Temulawak untuk Asma

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Asma, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek suplementasi kurkumin terhadap kontrol asma: meta-analisis studi acak terkontrol

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    7 studi dengan total 412 pasien asma
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi 500–1000 mg/hari selama 4–12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi kurkumin secara signifikan meningkatkan FEV1 dan mengurangi skor gejala asma. Efek ini konsisten pada berbagai dosis dan durasi pemberian.
  2. Pengaruh kurkumin terhadap inflamasi saluran napas pada pasien asma ringan-sedang

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial
    Sampel:
    48 pasien asma (24 kurkumin, 24 plasebo)
    Dosis/Durasi:
    500 mg kurkumin dua kali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Kelompok kurkumin menunjukkan penurunan kadar IgE dan eosinofil sputum, serta peningkatan FEV1 yang signifikan dibandingkan plasebo.
  3. Xanthorrhizol dari Curcuma xanthorrhiza menghambat inflamasi eosinofilik pada model asma mencit

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi Eksperimental in Vivo
    Sampel:
    30 mencit BALB/c yang diinduksi ovalbumin
    Dosis/Durasi:
    5–20 mg/kg berat badan per oral selama 14 hari
    Temuan:
    Xanthorrhizol menurunkan jumlah eosinofil di saluran napas dan kadar IL-5, serta mengurangi hiperresponsivitas bronkus secara dosis-tergantung.
  4. Potensi Curcuma xanthorrhiza sebagai agen anti-asma: tinjauan sistematis studi preklinis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    12 studi preklinis (in vitro dan in vivo)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi, tidak ada kesimpulan dosis optimal
    Temuan:
    Ekstrak temulawak dan senyawa aktifnya (xanthorrhizol, kurkumin) menunjukkan efek bronkodilator dan anti-inflamasi yang relevan untuk asma melalui penghambatan jalur NF-κB dan Th2.
  5. Efektivitas ekstrak temulawak terhadap fungsi paru dan kualitas hidup pasien asma persisten ringan

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial
    Sampel:
    60 pasien asma persisten ringan (30 ekstrak temulawak, 30 plasebo)
    Dosis/Durasi:
    250 mg ekstrak (standar 1% kurkumin) dua kali sehari selama 12 minggu
    Temuan:
    Ekstrak temulawak meningkatkan PEF dan skor kualitas hidup, serta menurunkan frekuensi penggunaan bronkodilator dibandingkan plasebo.
  6. Mekanisme anti-inflamasi xanthorrhizol pada sel epitel bronkus manusia yang diinduksi IL-13

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Sel epitel bronkus manusia (BEAS-2B)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 1–10 μM selama 24 jam
    Temuan:
    Xanthorrhizol menghambat aktivasi NF-κB dan produksi MUC5AC, serta menekan sekresi IL-8, menunjukkan potensi dalam mengurangi hipersekresi mukus pada asma.


Cari: