Sambiloto untuk Asma

Sambiloto (Andrographis paniculata) untuk Asma, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Meta-Analisis Efektivitas Andrographis paniculata (Sambiloto) terhadap Perbaikan Fungsi Paru pada Pasien Asma

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi dengan total 1.250 pasien asma ringan hingga sedang (usia 18-65 tahun)
    Dosis/Durasi:
    300-600 mg ekstrak standar andrografolid 5% per hari selama 8-12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak Andrographis paniculata secara signifikan meningkatkan Volume Ekspirasi Paksa Detik Pertama (FEV1) dan menurunkan frekuensi serangan asma dibandingkan plasebo. Efek samping ringan seperti gangguan pencernaan dilaporkan pada 5% partisipan.
  2. Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo: Efek Ekstrak Sambiloto terhadap Kontrol Asma pada Pasien Asma Alergi

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    120 pasien asma alergi (dewasa 20-55 tahun) dengan IgE total tinggi
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak sambiloto 500 mg (setara 25 mg andrografolid) dua kali sehari selama 12 minggu
    Temuan:
    Kelompok yang menerima ekstrak sambiloto menunjukkan penurunan signifikan kadar IgE serum dan eosinofil darah, serta peningkatan skor kontrol asma (ACT) sebesar 2,5 poin dibandingkan plasebo. Tidak ada perbedaan signifikan dalam efek samping antar kelompok.
  3. Studi Eksperimental: Andrografolid Menekan Inflamasi Saluran Napas dan Hiperresponsivitas Bronkus pada Model Asma Mencit

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan)
    Sampel:
    40 mencit BALB/c jantan diinduksi ovalbumin (OVA) untuk menghasilkan model asma alergi
    Dosis/Durasi:
    Andrografolid 10, 20, atau 40 mg/kgBB/hari intraperitoneal selama 7 hari selama fase tantangan OVA
    Temuan:
    Pemberian andrografolid dosis 20 mg/kgBB secara intraperitoneal mengurangi infiltrasi eosinofil, kadar IL-4, IL-5, dan IL-13 di cairan lavage bronkoalveolar, serta menurunkan hiperresponsivitas bronkus terhadap metakolin. Temuan ini mendukung potensi anti-inflamasi sambiloto pada asma.
  4. Studi In Vitro dan In Vivo: Mekanisme Bronkodilator Ekstrak Sambiloto melalui Antagonisme Reseptor Histamin dan Penghambatan Kontraksi Otot Polos Trakea

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    Studi Eksperimental (In Vitro & Hewan)
    Sampel:
    Trakea marmut yang diisolasi (in vitro) dan 30 marmut jantan (in vivo) untuk uji bronkodilasi
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 70% diberikan oral 50-200 mg/kgBB pada marmut, dosis tunggal
    Temuan:
    Ekstrak etanol sambiloto (50-200 μg/mL) menghambat kontraksi trakea yang diinduksi histamin secara dosis-tergantung, setara dengan salbutamol. Pada model in vivo, ekstrak sambiloto (100 mg/kgBB oral) memperpanjang waktu laten dispnea akibat inhalasi aerosol histamin.
  5. Systematic Review: Andrographis paniculata sebagai Terapi Tambahan pada Asma: Tinjauan Sistematis Uji Klinis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    7 uji klinis acak terkontrol yang melibatkan 680 pasien asma (usia 18-60 tahun)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi: 300-1000 mg ekstrak per hari selama 4-16 minggu
    Temuan:
    Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa Andrographis paniculata sebagai tambahan terapi standar meningkatkan FEV1, menurunkan penggunaan obat pelega, dan memperbaiki kualitas hidup pasien asma. Namun, heterogenitas dosis dan durasi masih menjadi keterbatasan.
  6. Studi Observasional: Hubungan Konsumsi Sambiloto dengan Frekuensi Eksaserbasi dan Kadar FeNO pada Pasien Asma Dewasa

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Observasional (Kohort)
    Sampel:
    150 pasien asma dewasa (usia 25-50 tahun) yang mengonsumsi suplemen sambiloto secara rutin selama minimal 3 bulan
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata 500-1000 mg ekstrak sambiloto per hari selama 3-12 bulan
    Temuan:
    Pasien yang mengonsumsi sambiloto (≥500 mg/hari) memiliki risiko eksaserbasi 40% lebih rendah dan kadar fraksional oksida nitrat ekshalasi (FeNO) yang lebih rendah dibandingkan non-pengguna. Efek ini lebih nyata pada subkelompok asma eosinofilik.


Cari: