Jahe untuk Migrain

Jahe (Zingiber officinale) untuk Migrain, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Perbandingan Efek Jahe dengan Sumatriptan pada Pengobatan Serangan Migrain Akut

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol Ganda (RCT)
    Sampel:
    100 pasien migrain dengan aura atau tanpa aura (diagnosis IHS)
    Dosis/Durasi:
    250 mg bubuk jahe (setara 2 g jahe segar) diminum saat onset serangan, dibandingkan dengan sumatriptan 50 mg; dosis tunggal.
    Temuan:
    Jahe (250 mg bubuk) sama efektifnya dengan sumatriptan 50 mg dalam mengurangi nyeri migrain dalam 2 jam, dengan efek samping yang lebih sedikit dan lebih ringan.
  2. Efektivitas Kombinasi Jahe dan Feverfew Sublingual dalam Pengobatan Migrain Akut

    Tahun:
    2011
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo Ganda (RCT)
    Sampel:
    30 pasien migrain dengan atau tanpa aura
    Dosis/Durasi:
    Sediaan sublingual mengandung feverfew 18,75 mg dan jahe 2,5 mg; diminum saat onset serangan, diulang setelah 2 jam jika perlu (maks 2 dosis per serangan).
    Temuan:
    Kombinasi sublingual feverfew 18,75 mg dan jahe 2,5 mg lebih efektif daripada plasebo dalam mengurangi nyeri dan gejala terkait migrain dalam 2 jam setelah dosis pertama.
  3. Efek Jahe pada Profilaksis Migrain: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo (RCT)
    Sampel:
    80 pasien migrain tanpa aura (usia 18–60 tahun)
    Dosis/Durasi:
    500 mg bubuk jahe dua kali sehari (total 1 g/hari) selama 3 bulan.
    Temuan:
    Suplementasi jahe 1 g/hari selama 3 bulan secara signifikan mengurangi frekuensi, durasi, dan keparahan serangan migrain dibandingkan plasebo.
  4. Efektivitas Jahe dalam Pengobatan Migrain: Meta-Analisis Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    5 uji klinis acak dengan total 357 pasien migrain
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi antar studi (250–500 mg bubuk jahe); durasi pengamatan umumnya 2–4 jam untuk serangan akut.
    Temuan:
    Jahe secara signifikan mengurangi intensitas nyeri pada 2 jam setelah pengobatan dibandingkan plasebo, dan tidak berbeda signifikan dengan sumatriptan dalam hal efektivitas.
  5. Jahe sebagai Agen Anti-Migrain: Tinjauan Bukti Farmakologis dan Klinis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Tinjauan Naratif (Review)
    Sampel:
    Tidak berlaku (studi review)
    Dosis/Durasi:
    Tidak spesifik; studi klinis menggunakan dosis 250–1000 mg bubuk jahe per hari.
    Temuan:
    Jahe memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, dan penghambat serotonin yang mendukung potensinya dalam tatalaksana migrain baik akut maupun profilaksis.
  6. Efek Jahe pada Migrain: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo Ganda

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo Ganda (RCT)
    Sampel:
    70 pasien migrain (usia 20–50 tahun)
    Dosis/Durasi:
    250 mg bubuk jahe dua kali sehari (total 500 mg/hari) selama 1 bulan.
    Temuan:
    Suplementasi jahe 500 mg/hari selama 1 bulan secara signifikan menurunkan frekuensi dan durasi serangan migrain serta kebutuhan obat darurat.


Cari: