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Asam Kandis.
Asam Kandis (Garcinia cowa) adalah tanaman yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional dan kuliner, namun konsumsinya tidak luput dari potensi efek samping, terutama bila dikonsumsi dalam bentuk ekstrak dengan dosis tinggi. Senyawa aktif seperti asam sitrat, flavonoid, dan xanthone yang terkandung di dalamnya dapat memicu iritasi pada mukosa lambung jika dikonsumsi secara berlebihan, yang berujung pada gejala gastrointestinal seperti mual, kram perut, dan diare ringan. Selain itu, beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa konsumsi metabolit sekunder dari genus Garcinia dalam jangka panjang dapat memberikan beban tambahan pada organ hati dan ginjal, meskipun kasus toksisitas berat pada manusia masih memerlukan investigasi klinis lebih lanjut.