Temulawak untuk Bronkitis

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Bronkitis, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) pada Model Tikus Bronkitis Akut

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Preklinis)
    Sampel:
    30 ekor tikus Wistar jantan, diinduksi lipopolisakarida (LPS) intratrakeal
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kgBB/hari per oral selama 7 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak temulawak dosis 200 mg/kgBB selama 7 hari menurunkan kadar TNF-α dan IL-6 secara signifikan, serta mengurangi infiltrasi neutrofil di jaringan paru. Ekstrak temulawak menunjukkan efek protektif terhadap peradangan saluran napas.
  2. Uji Klinis Pendahuluan Efektivitas Kapsul Temulawak sebagai Terapi Adjuvan pada Pasien Bronkitis Kronis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Uji Klinis (RCT Fase II)
    Sampel:
    60 pasien bronkitis kronis stabil, usia 40-70 tahun, dibagi kelompok temulawak dan plasebo
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak temulawak per hari (2 kapsul @250 mg) selama 4 minggu
    Temuan:
    Kelompok yang mendapat kapsul temulawak (500 mg/hari) selama 4 minggu mengalami perbaikan skor gejala batuk dan dahak yang lebih bermakna dibanding plasebo (p<0,05). Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  3. Mekanisme Molekuler Kurkuminoid Temulawak dalam Menghambat Inflamasi Saluran Napas: Studi In Vitro dan In Vivo

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Molekuler)
    Sampel:
    Sel epitel bronkus manusia (BEAS-2B) dan tikus model bronkitis (n=24)
    Dosis/Durasi:
    100 mg/kgBB/hari (ekstrak terstandar kurkuminoid 5%) per oral selama 5 hari (in vivo)
    Temuan:
    Kurkuminoid dari temulawak menghambat aktivasi NF-κB dan menurunkan ekspresi COX-2 pada sel epitel bronkus yang distimulasi LPS. Pada tikus, pemberian 100 mg/kgBB/hari selama 5 hari mengurangi edema dan mucus hipersekresi.
  4. Tinjauan Sistematis Efek Antioksidan dan Antiinflamasi Temulawak pada Penyakit Saluran Pernapasan

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi (preklinis dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (100-500 mg ekstrak/hari, durasi 5-28 hari)
    Temuan:
    Temulawak secara konsisten menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi pada model saluran napas, terutama melalui penghambatan sitokin proinflamasi. Namun, bukti klinis pada bronkitis masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut dengan desain RCT yang lebih ketat.
  5. Efektivitas Minyak Atsiri Temulawak dalam Mengurangi Gejala Bronkitis pada Pekerja Terpapar Polusi Udara: Studi Kuasi-Eksperimental

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Kuasi-Eksperimental
    Sampel:
    40 pekerja pabrik dengan gejala bronkitis ringan-sedang, dibagi kelompok intervensi dan kontrol
    Dosis/Durasi:
    Inhalasi minyak atsiri temulawak 3 tetes, 2 kali sehari selama 14 hari
    Temuan:
    Pemberian minyak atsiri temulawak (3 tetes inhalasi, 2 kali sehari) selama 2 minggu menurunkan frekuensi batuk dan sesak napas secara signifikan dibandingkan kontrol (p<0,01). Kadar malondialdehid (MDA) serum juga menurun.
  6. Meta-Analisis Pengaruh Tanaman Curcuma terhadap Parameter Inflamasi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronis dan Bronkitis

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi klinis (total 540 pasien) dari basis data PubMed, Scopus, dan Cochrane
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata dosis setara kurkumin 200-500 mg/hari selama 4-12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi Curcuma (termasuk C. xanthorrhiza) secara signifikan menurunkan kadar CRP dan TNF-α pada pasien bronkitis kronis dengan efek size -0.72 (95% CI -1.12 hingga -0.31). Tidak ada heterogenitas signifikan antar studi.


Cari: