Cengkeh untuk Sinusitis

Cengkeh (Syzygium aromaticum) untuk Sinusitis, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap Bakteri Penyebab Sinusitis Kronis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    10 isolat klinis bakteri (Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi minyak atsiri 0,1%–2% v/v; inkubasi 24 jam pada suhu 37°C
    Temuan:
    Minyak atsiri cengkeh menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap seluruh isolat dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) antara 0,25% hingga 1% v/v. Efek bakterisidal tertinggi terlihat pada S. aureus dan H. influenzae.
  2. Efektivitas Semprot Hidung Ekstrak Cengkeh terhadap Gejala Rinosinusitis Kronis: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak Terkontrol)
    Sampel:
    60 pasien rinosinusitis kronis (30 kelompok intervensi, 30 kelompok plasebo)
    Dosis/Durasi:
    2 semprot (0,5 mL) per lubang hidung, 2 kali sehari, selama 4 minggu
    Temuan:
    Semprot hidung ekstrak cengkeh (konsentrasi 5%) selama 4 minggu secara signifikan mengurangi skor gejala hidung tersumbat, nyeri wajah, dan sekret purulen dibandingkan plasebo (p<0,01). Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  3. Efek Anti-Inflamasi Eugenol pada Model Tikus Sinusitis Akut yang Diinduksi Lipopolisakarida

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental pada Hewan
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan, dibagi 5 kelompok (kontrol, dosis eugenol 25, 50, 100 mg/kgBB, dan deksametason)
    Dosis/Durasi:
    Eugenol 25, 50, 100 mg/kgBB intraperitoneal sekali sehari selama 7 hari
    Temuan:
    Eugenol dosis 50 mg/kgBB menurunkan kadar TNF-α dan IL-6 secara signifikan serta mengurangi infiltrasi neutrofil pada mukosa sinus. Efek anti-inflamasi sebanding dengan deksametason tanpa efek imunosupresif.
  4. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat dengan Aktivitas Anti-Sinusitis: Peran Cengkeh dan Komponen Aktifnya

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi in vitro, in vivo, dan klinis yang memenuhi kriteria inklusi (2010–2022)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi: ekstrak etanol 5-10%, minyak atsiri 0,5-2% untuk topikal; eugenol 25-100 mg/kgBB pada hewan
    Temuan:
    Cengkeh (Syzygium aromaticum) dan senyawa utamanya eugenol menunjukkan konsistensi efek antibakteri terhadap patogen sinusitis serta aktivitas anti-inflamasi melalui penghambatan jalur NF-κB. Namun, uji klinis masih terbatas dan memerlukan standarisasi dosis.
  5. Meta-Analisis Efektivitas Terapi Herbal Topikal pada Sinusitis Kronis: Fokus pada Cengkeh dan Kayu Manis

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 uji klinis acak terkontrol dengan total 620 pasien (4 studi menggunakan cengkeh, 4 studi menggunakan kayu manis sebagai pembanding)
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata dosis: semprot hidung ekstrak cengkeh 5% atau minyak atsiri 1% selama 2-6 minggu
    Temuan:
    Terapi herbal topikal yang mengandung cengkeh secara signifikan memperbaiki skor gejala sinusitis (SMD = -0.85; 95% CI -1.12 hingga -0.58) dan mengurangi penggunaan antibiotik dibandingkan plasebo. Heterogenitas sedang (I²=45%).
  6. Formulasi Nanoemulsi Minyak Cengkeh sebagai Alternatif Terapi Sinusitis: Uji Iritasi dan Efektivitas pada Mukosa Hidung Tikus

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    20 tikus Sprague-Dawley yang diinduksi sinusitis dengan Staphylococcus aureus
    Dosis/Durasi:
    Aplikasi intranasal 0,1 mL nanoemulsi (setara 1% minyak cengkeh) setiap 12 jam selama 7 hari
    Temuan:
    Nanoemulsi minyak cengkeh (ukuran partikel 150 nm) menunjukkan penetrasi mukosa yang lebih baik dan mengurangi koloni bakteri hingga 99,9% setelah 7 hari. Tidak ditemukan iritasi atau toksisitas sistemik.


Cari: