Peppermint untuk Pneumonia

Peppermint (Mentha piperita) untuk Pneumonia, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Peppermint (Mentha piperita) terhadap Streptococcus pneumoniae

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Satu strain referensi Streptococcus pneumoniae ATCC 49619 dan lima isolat klinis
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi seri 0,0625%–2% v/v, inkubasi 24 jam pada 37°C
    Temuan:
    Minyak atsiri peppermint menunjukkan aktivitas antibakteri dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) antara 0,25% hingga 0,5% v/v terhadap semua strain yang diuji. Efek bakterisidal tercapai pada konsentrasi 1% v/v dalam waktu 2 jam.
  2. Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Peppermint pada Model Pneumonia Tikus yang Diinduksi Lipopolisakarida

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Wistar jantan, dibagi menjadi 5 kelompok (kontrol, LPS, dan tiga dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kgBB per oral selama 7 hari, induksi LPS pada hari ke-5
    Temuan:
    Ekstrak peppermint dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB secara signifikan menurunkan kadar TNF-α dan IL-6 di jaringan paru, serta memperbaiki gambaran histopatologi edema dan infiltrasi neutrofil. Efek antiinflamasi sebanding dengan deksametason dosis 1 mg/kgBB.
  3. Systematic Review Potensi Tanaman Obat sebagai Adjuvan Terapi Pneumonia: Fokus pada Mentha piperita

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi in vitro, in vivo, dan klinis yang memenuhi kriteria inklusi (2000–2020)
    Dosis/Durasi:
    Tidak dilaporkan secara seragam; rentang dosis ekstrak 100–400 mg/kgBB pada hewan, minyak atsiri 0,25–1% v/v in vitro
    Temuan:
    Peppermint menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap patogen pneumonia (S. pneumoniae, K. pneumoniae, H. influenzae) serta efek antiinflamasi dan mukolitik yang mendukung perannya sebagai adjuvan. Namun, bukti klinis masih terbatas dan diperlukan uji pada manusia.
  4. Sinergisme Minyak Atsiri Peppermint dengan Gentamisin terhadap Klebsiella pneumoniae Penghasil ESBL

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    10 isolat klinis Klebsiella pneumoniae penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL)
    Dosis/Durasi:
    Minyak peppermint 0,0625%–0,5% v/v dikombinasikan dengan gentamisin 0,25–4 µg/mL, inkubasi 24 jam
    Temuan:
    Kombinasi minyak peppermint (konsentrasi 0,125% v/v) dengan gentamisin (1 µg/mL) menunjukkan efek sinergis dengan indeks fraksi konsentrasi hambat (FICI) 0,375. Kombinasi ini mampu menurunkan MIC gentamisin hingga 8 kali lipat.
  5. Pengaruh Aromaterapi Peppermint terhadap Frekuensi Batuk dan Sesak Napas pada Pasien Pneumonia Rawat Inap

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Quasi-Eksperimental (Pra-Pasca)
    Sampel:
    40 pasien pneumonia dewasa (20 kelompok intervensi, 20 kontrol) di RSUD Dr. Soetomo
    Dosis/Durasi:
    3 tetes minyak esensial peppermint dalam diffuser, 15 menit, 2 kali sehari, selama 5 hari
    Temuan:
    Inhalasi aromaterapi peppermint 3 tetes dalam diffuser selama 15 menit dua kali sehari selama 5 hari secara signifikan menurunkan frekuensi batuk (dari rata-rata 18,2 menjadi 9,1 kali per jam) dan skor sesak napas (dari 4,5 menjadi 2,1 pada skala Borg). Tidak ada efek samping signifikan.


Cari: