Sambiloto untuk Anemia

Sambiloto (Andrographis paniculata) untuk Anemia, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Etanol Sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap Parameter Hematologi pada Tikus Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Pra-Klinis)
    Sampel:
    30 ekor tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi menjadi 5 kelompok (kontrol normal, kontrol anemia, dan tiga dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kg BB/hari, diberikan secara oral selama 14 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol sambiloto dosis 200 mg/kg berat badan secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan hematokrit pada tikus anemia defisiensi besi. Efek ini sebanding dengan suplementasi besi standar.
  2. Pengaruh Pemberian Ekstrak Sambiloto sebagai Terapi Adjuvan pada Anemia Malaria

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol (RCT)
    Sampel:
    60 pasien dewasa dengan malaria falciparum tanpa komplikasi yang mengalami anemia ringan-sedang (Hb 8-11 g/dL)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak kering (setara 10 mg andrografolid)/hari selama 7 hari
    Temuan:
    Kelompok yang mendapat ekstrak sambiloto 500 mg/hari selama 7 hari sebagai adjuvan terapi antimalaria menunjukkan perbaikan kadar hemoglobin yang lebih cepat dan penurunan kadar TNF-α yang lebih besar dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  3. Meta-Analisis Efek Andrographis paniculata terhadap Kadar Hemoglobin pada Berbagai Kondisi Penyakit

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi (5 pra-klinis, 3 klinis) dengan total 320 subjek (manusia dan hewan)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (200-1000 mg/hari, 7-28 hari)
    Temuan:
    Suplementasi Andrographis paniculata secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin (effect size sedang, SMD 0.62, 95% CI 0.35-0.89), terutama pada kondisi anemia yang disertai inflamasi. Efek lebih nyata pada dosis ≥300 mg/hari dan durasi ≥14 hari.
  4. Aktivitas Eritropoietik Ekstrak Sambiloto pada Tikus Anemia Hemolitik yang Diinduksi Fenilhidrazin

    Tahun:
    2013
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Pra-Klinis)
    Sampel:
    24 ekor tikus Wistar jantan, dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, anemia, dan dua dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    100 dan 200 mg/kg BB/hari, diberikan secara oral selama 10 hari
    Temuan:
    Ekstrak etanol sambiloto dosis 100 dan 200 mg/kg meningkatkan jumlah retikulosit, hematokrit, dan kadar eritropoietin serum secara signifikan dibandingkan kontrol anemia. Efek ini mengindikasikan stimulasi eritropoiesis.
  5. Efek Suplementasi Sambiloto terhadap Kadar Hemoglobin dan Feritin pada Pasien Thalassemia β Mayor

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji Klinis Acak (RCT)
    Sampel:
    40 pasien thalassemia β mayor (usia 10-25 tahun) dengan kadar feritin >1000 ng/mL
    Dosis/Durasi:
    300 mg ekstrak kering (standar 5% andrografolid)/hari, 12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak sambiloto 300 mg/hari selama 12 minggu tidak meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan, tetapi menurunkan kadar feritin serum (p<0.05) dan mengurangi kebutuhan transfusi pada sebagian pasien. Disimpulkan bahwa sambiloto berpotensi sebagai agen pengkhelat besi alami.
  6. Peran Andrografolid dalam Memperbaiki Anemia pada Tikus dengan Penyakit Ginjal Kronik

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Pra-Klinis)
    Sampel:
    36 ekor tikus jantan dengan nefrektomi subtotal (model penyakit ginjal kronik) yang mengalami anemia
    Dosis/Durasi:
    20 mg andrografolid/kg BB/hari, intraperitoneal, selama 28 hari
    Temuan:
    Pemberian andrografolid (komponen aktif utama sambiloto) dosis 20 mg/kg/hari selama 4 minggu meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan ekspresi eritropoietin di ginjal. Efek ini disertai penurunan kadar interleukin-6 dan hepsidin serum.


Cari: