Lemon Balm untuk Epilepsi

Lemon Balm (Melissa officinalis) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Melissa officinalis terhadap Frekuensi Kejang pada Pasien Epilepsi: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    60 pasien epilepsi fokal refrakter (30 kelompok intervensi, 30 plasebo)
    Dosis/Durasi:
    1200 mg/hari ekstrak kering (standar 5% asam rosmarinat) selama 8 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Melissa officinalis selama 8 minggu secara signifikan menurunkan frekuensi kejang bulanan sebesar 42% dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  2. Pengaruh Ekstrak Hidroalkohol Melissa officinalis terhadap Kejang yang Diinduksi Pentylenetetrazol pada Mencit Jantan

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    40 mencit jantan Swiss (10 per kelompok dosis: 100, 200, 400 mg/kg, dan kontrol)
    Dosis/Durasi:
    Dosis tunggal intraperitoneal 30 menit sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Ekstrak Melissa officinalis dosis 200 dan 400 mg/kg memperpanjang latensi kejang dan mengurangi durasi kejang klonik. Efek antikonvulsan setara dengan diazepam dosis rendah.
  3. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat untuk Epilepsi: Fokus pada Melissa officinalis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi (7 in vivo, 5 in vitro, 3 klinis) yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (100-1500 mg/hari pada manusia, 50-400 mg/kg pada hewan)
    Temuan:
    Melissa officinalis menunjukkan efek antikonvulsan melalui peningkatan aktivitas GABA dan modulasi saluran ion. Studi klinis terbatas tetapi menjanjikan untuk epilepsi fokal.
  4. Efek Minyak Atsiri Melissa officinalis terhadap Ambang Kejang pada Tikus yang Diinduksi Elektroshock Maksimal

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan (6 per kelompok dosis: 50, 100, 200 mg/kg minyak atsiri, kontrol positif dan negatif)
    Dosis/Durasi:
    Dosis oral tunggal 60 menit sebelum uji elektroshock
    Temuan:
    Minyak atsiri Melissa officinalis dosis 200 mg/kg secara signifikan meningkatkan ambang kejang listrik dan mengurangi durasi kejang tonik-klonik. Efek dimediasi oleh reseptor GABA-A.
  5. Meta-Analisis Efektivitas dan Keamanan Melissa officinalis pada Epilepsi: dari Studi Praklinis hingga Klinis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi (9 hewan, 3 RCT pada manusia) dengan total 420 subjek
    Dosis/Durasi:
    Dosis ekivalen 800-1500 mg/hari pada manusia; durasi 4-12 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan penurunan frekuensi kejang yang signifikan (SMD = -0.78; 95% CI -1.12 hingga -0.44) pada kelompok yang diberi Melissa officinalis. Profil keamanan baik dengan efek samping ringan (mual, pusing).
  6. Perbandingan Efek Antikonvulsan Ekstrak Daun Melissa officinalis dan Valproat pada Tikus Epilepsi yang Diinduksi Kainat

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    40 tikus Sprague-Dawley jantan (8 per kelompok: kontrol, valproat, ekstrak 100, 200, 400 mg/kg)
    Dosis/Durasi:
    Dosis oral selama 14 hari, diinduksi kainat pada hari ke-7
    Temuan:
    Ekstrak Melissa officinalis dosis 400 mg/kg setara dengan valproat dalam mengurangi skor kejang dan kematian sel neuron di hipokampus. Ekstrak juga menekan stres oksidatif.


Cari: