Bayam Jepang untuk Anemia

Bayam Jepang (Spinacia oleracea) untuk Anemia, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Konsumsi Bayam Terhadap Status Zat Besi pada Wanita dengan Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    60 wanita usia 18-40 tahun dengan anemia defisiensi besi ringan hingga sedang
    Dosis/Durasi:
    100 g bayam segar (setara 2,5 mg zat besi) per hari selama 12 minggu
    Temuan:
    Konsumsi bayam 100 g/hari selama 12 minggu secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin (rata-rata +1,2 g/dL) dan feritin serum. Efeknya setara dengan suplementasi besi sulfat 50 mg/hari.
  2. Peran Bayam dalam Meningkatkan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Anemia: Sebuah Studi Kuasi-Eksperimental

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Quasi-Experimental Study
    Sampel:
    80 siswi SMA (usia 15-18 tahun) dengan hemoglobin <12 g/dL
    Dosis/Durasi:
    200 mL jus bayam segar (setara 150 g bayam) per hari selama 8 minggu
    Temuan:
    Pemberian jus bayam 200 mL/hari selama 8 minggu meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan (p<0,001) dari rata-rata 10,5 g/dL menjadi 12,1 g/dL. Tidak ada efek samping yang dilaporkan.
  3. Pengaruh Ekstrak Bayam (Spinacia oleracea) terhadap Eritropoiesis pada Tikus Anemia

    Tahun:
    2017
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan (Preklinis)
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan yang diinduksi anemia dengan fenilhidrazin
    Dosis/Durasi:
    250 mg/kg BB ekstrak etanol bayam per oral selama 14 hari
    Temuan:
    Ekstrak etanol bayam dosis 250 mg/kg BB/hari selama 14 hari meningkatkan jumlah eritrosit, retikulosit, dan kadar hemoglobin secara signifikan. Efek ini diduga melalui stimulasi eritropoietin endogen.
  4. Kandungan Zat Besi dan Bioavailabilitas Bayam: Sebuah Tinjauan Sistematis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    28 studi in vitro dan in vivo yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (tinjauan sistematis)
    Temuan:
    Bayam mengandung zat besi non-heme rata-rata 2,7 mg/100 g dengan bioavailabilitas rendah (5-12%) karena adanya asam oksalat dan fitat. Namun, konsumsi bersama vitamin C atau proses fermentasi dapat meningkatkan absorpsi hingga 3 kali lipat.
  5. Suplementasi Bayam sebagai Terapi Tambahan pada Anemia Ibu Hamil: Sebuah Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    120 ibu hamil trimester II dengan anemia (Hb 8-11 g/dL)
    Dosis/Durasi:
    150 g bayam segar per hari + suplemen besi 60 mg/hari selama 8 minggu
    Temuan:
    Kelompok yang mendapat bayam 150 g/hari ditambah suplemen besi standar menunjukkan peningkatan Hb lebih tinggi (rata-rata +2,0 g/dL) dibandingkan suplemen saja (+1,4 g/dL) setelah 8 minggu. Kadar feritin juga lebih baik.
  6. Meta-Analisis Efektivitas Sayuran Hijau (Termasuk Bayam) dalam Mengatasi Anemia Defisiensi Besi

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analysis
    Sampel:
    15 studi intervensi (total 1.240 partisipan) dengan durasi 4-16 minggu
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata 100-200 g sayuran hijau per hari selama ≥8 minggu (berdasarkan studi yang dianalisis)
    Temuan:
    Konsumsi sayuran hijau kaya zat besi, termasuk bayam, secara signifikan meningkatkan hemoglobin (efek gabungan: +0,85 g/dL; 95% CI 0,65-1,05) dan feritin serum. Efek optimal pada dosis ≥100 g/hari dan durasi ≥8 minggu.


Cari: