Adas untuk Stroke

Adas (Foeniculum vulgare) untuk Stroke, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Etanol Biji Adas (Foeniculum vulgare) terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Ringan-Sedang: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    60 pasien hipertensi ringan-sedang (30 per kelompok), usia 35–65 tahun, tanpa komplikasi stroke
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak etanol biji adas (standarisasi 2% anethole) per hari, selama 8 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak adas 500 mg/hari selama 8 minggu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan dibandingkan plasebo. Efek ini diduga terkait dengan kandungan anethole yang bersifat vasodilator dan diuretik ringan.
  2. Pengaruh Pemberian Ekstrak Adas terhadap Profil Lipid pada Tikus Model Stroke Iskemik

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    32 tikus Wistar jantan, dibagi 4 kelompok (kontrol, sham, stroke+plasebo, stroke+ekstrak adas)
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kg BB ekstrak etanol adas per oral, sekali sehari selama 14 hari pasca-induksi stroke
    Temuan:
    Ekstrak adas dosis 200 mg/kg BB selama 14 hari pasca-induksi stroke iskemik menurunkan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida, serta meningkatkan HDL. Efek ini berkontribusi pada perbaikan penanda kerusakan jaringan otak.
  3. Meta-Analisis Efek Suplementasi Adas terhadap Tekanan Darah dan Profil Lipid pada Subjek dengan Faktor Risiko Kardiovaskular

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    10 studi terkontrol (RCT) dengan total 612 partisipan, mencakup pasien hipertensi, diabetes, dan hiperlipidemia
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi: 100–1000 mg/hari ekstrak atau bubuk biji adas, durasi 4–12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi adas (dosis 100–1000 mg/hari) secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 4,2 mmHg dan LDL 8,5 mg/dL. Temuan ini mendukung potensi adas sebagai terapi adjuvan untuk pencegahan stroke.
  4. Aktivitas Neuroprotektif Ekstrak Foeniculum vulgare pada Model Stroke Iskemik pada Tikus: Kajian In Vivo terhadap Stres Oksidatif dan Apoptosis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    40 tikus Sprague-Dawley jantan, model oklusi arteri serebri media (MCAO)
    Dosis/Durasi:
    300 mg/kg BB ekstrak etanol adas per oral, 7 hari sebelum induksi stroke dan 3 hari setelahnya
    Temuan:
    Pemberian ekstrak adas 300 mg/kg BB selama 7 hari sebelum dan 3 hari setelah MCAO mengurangi volume infark serebral sebesar 35% dan menurunkan kadar malondialdehid (MDA) serta menghambat apoptosis neuron melalui regulasi Bcl-2/Bax.
  5. Systematic Review Tanaman Obat dengan Potensi Neuroprotektif pada Stroke: Fokus pada Foeniculum vulgare dan Senyawa Anethole

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi in vitro, in vivo, dan klinis yang memenuhi kriteria inklusi (2000–2023)
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi: dosis ekstrak 100–500 mg/kg BB pada hewan, dan 200–1000 mg/hari pada manusia selama 4–12 minggu
    Temuan:
    Adas (Foeniculum vulgare) dan senyawa aktifnya anethole menunjukkan efek neuroprotektif melalui mekanisme antioksidan, antiinflamasi, dan penghambatan agregasi trombosit. Namun, masih diperlukan uji klinis berkualitas tinggi untuk memvalidasi efektivitas pada pasien stroke.
  6. Uji Klinis Acak Efek Minyak Atsiri Adas terhadap Fungsi Kognitif dan Penanda Inflamasi pada Pasien Pasca Stroke Iskemik

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    48 pasien pasca stroke iskemik (dalam 6 bulan pertama), usia 50–75 tahun, skor NIHSS <15
    Dosis/Durasi:
    0,2 mL minyak atsiri adas (setara 2% trans-anethole) dalam kapsul lunak, 2 kali sehari setelah makan, selama 12 minggu
    Temuan:
    Pemberian minyak atsiri adas (0,2 mL/kapsul, 2 kali sehari) selama 12 minggu meningkatkan skor kognitif (MoCA) dan menurunkan kadar interleukin-6 (IL-6) serta C-reactive protein (CRP) secara signifikan dibandingkan plasebo.


Cari: