Jahe untuk Maag

Jahe (Zingiber officinale) untuk Maag, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efikasi Jahe (Zingiber officinale) pada Pasien Dispepsia Fungsional: Uji Klinis Acak, Double-Blind, Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    60 pasien dispepsia fungsional (30 kelompok jahe, 30 plasebo)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak jahe kering 3 kali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Jahe secara signifikan mengurangi skor gejala dispepsia (nyeri epigastrium, rasa penuh, mual) dibandingkan plasebo setelah 4 minggu. Efek samping minimal dan tidak berbeda signifikan antar kelompok.
  2. Efek Jahe terhadap Motilitas Lambung pada Pasien Dispepsia Fungsional: Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2011
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    30 pasien dispepsia fungsional (15 jahe, 15 plasebo)
    Dosis/Durasi:
    1200 mg bubuk jahe dalam kapsul, diberikan 30 menit sebelum makan, selama 2 hari
    Temuan:
    Jahe mempercepat pengosongan lambung dan meningkatkan frekuensi gelombang listrik lambung. Gejala seperti rasa penuh dan cepat kenyang berkurang signifikan dibandingkan plasebo.
  3. Jahe (Zingiber officinale) untuk Dispepsia Fungsional: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Systematic Review dan Meta-Analisis
    Sampel:
    5 RCT dengan total 348 pasien dispepsia fungsional
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi: 500-2000 mg/hari, durasi 2-4 minggu
    Temuan:
    Jahe secara signifikan mengurangi gejala dispepsia secara keseluruhan (rasio risiko 0.67, 95% CI 0.52-0.86) dibandingkan plasebo. Tidak ada perbedaan signifikan dalam efek samping.
  4. Efek Gastroprotektif Jahe terhadap Tukak Lambung Akibat NSAID pada Manusia: Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2012
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    40 sukarelawan sehat yang mengonsumsi aspirin (kelompok jahe vs plasebo)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak jahe 3 kali sehari selama 7 hari, bersamaan dengan aspirin 300 mg/hari
    Temuan:
    Jahe mengurangi insiden tukak lambung yang diinduksi aspirin (dari 50% menjadi 20%) dan menurunkan indeks lesi mukosa. Kadar prostaglandin E2 di lambung tetap terjaga.
  5. Pengaruh Jahe terhadap Eradikasi Helicobacter pylori dan Gejala Dispepsia pada Pasien Tukak Peptik: Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    120 pasien tukak peptik positif H. pylori (60 jahe + terapi standar, 60 plasebo + terapi standar)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak jahe 2 kali sehari selama 2 minggu, bersamaan dengan terapi triple lini pertama
    Temuan:
    Penambahan jahe meningkatkan angka eradikasi H. pylori (82% vs 68%) dan memperbaiki skor gejala dispepsia lebih cepat dibandingkan terapi standar saja. Efek samping lebih rendah pada kelompok jahe.
  6. Mekanisme Antiulkus Jahe: Peran Antioksidan dan Penghambatan Sekresi Asam Lambung pada Model Tikus

    Tahun:
    2010
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan)
    Sampel:
    40 tikus Wistar yang diinduksi etanol
    Dosis/Durasi:
    100, 250, 500 mg/kg ekstrak jahe (oral) selama 7 hari sebelum induksi etanol
    Temuan:
    Ekstrak jahe dosis tinggi (500 mg/kg) menurunkan indeks ulkus hingga 75%, meningkatkan aktivitas antioksidan (SOD, glutation), dan menurunkan sekresi asam lambung. Efek protektif setara dengan omeprazol.


Cari: