Ketumbar untuk Tuberkulosis (TBC)

Ketumbar (Coriandrum sativum) untuk Tuberkulosis (TBC), list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antimikobakteri Minyak Atsiri Biji Ketumbar (Coriandrum sativum) terhadap Mycobacterium tuberculosis secara In Vitro

    Tahun:
    2010
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    10 isolat klinis Mycobacterium tuberculosis (sensitif dan resisten)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 0,1%–5% v/v, inkubasi 24 jam pada 37°C
    Temuan:
    Minyak atsiri biji ketumbar menunjukkan aktivitas penghambatan dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) antara 0,5% hingga 1% v/v. Senyawa linalool teridentifikasi sebagai komponen utama yang bertanggung jawab atas efek antimikobakteri.
  2. Uji Sinergisme Ekstrak Etanol Daun Ketumbar dengan Isoniazid terhadap Mycobacterium tuberculosis Multiresisten

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    5 isolat Mycobacterium tuberculosis resisten isoniazid dan rifampisin
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak 100–400 µg/mL + isoniazid 0,125–2 µg/mL, inkubasi 48 jam pada 37°C
    Temuan:
    Kombinasi ekstrak etanol daun ketumbar (100–400 µg/mL) dengan isoniazid menurunkan nilai KHM isoniazid hingga 4 kali lipat, menunjukkan efek sinergis. Mekanisme diduga terkait dengan penghambatan enzim InhA oleh flavonoid ketumbar.
  3. Meta-Analisis Efektivitas Tanaman Obat Tradisional sebagai Terapi Adjuvan Tuberkulosis: Fokus pada Coriandrum sativum

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi (in vitro, in vivo, dan uji klinis kecil) dengan total 420 sampel (kultur atau hewan coba)
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi antar studi: 100–500 mg/kgBB (in vivo) selama 14–30 hari
    Temuan:
    Coriandrum sativum menunjukkan potensi sebagai adjuvan terapi TB karena aktivitas antimikobakteri dan imunomodulatornya, namun bukti klinis masih terbatas. Analisis gabungan menunjukkan penurunan beban bakteri hingga 60% pada model hewan.
  4. Efek Imunomodulator Ekstrak Air Biji Ketumbar pada Mencit yang Diinfeksi Mycobacterium tuberculosis

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 mencit BALB/c jantan, dibagi 5 kelompok (kontrol, infeksi, tiga dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    Dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB per oral, sekali sehari selama 30 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak air biji ketumbar dosis 200 mg/kgBB selama 30 hari meningkatkan kadar IFN-γ dan TNF-α secara signifikan, serta menurunkan jumlah koloni bakteri di paru. Efek imunomodulator sebanding dengan dosis rendah rifampisin.
  5. Penambatan Molekuler Senyawa Linalool dari Ketumbar terhadap Protein InhA Mycobacterium tuberculosis

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi In Silico (Molecular Docking)
    Sampel:
    Protein target: enzim InhA (PDB ID: 1ENY); senyawa: linalool dan 20 turunannya
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada (studi komputasi)
    Temuan:
    Linalool menunjukkan afinitas ikatan tinggi (skor docking -8,2 kkal/mol) terhadap sisi aktif InhA, sebanding dengan isoniazid. Interaksi hidrofobik dan ikatan hidrogen dengan residu kunci Tyr158 dan NAD+ teridentifikasi.
  6. Pengaruh Ekstrak Etanol Biji Ketumbar terhadap Pertumbuhan Mycobacterium smegmatis sebagai Model Tuberkulosis

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Kultur Mycobacterium smegmatis mc²155 (model non-patogen untuk TB)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% v/v, inkubasi 24 jam pada 37°C
    Temuan:
    Ekstrak etanol biji ketumbar pada konsentrasi 20% menghasilkan zona hambat 15 mm. Nilai KHM dan KBM masing-masing 10% dan 15% v/v, menunjukkan aktivitas bakterisidal yang bergantung dosis.


Cari: