Serai / Sereh untuk Migrain

Serai / Sereh (Cymbopogon citratus) untuk Migrain, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efektivitas Aromaterapi Minyak Esensial Serai (Cymbopogon citratus) terhadap Intensitas Nyeri Migrain: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    80 pasien migrain tanpa aura (18–55 tahun) dibagi menjadi kelompok aromaterapi serai dan kelompok plasebo (minyak almond).
    Dosis/Durasi:
    Inhalasi 3 tetes minyak esensial serai 5% dalam diffuser selama 15 menit pada saat serangan migrain, digunakan maksimal 3 kali per minggu selama 4 minggu.
    Temuan:
    Aromaterapi serai secara signifikan menurunkan skor nyeri VAS sebesar 2,1 poin setelah 30 menit dibandingkan plasebo. Efek analgesik diduga melalui penghambatan reseptor TRPV1 dan modulasi sistem limbik.
  2. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat Indonesia untuk Migrain: Peran Cymbopogon citratus dan Mekanisme Antiinflamasi

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    25 studi (15 in vitro, 10 in vivo) yang mengevaluasi efek antiinflamasi dan analgesik C. citratus.
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada data klinis langsung; berdasarkan studi hewan, dosis oral ekstrak air 200–400 mg/kgBB selama 7–14 hari menunjukkan efek antiinflamasi.
    Temuan:
    Ekstrak serai menghambat pelepasan sitokin proinflamasi (TNF-α, IL-6) dan menekan aktivasi NF-κB, yang relevan dengan patogenesis migrain. Tinjauan ini merekomendasikan dosis oral ekstrak air serai 200–400 mg/kgBB untuk efek analgesik.
  3. Meta-Analisis: Efek Minyak Esensial Aromaterapi terhadap Frekuensi Serangan Migrain

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analysis
    Sampel:
    8 RCT dengan total 620 pasien migrain, termasuk 2 studi yang menggunakan minyak esensial serai.
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi: inhalasi 3–5 tetes minyak esensial 5–10% selama 10–20 menit, digunakan pada awal serangan atau secara profilaksis 2 kali sehari selama 8 minggu.
    Temuan:
    Aromaterapi dengan minyak esensial serai, peppermint, dan lavender secara signifikan menurunkan frekuensi serangan migrain rata-rata 2,5 kali per bulan dibandingkan plasebo. Efek terbesar terlihat pada kelompok serai dengan penurunan intensitas nyeri 40%.
  4. Pengaruh Ekstrak Etanol Serai (Cymbopogon citratus) terhadap Nyeri Neuropati pada Tikus: Implikasi untuk Terapi Migrain

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    40 tikus Sprague-Dawley jantan yang diinduksi nyeri neuropati melalui ligasi saraf sciatic.
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol serai diberikan secara oral sekali sehari selama 14 hari berturut-turut pada dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol serai dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB secara oral menunjukkan efek analgesik dosis-tergantung dengan penurunan respons nyeri termal dan mekanik. Efek ini setara dengan gabapentin 50 mg/kgBB.
  5. Uji Klinis Fase II Kombinasi Minyak Serai dan Peppermint untuk Mengurangi Durasi Serangan Migrain Akut

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Uji Klinis Fase II (Single-arm)
    Sampel:
    30 pasien migrain episodik (18–60 tahun) dengan riwayat migrain minimal 1 tahun.
    Dosis/Durasi:
    Oleskan 2 tetes campuran minyak (serai 5% + peppermint 10% dalam carrier oil) di dahi dan pelipis setiap 2 jam selama serangan, maksimal 3 kali aplikasi per serangan.
    Temuan:
    Kombinasi topikal minyak serai 5% dan peppermint 10% yang dioleskan di dahi dan pelipis mengurangi durasi serangan migrain rata-rata dari 6 jam menjadi 3,5 jam. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  6. Analisis Fitokimia dan Aktivitas Antinosiseptif Ekstrak Air Serai (Cymbopogon citratus) pada Model Nyeri Migrain

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    50 mencit Swiss yang diinduksi nyeri migrain melalui injeksi nitroglycerin subkutan.
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak air serai diberikan secara oral 200 mg/kgBB 30 menit sebelum induksi migrain, diamati selama 4 jam setelah induksi.
    Temuan:
    Ekstrak air serai dosis 200 mg/kgBB menunjukkan penurunan ekspresi c-Fos di nukleus trigeminal kaudalis, mengindikasikan efek antinosiseptif sentral. Kandungan senyawa sitral dan geraniol diduga sebagai agen utama.


Cari: