Peppermint untuk Epilepsi

Peppermint (Mentha piperita) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antikonvulsan Minyak Esensial Peppermint (Mentha piperita) pada Tikus yang Diinduksi Kejang dengan Pentylenetetrazol

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 tikus jantan galur Wistar
    Dosis/Durasi:
    100 mg/kg minyak esensial peppermint (intraperitoneal) 30 menit sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Pemberian minyak esensial peppermint dosis 100 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan memperpendek durasi kejang pada model kejang pentylenetetrazol. Efek ini diduga melalui modulasi reseptor GABA-A.
  2. Pengaruh Ekstrak Daun Peppermint terhadap Aktivitas GABA dan Frekuensi Kejang pada Tikus Sprague-Dawley

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    24 tikus Sprague-Dawley jantan
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kg ekstrak etanol daun peppermint (oral) selama 7 hari berturut-turut
    Temuan:
    Ekstrak daun peppermint dosis 200 mg/kg meningkatkan kadar GABA di otak dan menurunkan frekuensi kejang pada model epilepsi kronik. Efek neuroprotektif terlihat pada histologi hipokampus.
  3. Meta-Analisis Efek Antikonvulsan Peppermint (Mentha piperita) pada Model Hewan

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi hewan (total 240 hewan coba)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi, dosis efektif 50-200 mg/kg (intraperitoneal atau oral) dengan durasi pemberian 1-14 hari
    Temuan:
    Peppermint secara keseluruhan menunjukkan efek antikonvulsan yang signifikan dengan ukuran efek besar (Hedge's g = 1.2, p<0.01). Dosis efektif berkisar antara 50-200 mg/kg tanpa efek toksik yang dilaporkan.
  4. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat Antiepilepsi: Peran Peppermint sebagai Terapi Adjuvan

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi (13 studi hewan, 2 studi klinis awal)
    Dosis/Durasi:
    Tidak spesifik; dosis pada studi hewan 50-400 mg/kg, studi manusia menggunakan aromaterapi 2-3 tetes/hari
    Temuan:
    Peppermint menunjukkan potensi sebagai terapi adjuvan untuk epilepsi melalui mekanisme GABAergik dan antioksidan. Namun, bukti dari uji klinis manusia masih sangat terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
  5. Uji Klinis Awal Aromaterapi Peppermint terhadap Frekuensi Kejang pada Pasien Epilepsi Refrakter

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Uji Klinis Pilot (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    20 pasien epilepsi refrakter (10 kelompok intervensi, 10 kontrol plasebo)
    Dosis/Durasi:
    Inhalasi 3 tetes minyak esensial peppermint (100%) 2 kali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Aromaterapi peppermint selama 4 minggu menurunkan frekuensi kejang rata-rata 30% dibandingkan plasebo (p=0.04). Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  6. Mekanisme Molekuler Menthol dari Peppermint dalam Modulasi Reseptor GABA-A pada Model Epilepsi

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi In Vitro dan In Vivo
    Sampel:
    Kultur sel neuron kortikal tikus dan 18 tikus jantan
    Dosis/Durasi:
    10 µM menthol pada sel; 50 mg/kg menthol (intraperitoneal) pada tikus, diberikan 20 menit sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Menthol berikatan dengan subunit β2 dari reseptor GABA-A, meningkatkan arus klorida dan inhibisi sinaptik. Pada tikus, menthol dosis 50 mg/kg mengurangi durasi kejang hingga 40%.


Cari: