Kunyit Putih untuk Maag

Kunyit Putih (Curcuma zedoaria) untuk Maag, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Gastroprotektif Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Putih (Curcuma zedoaria) terhadap Ulkus Lambung yang Diinduksi Etanol pada Tikus

    Tahun:
    2012
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    40 ekor tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi menjadi 5 kelompok (kontrol negatif, kontrol positif omeprazol, dan tiga dosis ekstrak)
    Dosis/Durasi:
    Dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB per oral selama 7 hari, kemudian induksi ulkus dengan etanol 1 mL/200gBB
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol Curcuma zedoaria dosis 200 dan 400 mg/kgBB secara signifikan mengurangi indeks ulkus dan meningkatkan kadar mukus lambung, setara dengan omeprazol. Efek ini terkait dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi ekstrak.
  2. Aktivitas Anti-Helicobacter pylori Minyak Atsiri Curcuma zedoaria dan Senyawa Utamanya

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Isolat klinis H. pylori (10 strain) dan H. pylori standar ATCC 43504
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 8–128 µg/mL, diinkubasi 24–48 jam
    Temuan:
    Minyak atsiri Curcuma zedoaria menunjukkan aktivitas bakterisida terhadap H. pylori dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) 32–64 µg/mL, lebih kuat dibandingkan kurkumin. Senyawa utama yang bertanggung jawab adalah zederon dan germakron.
  3. Spesies Curcuma untuk Gangguan Lambung: Sebuah Tinjauan Sistematis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    23 studi (in vivo, in vitro, dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada dosis spesifik; rentang dosis ekstrak 100–500 mg/kgBB pada hewan dan 1–3 g/hari pada manusia
    Temuan:
    Tinjauan sistematis ini mengonfirmasi bahwa berbagai spesies Curcuma, termasuk C. zedoaria, memiliki efek gastroprotektif melalui mekanisme antioksidan, antiinflamasi, dan anti-H. pylori. Namun, kualitas studi klinis masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
  4. Efikasi Ekstrak Curcuma zedoaria pada Pasien Dispepsia Fungsional: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial (RCT)
    Sampel:
    80 pasien dengan dispepsia fungsional (kriteria Rome IV), usia 18–65 tahun
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak (setara 5 g rimpang segar) dua kali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Curcuma zedoaria 500 mg dua kali sehari selama 8 minggu secara signifikan menurunkan skor gejala dispepsia (nyeri epigastrium, rasa penuh, cepat kenyang) dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  5. Seskuiterpen dari Curcuma zedoaria Melindungi Sel Epitel Lambung dari Apoptosis yang Diinduksi Stres Oksidatif

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi Mekanisme Molekuler In Vitro
    Sampel:
    Sel GES-1 (sel epitel lambung manusia) yang diinduksi H2O2
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 5–20 µM, diinkubasi selama 24 jam sebelum induksi H2O2 200 µM selama 4 jam
    Temuan:
    Seskuiterpen zederon dan kurzeren dari Curcuma zedoaria menekan apoptosis sel GES-1 melalui aktivasi jalur Nrf2/HO-1 dan penurunan ROS intraseluler. Efek protektif ini sebanding dengan N-asetilsistein.
  6. Efikasi dan Keamanan Sediaan Curcuma untuk Ulkus Peptikum: Meta-Analisis Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 uji klinis acak dengan total 1.540 pasien ulkus peptikum (termasuk 2 studi yang melibatkan Curcuma zedoaria)
    Dosis/Durasi:
    Variasi dosis setara kurkuminoid 300–1.200 mg/hari selama 4–8 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa sediaan Curcuma (termasuk ekstrak C. zedoaria) secara signifikan meningkatkan penyembuhan ulkus (RR 1,35; 95% CI 1,18–1,55) dan mengurangi kekambuhan dibandingkan plasebo atau terapi standar. Efek samping minimal dan bersifat ringan.


Cari: