Temulawak untuk Asam Urat

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Asam Urat, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Pengaruh Ekstrak Etanol Temulawak terhadap Kadar Asam Urat dan Aktivitas Xantin Oksidase pada Tikus Hiperurisemia

    Tahun:
    2017
    Tipe:
    Studi Eksperimental
    Sampel:
    30 ekor tikus putih jantan galur Wistar, dibagi 5 kelompok (kontrol normal, kontrol hiperurisemia, dosis 100, 200, 400 mg/kgBB)
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB per oral selama 14 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak temulawak dosis 200 dan 400 mg/kgBB menurunkan kadar asam urat secara signifikan serta menghambat aktivitas xantin oksidase hati pada tikus hiperurisemia.
  2. Uji Klinis Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) pada Pasien Hiperurisemia: Studi Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial (RCT)
    Sampel:
    64 pasien hiperurisemia (asam urat >7 mg/dL pria, >6 mg/dL wanita), usia 30–65 tahun
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak (setara 10 g rimpang segar) per hari, 12 minggu
    Temuan:
    Ekstrak temulawak dosis 500 mg/hari selama 12 minggu menurunkan kadar asam urat serum rata-rata 1.8 mg/dL, lebih baik dibanding plasebo (0.3 mg/dL), tanpa efek samping serius.
  3. Tinjauan Sistematis Efek Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap Kadar Asam Urat

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi (in vitro, in vivo, dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi, dosis ekstrak 100–500 mg/hari, durasi 2–12 minggu
    Temuan:
    Sebagian besar studi menunjukkan efek penurunan asam urat melalui penghambatan xantin oksidase dan peningkatan ekskresi urat, namun kualitas studi masih perlu ditingkatkan.
  4. Meta-Analisis Pengaruh Curcuminoid (dari Curcuma longa dan Curcuma xanthorrhiza) terhadap Kadar Asam Urat pada Pasien Hiperurisemia

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 uji klinis acak dengan total 520 pasien hiperurisemia
    Dosis/Durasi:
    500–1500 mg curcuminoid per hari, 4–24 minggu
    Temuan:
    Suplementasi curcuminoid secara signifikan menurunkan kadar asam urat serum dibandingkan plasebo (selisih rata-rata -1.2 mg/dL, 95% CI -1.8 hingga -0.6) dengan heterogenitas sedang.
  5. Studi In Vitro Penghambatan Aktivitas Xantin Oksidase oleh Xanthorrhizol Isolat dari Temulawak

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Enzim xantin oksidase komersial (bovine milk), konsentrasi isolat 1–100 µM
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku (in vitro)
    Temuan:
    Xanthorrhizol menghambat xantin oksidase secara kompetitif dengan IC50 12.5 µM, lebih kuat dibanding allopurinol (IC50 25 µM) pada kondisi uji.
  6. Efek Protektif Ekstrak Temulawak terhadap Nefropati Hiperurisemia pada Tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental
    Sampel:
    40 ekor tikus Sprague-Dawley, diinduksi hiperurisemia dengan kalium oksonat, dibagi 4 kelompok
    Dosis/Durasi:
    300 mg/kgBB per oral, 28 hari
    Temuan:
    Ekstrak temulawak dosis 300 mg/kgBB mencegah kerusakan ginjal akibat hiperurisemia, ditandai penurunan ureum, kreatinin, dan perbaikan histologi ginjal.


Cari: