Temulawak untuk Pneumonia

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Pneumonia, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efektivitas Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sebagai Terapi Adjuvan pada Pasien Pneumonia Komunitas: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial
    Sampel:
    80 pasien dewasa dengan pneumonia komunitas ringan-sedang
    Dosis/Durasi:
    2 × 300 mg ekstrak etanol 70% temulawak per hari selama 10 hari
    Temuan:
    Penambahan ekstrak temulawak 600 mg/hari selama 10 hari pada terapi standar secara signifikan mempercepat perbaikan klinis dan menurunkan kadar CRP serta IL-6 dibandingkan plasebo.
  2. Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Temulawak pada Tikus dengan Pneumonia Akut yang Diinduksi Lipopolisakarida

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan dewasa
    Dosis/Durasi:
    100 dan 200 mg/kg BB ekstrak etanol 70% per oral sekali sehari selama 7 hari
    Temuan:
    Ekstrak temulawak dosis 100 dan 200 mg/kg BB menurunkan kadar TNF-α dan IL-6 secara signifikan serta mengurangi infiltrasi neutrofil pada jaringan paru tikus yang diinduksi LPS.
  3. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Temulawak terhadap Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Strain klinis Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 0,1–2% (v/v) minyak atsiri, diinkubasi 24 jam
    Temuan:
    Minyak atsiri temulawak menunjukkan aktivitas bakteriostatik dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 0,5% terhadap S. pneumoniae dan 1% terhadap K. pneumoniae, serta efek sinergis dengan amoksisilin.
  4. Tinjauan Sistematis Peran Curcuma xanthorrhiza pada Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi in vitro, in vivo, dan klinis yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (ekstrak 100-600 mg/hari pada manusia; 50-200 mg/kg BB pada hewan)
    Temuan:
    Curcuma xanthorrhiza dan senyawa aktifnya (xanthorrhizol, kurkumin) memiliki potensi antiinflamasi, antimikroba, dan imunomodulator yang relevan untuk penanganan pneumonia, namun bukti klinis masih terbatas.
  5. Meta-Analisis Efek Kurkuminoid terhadap Marker Inflamasi pada Pneumonia

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 uji klinis acak dengan total 520 pasien pneumonia
    Dosis/Durasi:
    500–1000 mg kurkuminoid per hari selama 7–14 hari
    Temuan:
    Suplementasi kurkuminoid (termasuk dari temulawak) secara signifikan menurunkan kadar CRP (SMD -0,72) dan IL-6 (SMD -0,58) serta memperpendek lama rawat inap rata-rata 1,8 hari.
  6. Pengaruh Pemberian Fraksi Xanthorrhizol dari Temulawak terhadap Respons Imun Seluler pada Mencit dengan Pneumonia Bakteri

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    40 mencit BALB/c yang diinfeksi Streptococcus pneumoniae intranasal
    Dosis/Durasi:
    50 mg/kg BB fraksi xanthorrhizol per oral sekali sehari selama 5 hari
    Temuan:
    Fraksi xanthorrhizol dosis 50 mg/kg BB meningkatkan fagositosis makrofag alveolar, proliferasi limfosit, dan mempercepat pembersihan bakteri dari paru mencit.


Cari: