Sambiloto untuk Maag

Sambiloto (Andrographis paniculata) untuk Maag, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Gastroprotektif Ekstrak Etanol Andrographis paniculata pada Tikus yang Diinduksi Etanol

    Tahun:
    2010
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi 5 kelompok (kontrol, kontrol negatif, tiga dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    100, 200, 400 mg/kg BB per oral sekali sehari selama 7 hari; induksi ulkus dengan etanol 70% pada hari ke-7
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg BB secara signifikan menurunkan indeks ulkus dan meningkatkan kadar mukus lambung dibandingkan kontrol negatif. Efek gastroprotektif diduga terkait dengan peningkatan produksi prostaglandin dan aktivitas antioksidan.
  2. Aktivitas Anti-Helicobacter pylori dari Andrographis paniculata dan Andrografolid

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    Studi in vitro
    Sampel:
    Isolat klinis H. pylori (n=12) dan strain referensi ATCC 43504
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi serial 7,8–500 µg/mL; inkubasi 48 jam pada kondisi mikroaerofilik
    Temuan:
    Ekstrak metanol sambiloto dan senyawa andrografolid menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap H. pylori dengan MIC 31,25–125 µg/mL. Andrografolid juga menghambat pertumbuhan biofilm H. pylori secara signifikan.
  3. Uji Klinis Ekstrak Andrographis paniculata pada Pasien Dispepsia Fungsional: Sebuah Studi Awal

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Uji klinis acak tersamar ganda (RCT)
    Sampel:
    40 pasien dispepsia fungsional (kriteria Rome IV), usia 18–65 tahun
    Dosis/Durasi:
    600 mg ekstrak standar (setara 5 mg andrografolid) per oral dua kali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak sambiloto 600 mg/hari selama 4 minggu secara signifikan menurunkan skor gejala dispepsia (nyeri epigastrium, kembung, rasa penuh) dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  4. Mekanisme Antiulkus Andrografolid pada Tikus: Peran Jalur COX-2 dan TNF-α

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    36 tikus Wistar jantan, diinduksi ulkus dengan indometasin
    Dosis/Durasi:
    5, 10, 20 mg/kg BB andrografolid intraperitoneal selama 5 hari sebelum induksi ulkus
    Temuan:
    Andrografolid dosis 10 mg/kg BB secara signifikan mengurangi luas ulkus lambung dan menurunkan ekspresi COX-2 serta TNF-α di mukosa lambung. Efeknya setara dengan omeprazol 20 mg/kg.
  5. Systematic Review: Efektivitas Tanaman Herbal sebagai Terapi Tambahan pada Gastritis dan Ulkus Peptikum

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    23 studi (in vivo, in vitro, dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi; termasuk 3 studi spesifik sambiloto
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi; rentang dosis ekstrak 100–600 mg/hari selama 1–8 minggu
    Temuan:
    Sambiloto (Andrographis paniculata) menunjukkan bukti kuat sebagai agen gastroprotektif melalui mekanisme antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri terhadap H. pylori. Namun, uji klinis pada manusia masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
  6. Meta-Analisis Pengaruh Andrographis paniculata terhadap Parameter Oksidatif pada Model Ulkus Lambung

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi hewan (total 240 tikus) yang mengukur malondialdehida (MDA) dan superoksida dismutase (SOD)
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata dosis ekstrak 200 mg/kg BB selama 5–14 hari
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan pemberian sambiloto secara signifikan menurunkan kadar MDA (SMD = -1,23; 95% CI -1,89 hingga -0,57) dan meningkatkan aktivitas SOD (SMD = 1,41; 95% CI 0,76–2,06) pada mukosa lambung tikus yang diinduksi ulkus. Hal ini mengonfirmasi efek antioksidan sebagai mekanisme utama gastroproteksi.


Cari: