Kedelai untuk Anemia

Kedelai (Glycine max) untuk Anemia, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Pemberian Susu Kedelai yang Difortifikasi Zat Besi terhadap Kadar Hemoglobin pada Anak Sekolah dengan Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    120 anak usia 6–12 tahun dengan Hb <11 g/dL di Indonesia
    Dosis/Durasi:
    250 mL susu kedelai fortifikasi (mengandung 7 mg zat besi elemental) per hari selama 12 minggu
    Temuan:
    Pemberian susu kedelai fortifikasi zat besi selama 12 minggu meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan (rata-rata kenaikan 1,2 g/dL) dibandingkan kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan signifikan pada kadar feritin.
  2. Konsumsi Tempe Sehari-hari Memperbaiki Status Zat Besi dan Menurunkan Prevalensi Anemia pada Wanita Usia Subur: Sebuah Uji Acak Terkendali

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    80 wanita usia 18–35 tahun dengan anemia ringan (Hb 10–11,5 g/dL) di Yogyakarta
    Dosis/Durasi:
    150 g tempe segar (setara 50 g protein kedelai) per hari selama 8 minggu
    Temuan:
    Konsumsi tempe (150 g/hari) selama 8 minggu meningkatkan kadar hemoglobin dan serum feritin secara signifikan dibandingkan kelompok plasebo. Tempe juga meningkatkan absorpsi besi non-heme karena kandungan vitamin C dan asam fitat yang rendah.
  3. Pengaruh Konsumsi Tahu terhadap Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil dengan Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Quasi-Experimental
    Sampel:
    60 ibu hamil trimester II (usia kehamilan 14–26 minggu) dengan Hb 9–10,5 g/dL di Jawa Timur
    Dosis/Durasi:
    200 g tahu (setara 100 g kedelai) per hari selama 4 minggu
    Temuan:
    Pemberian tahu (200 g/hari) selama 4 minggu menghasilkan peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan (rata-rata +0,9 g/dL) serta peningkatan kadar folat serum. Tidak ada efek samping yang dilaporkan.
  4. Hubungan antara Konsumsi Produk Kedelai dan Kejadian Anemia pada Remaja Putri: Studi Potong Lintang di Perkotaan

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Cross-Sectional
    Sampel:
    400 remaja putri usia 15–18 tahun di Jakarta yang dipilih secara acak
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada intervensi; frekuensi konsumsi produk kedelai ≥3 porsi/minggu
    Temuan:
    Remaja putri yang mengonsumsi produk kedelai (tahu, tempe, susu kedelai) ≥3 porsi per minggu memiliki risiko anemia 30% lebih rendah dibandingkan yang jarang mengonsumsi. Hubungan ini tetap signifikan setelah dikontrol oleh asupan zat besi dan vitamin C.
  5. Efek Suplementasi Snack Bar Berbasis Kedelai terhadap Status Anemia dan Biomarker Zat Besi pada Atlet Wanita

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    30 atlet wanita (pelari jarak jauh) usia 18–25 tahun dengan anemia fungsional (Hb 11–12 g/dL) di Jawa Barat
    Dosis/Durasi:
    1 snack bar (50 g) per hari selama 6 minggu
    Temuan:
    Konsumsi snack bar berbasis kedelai (mengandung 5 mg zat besi dan 25 mg vitamin C) selama 6 minggu meningkatkan kadar feritin dan menurunkan kadar hepsidin, sehingga memperbaiki mobilisasi besi. Kadar hemoglobin tidak berubah signifikan.
  6. Meta-Analisis: Efek Konsumsi Kedelai dan Produk Olahannya terhadap Kadar Hemoglobin dan Feritin pada Populasi dengan Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Meta-Analysis
    Sampel:
    12 studi acak terkendali (total 1.850 partisipan) dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (100–250 g produk kedelai/hari selama 4–16 minggu)
    Temuan:
    Konsumsi produk kedelai (baik utuh maupun fortifikasi) secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin (MD 0,8 g/dL; 95% CI 0,5–1,1) dan feritin (MD 12 ng/mL; 95% CI 8–16) dibandingkan kontrol. Efek lebih besar pada produk yang difortifikasi zat besi.


Cari: