Temulawak untuk Stroke

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Stroke, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Neuroprotektif Xanthorrhizol dari Temulawak terhadap Cedera Iskemia-Reperfusi Serebral pada Tikus

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental pada Hewan
    Sampel:
    40 tikus Sprague-Dawley jantan dewasa (250-300 g) yang menjalani oklusi arteri serebri media
    Dosis/Durasi:
    Xanthorrhizol 10 mg/kg BB intraperitoneal, diberikan 30 menit sebelum reperfusi dan dilanjutkan sekali sehari selama 7 hari
    Temuan:
    Pemberian xanthorrhizol secara signifikan mengurangi volume infark serebral dan memperbaiki skor neurologis. Efek ini dimediasi oleh penekanan stres oksidatif dan inflamasi melalui aktivasi jalur Nrf2.
  2. Suplementasi Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Meningkatkan Fungsi Kognitif pada Pasien Pasca Stroke Ringan: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak)
    Sampel:
    60 pasien pasca stroke iskemik ringan (skor NIHSS ≤5), berusia 45-70 tahun, dibagi menjadi kelompok temulawak dan plasebo
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak temulawak standar 500 mg (mengandung 20 mg kurkumin dan 15 mg xanthorrhizol) dua kali sehari selama 12 minggu
    Temuan:
    Setelah 12 minggu, kelompok temulawak menunjukkan peningkatan signifikan pada skor Montreal Cognitive Assessment (MoCA) dibandingkan plasebo. Kadar TNF-α dan IL-6 plasma juga menurun secara bermakna.
  3. Efek Kurkuminoid terhadap Luaran Stroke: Meta-Analisis Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    7 uji klinis acak dengan total 682 pasien stroke iskemik (data digabung dari berbagai negara)
    Dosis/Durasi:
    Dosis kurkuminoid bervariasi antara 80-500 mg/hari selama 4-24 minggu
    Temuan:
    Suplementasi kurkuminoid (termasuk dari temulawak) secara signifikan meningkatkan skor fungsional (Barthel Index) dan menurunkan kadar CRP. Namun, tidak ada efek signifikan pada mortalitas.
  4. Peran Antiinflamasi dan Antioksidan Temulawak dalam Neuroproteksi Stroke: Systematic Review

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    23 studi (16 studi hewan, 5 studi in vitro, 2 studi manusia) yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Tidak dirangkum karena variasi dosis, rentang dosis ekstrak 50-500 mg/kg BB pada hewan dan 300-1000 mg/hari pada manusia
    Temuan:
    Temulawak dan senyawa aktifnya (xanthorrhizol, kurkumin) menunjukkan efek neuroprotektif melalui penghambatan NF-κB, penurunan sitokin proinflamasi, dan peningkatan enzim antioksidan. Efek ini konsisten pada berbagai model stroke.
  5. Mekanisme Molekuler Xanthorrhizol dalam Menghambat Apoptosis Neuron Akibat Stres Oksidatif pada Sel SH-SY5Y

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Kultur sel neuroblastoma SH-SY5Y yang terpapar H2O2 (300 µM) sebagai model stres oksidatif
    Dosis/Durasi:
    Xanthorrhizol 5, 10, dan 20 µM diberikan 1 jam sebelum paparan H2O2, diamati selama 24 jam
    Temuan:
    Xanthorrhizol dosis 5-20 µM secara signifikan mengurangi kematian sel dan fragmentasi DNA. Efek ini terkait dengan aktivasi jalur PI3K/Akt dan peningkatan ekspresi Bcl-2.
  6. Pengaruh Pemberian Ekstrak Temulawak terhadap Kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) pada Pasien Stroke Iskemik Fase Subakut

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Uji Klinis Quasi-Eksperimental
    Sampel:
    30 pasien stroke iskemik fase subakut (2-4 minggu pasca onset) di Rumah Sakit Sardjito, dibagi dua kelompok
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak temulawak 500 mg (standar 2% kurkumin) tiga kali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Kelompok yang mendapat ekstrak temulawak menunjukkan peningkatan kadar BDNF serum yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol setelah 4 minggu. Terdapat korelasi positif antara peningkatan BDNF dan perbaikan skor Fugl-Meyer.


Cari: