Advertisement
Harpagophytum zeyheri, yang dikenal sebagai Devil's Claw African, adalah tumbuhan menahun menjalar dari famili Pedaliaceae yang berasal dari Afrika bagian selatan, terutama Namibia, Botswana, dan Afrika Selatan. Nama "cakar iblis" merujuk pada buahnya yang berduri dan melengkung seperti kait, berfungsi untuk menempel pada bulu hewan sebagai strategi penyebaran biji. Tanaman ini memiliki akar tunggang dan akar sekunder berbonggol yang menjadi bagian paling berharga, dengan daun berbulu halus dan bunga berwarna merah keunguan hingga putih. Meskipun sering disamakan dengan Harpagophytum procumbens, H. zeyheri memiliki perbedaan pada bentuk daun dan ukuran buah, namun keduanya sama-sama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Afrika.
Tanaman ini asli dari wilayah Afrika bagian selatan, terutama di area gurun Kalahari yang kering. Mereka suka banget sama tanah berpasir dan cuaca yang panas menyengat, makanya mereka punya sistem akar yang sangat dalam untuk menyimpan cadangan air. Karakteristik/ciri-ciri Devil's Claw African (Harpagophytum zeyheri):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Sistem Perakaran | Punya akar umbi sekunder yang besar dan berdaging, ini bagian yang paling sering dimanfaatin karena fungsinya sebagai penyimpan air dan nutrisi. |
| Batang | Batangnya tumbuh menjalar di permukaan tanah dengan panjang bisa mencapai 1-2 meter. |
| Daun | Daunnya berbentuk unik, agak berlekuk-lekuk dengan warna hijau keabu-abuan yang punya lapisan lilin supaya nggak gampang menguap airnya. |
| Bunga | Bunganya cantik banget, bentuknya menyerupai terompet kecil dengan perpaduan warna merah muda, ungu, hingga putih. |
| Buah Dan Biji | Ini ciri paling khasnya: buahnya punya duri-duri yang sangat tajam dan kuat (kayak cakar). Duri ini fungsinya buat nempel di kaki hewan yang lewat, jadi bijinya bisa kesebar ke tempat lain. |
6 Manfaat Devil's Claw African untuk kesehatan.
Iridoid glikosida seperti harpagosida menghambat ekspresi COX-2, iNOS, dan 5-LOX, sehingga menurunkan sintesis PGE2, leukotrien, dan NO. Ekstrak juga menekan aktivasi NF-κB dan produksi sitokin pro-inflamasi TNF-α, IL-1β, dan IL-6 pada makrofag dan sel sinovial, sehingga mengurangi inflamasi sendi.
Efek analgesik sebagian besar dimediasi oleh penurunan mediator inflamasi yang menstrualisasi nosiseptor perifer. Komponen iridoid juga dapat memodulasi pelepasan substansi P dan CGRP pada neuron sensorik, walaupun mekanisme sentral belum didukung kuat.
Polifenol dan iridoid bertindak sebagai peredam radikal bebas DPPH/ABTS, mengkelat ion logam transisi, serta meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti SOD, katalase, dan GPx. Efek ini menghambat peroksidasi lipid dan menurunkan ROS intraseluler.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Devil's Claw African.
Devil's Claw African (Harpagophytum zeyheri dan Harpagophytum procumbens) umumnya dianggap aman bagi kebanyakan orang bila digunakan dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, seperti halnya obat herbal lainnya, tanaman ini dapat menimbulkan sejumlah efek samping. Efek samping yang paling sering dilaporkan berkaitan dengan sistem pencernaan, di mana senyawa iridoid glikosida (seperti harpagoside) dapat merangsang produksi asam lambung. Gejala gastrointestinal yang umum meliputi diare, mual, muntah, nyeri perut, dan gangguan pencernaan ringan. Pada beberapa individu yang memiliki sensitivitas tinggi, penggunaan ekstrak ini juga dapat memicu reaksi alergi berupa ruam kulit, urtikaria (biduran), atau sakit kepala.