Temulawak untuk Sinusitis

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Sinusitis, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Pengaruh Suplementasi Ekstrak Temulawak terhadap Gejala Sinusitis Akut pada Dewasa: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    60 pasien sinusitis akut dewasa (usia 18–60 tahun), dibagi menjadi kelompok ekstrak temulawak dan plasebo
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak etanol temulawak (standar 1% xanthorrhizol) tiga kali sehari selama 14 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak temulawak selama 14 hari secara signifikan mengurangi skor gejala hidung tersumbat dan nyeri wajah dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  2. Efek Antiinflamasi Xanthorrhizol pada Model Tikus Sinusitis Kronis

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan yang diinduksi sinusitis kronis dengan S. aureus, dibagi menjadi 3 kelompok dosis
    Dosis/Durasi:
    Xanthorrhizol 25, 50, dan 100 mg/kgBB secara oral sekali sehari selama 21 hari
    Temuan:
    Xanthorrhizol dosis 50 mg/kgBB menurunkan kadar TNF-α dan IL-6 di mukosa sinus secara signifikan. Histologi menunjukkan berkurangnya infiltrasi neutrofil dan edema mukosa.
  3. Tinjauan Sistematis Herbal Indonesia untuk Sinusitis: Fokus pada Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    12 studi (in vitro, in vivo, dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi setelah skrining 247 artikel
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi; rentang dosis ekstrak 200–1500 mg/hari selama 7–28 hari
    Temuan:
    Bukti awal menunjukkan temulawak memiliki efek antiinflamasi dan antimikroba yang relevan untuk sinusitis, namun kualitas studi masih rendah dan diperlukan RCT lebih besar. Xanthorrhizol diidentifikasi sebagai senyawa aktif utama.
  4. Meta-Analisis Efek Kurkuminoid pada Inflamasi Saluran Napas Atas: Implikasi untuk Sinusitis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi terkontrol (total 720 partisipan) yang mengevaluasi kurkuminoid (termasuk dari temulawak) pada rinosinusitis dan rhinitis
    Dosis/Durasi:
    Rentang dosis kurkuminoid 300–1000 mg/hari selama 2–8 minggu
    Temuan:
    Suplementasi kurkuminoid secara signifikan menurunkan skor gejala total (SMD -0.68, 95% CI -1.02 hingga -0.34) dan penanda inflamasi CRP. Efek lebih kuat pada dosis ≥500 mg/hari dan durasi ≥4 minggu.
  5. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Temulawak terhadap Bakteri Penyebab Sinusitis (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis)

    Tahun:
    2017
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Isolat klinis dari 3 spesies bakteri (masing-masing 10 isolat) dari pasien sinusitis
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 31.25–1000 µg/mL dalam medium cair; inkubasi 24 jam
    Temuan:
    Ekstrak temulawak menunjukkan aktivitas bakterisidal terhadap S. pneumoniae dan M. catarrhalis dengan MIC 125–250 µg/mL, namun kurang efektif terhadap H. influenzae. Efek sinergis terlihat dengan amoksisilin.
  6. Kombinasi Ekstrak Temulawak dan Antibiotik pada Sinusitis Bakterial Akut: Uji Terbuka

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Uji Klinis Non-Randomized
    Sampel:
    40 pasien sinusitis bakterial akut (usia 20–50 tahun) yang mendapat amoksisilin-klavulanat, dibagi menjadi kelompok dengan dan tanpa tambahan temulawak
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak temulawak 600 mg dua kali sehari selama 10 hari (bersama amoksisilin-klavulanat 875/125 mg dua kali sehari)
    Temuan:
    Penambahan ekstrak temulawak mempercepat resolusi gejala (rata-rata 5,2 hari vs 7,1 hari) dan menurunkan kebutuhan analgesik. Tidak ada perbedaan signifikan dalam efek samping.


Cari: