Ketumbar untuk Hipertensi

Ketumbar (Coriandrum sativum) untuk Hipertensi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Biji Ketumbar terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Ringan-Sedang: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    80 pasien hipertensi ringan-sedang (usia 30-65 tahun, tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan/atau diastolik 90-99 mmHg)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak biji ketumbar (Coriandrum sativum) dalam kapsul, dua kali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak biji ketumbar selama 8 minggu secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dibandingkan plasebo, dengan penurunan rata-rata 8,2 mmHg sistolik dan 4,5 mmHg diastolik. Efek ini diduga terkait aktivitas diuretik dan vasodilatasi.
  2. Efek Antihipertensi dari Ekstrak Biji Ketumbar pada Tikus: Peran Vasodilatasi yang Dimediasi Nitrat Oksida

    Tahun:
    2012
    Tipe:
    Studi Eksperimental pada Hewan
    Sampel:
    48 tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi menjadi kelompok normotensi dan hipertensi (induksi DOCA-garam)
    Dosis/Durasi:
    200 dan 400 mg/kg ekstrak biji ketumbar (dilarutkan dalam air) diberikan secara oral sekali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Ekstrak biji ketumbar dosis 200 dan 400 mg/kg menyebabkan penurunan tekanan darah yang signifikan pada tikus hipertensi, serta meningkatkan relaksasi aorta yang bergantung pada endotel melalui jalur nitrat oksida. Tidak ada efek toksik yang diamati.
  3. Penghambatan Enzim Pengubah Angiotensin oleh Ekstrak Biji Ketumbar: Studi In Vitro dan In Silico

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi In Vitro dan In Silico
    Sampel:
    Ekstrak metanol biji ketumbar diuji pada enzim ACE (Angiotensin-Converting Enzyme) murni; analisis in silico menggunakan molekul linalool dan geraniol
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 10-500 µg/mL dalam uji in vitro; tidak ada pemberian pada subjek hidup
    Temuan:
    Ekstrak biji ketumbar menunjukkan aktivitas penghambatan ACE yang kuat dengan nilai IC50 sebesar 58,4 µg/mL. Analisis in silico mengidentifikasi linalool sebagai senyawa utama yang berikatan dengan sisi aktif ACE.
  4. Efek Diuretik dan Hipotensif dari Ketumbar pada Tikus Normotensi dan Hipertensi

    Tahun:
    2008
    Tipe:
    Studi Eksperimental pada Hewan
    Sampel:
    60 tikus Wistar jantan (30 normotensi, 30 hipertensi akibat L-NAME)
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kg ekstrak etanol daun ketumbar (Coriandrum sativum) diberikan secara oral sekali sehari selama 14 hari
    Temuan:
    Ekstrak etanol daun ketumbar (200 mg/kg) meningkatkan volume urin dan ekskresi natrium secara signifikan, serta menurunkan tekanan darah sistolik pada tikus hipertensi. Efek diuretik setara dengan furosemid dosis rendah.
  5. Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis Efek Antihipertensi Tanaman Ketumbar (Coriandrum sativum)

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi (5 pada hewan, 3 pada manusia) dengan total 432 subjek; studi manusia melibatkan 210 pasien hipertensi
    Dosis/Durasi:
    Rentang dosis 200-1000 mg/hari (ekstrak) atau 2-5 gram/hari (bubuk biji); durasi 2-12 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi ketumbar secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik (rata-rata 5,7 mmHg) dan diastolik (rata-rata 3,2 mmHg) dibandingkan kontrol. Efek lebih nyata pada dosis ≥500 mg/hari dan durasi ≥8 minggu.
  6. Ketumbar (Coriandrum sativum) dan Kesehatan Kardiovaskular: Sebuah Tinjauan Sistematis terhadap Studi Praklinis dan Klinis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    24 studi (16 praklinis, 8 klinis) termasuk RCT, studi hewan, dan studi in vitro
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi; dosis ekstrak 200-1000 mg/hari pada manusia, durasi 4-12 minggu
    Temuan:
    Tinjauan sistematis menyimpulkan bahwa ketumbar memiliki potensi antihipertensi melalui mekanisme penghambatan ACE, diuresis, dan vasodilatasi. Namun, bukti klinis masih terbatas dan diperlukan uji coba lebih besar dengan standarisasi ekstrak.


Cari: