Kunyit untuk Hipertensi

Kunyit (Curcuma longa) untuk Hipertensi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Kurkumin terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi: Sebuah Meta-Analisis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    10 studi acak terkontrol (RCT) dengan total 587 partisipan dewasa dengan hipertensi derajat 1 dan 2
    Dosis/Durasi:
    Dosis kurkumin 100–1000 mg/hari (ekstrak kunyit standar 95% kurkuminoid) selama 4–24 minggu
    Temuan:
    Suplementasi kurkumin secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik (SBP) rata-rata 4,5 mmHg dan tekanan darah diastolik (DBP) rata-rata 2,8 mmHg dibandingkan plasebo. Efek lebih besar terlihat pada pasien dengan dosis ≥500 mg/hari dan durasi ≥12 minggu.
  2. Pengaruh Ekstrak Kunyit (Curcuma longa) terhadap Profil Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Ringan: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak)
    Sampel:
    64 pasien hipertensi ringan (SBP 130–139 mmHg, DBP 85–89 mmHg) berusia 35–60 tahun, tidak dalam terapi antihipertensi
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak kunyit (mengandung 500 mg kurkuminoid) dua kali sehari (total 1000 mg kurkuminoid/hari) selama 12 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak kunyit selama 12 minggu menurunkan SBP sebesar 5,2 mmHg dan DBP sebesar 3,1 mmHg secara signifikan dibandingkan plasebo. Tidak ada perubahan signifikan pada fungsi hati atau ginjal.
  3. Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis: Peran Kurkumin dalam Mengontrol Tekanan Darah pada Populasi Metabolik

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review dan Meta-Analisis
    Sampel:
    18 studi (termasuk 12 RCT) dengan total 1.204 subjek, sebagian besar memiliki sindrom metabolik atau hipertensi
    Dosis/Durasi:
    Dosis kurkumin 80–1500 mg/hari (mayoritas 500–1000 mg/hari) selama 4–24 minggu
    Temuan:
    Kurkumin secara konsisten menurunkan SBP (rata-rata -3,8 mmHg) dan DBP (rata-rata -2,1 mmHg), dengan efek yang lebih nyata pada dosis di atas 500 mg/hari dan pada subjek dengan tekanan darah baseline lebih tinggi.
  4. Suplementasi Kurkumin sebagai Terapi Tambahan pada Pasien Hipertensi yang Mendapat Obat Antihipertensi: Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak)
    Sampel:
    48 pasien hipertensi derajat 1 dan 2 yang sudah mendapat terapi lisinopril atau amlodipin, berusia 40–70 tahun
    Dosis/Durasi:
    Kurkumin 500 mg/hari (dalam bentuk kurkuminoid terstandar 95%) selama 8 minggu, bersamaan dengan obat antihipertensi
    Temuan:
    Penambahan kurkumin 500 mg/hari selama 8 minggu secara signifikan menurunkan SBP (rata-rata -6,4 mmHg) dan DBP (rata-rata -3,7 mmHg) dibandingkan plasebo. Kadar NO plasma meningkat, menunjukkan efek vasodilatasi.
  5. Pengaruh Nanokurkumin terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak)
    Sampel:
    76 pasien hipertensi derajat 1 (SBP 140–159 mmHg, DBP 90–99 mmHg) tanpa komorbiditas berat, usia 30–65 tahun
    Dosis/Durasi:
    Nanokurkumin 200 mg/hari (setara kurkumin) dalam bentuk kapsul, diminum setelah makan, selama 12 minggu
    Temuan:
    Nanokurkumin (dosis setara 200 mg kurkumin/hari) selama 12 minggu menurunkan SBP rata-rata 7,1 mmHg dan DBP rata-rata 4,5 mmHg. Penyerapan yang lebih baik menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan kurkumin biasa.
  6. Kurkumin Meningkatkan Fungsi Endotel dan Menurunkan Tekanan Darah pada Pasien Prehipertensi: Studi Pilot

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Pilot (Quasi-Experimental)
    Sampel:
    30 subjek prehipertensi (SBP 120–139 mmHg, DBP 80–89 mmHg) berusia 25–50 tahun, tidak merokok dan tidak dalam pengobatan
    Dosis/Durasi:
    Kurkumin 300 mg/hari (dalam bentuk kurkuminoid) selama 8 minggu
    Temuan:
    Suplementasi kurkumin 300 mg/hari selama 8 minggu secara signifikan meningkatkan flow-mediated dilation (FMD) brachial sebesar 2,1% dan menurunkan SBP sebesar 3,4 mmHg. Efek ini berkorelasi dengan penurunan kadar malondialdehid (MDA) sebagai penanda stres oksidatif.


Cari: