Kategori: Dermatology
Advertisement
Wijen, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Sesamum indicum, merupakan salah satu tanaman penghasil minyak tertua yang telah dibudidayakan sejak ribuan tahun lalu, terutama di kawasan Afrika dan India. Tanaman herba tahunan ini termasuk dalam famili Pedaliaceae dan memiliki ciri khas berupa batang tegak dengan daun berbentuk lanset yang tersusun berseling. Bunganya berbentuk lonceng berwarna putih, merah muda, atau ungu, dan setelah penyerbukan akan menghasilkan buah kapsul yang berisi biji-biji kecil berwarna putih, kuning, cokelat, atau hitam. Biji wijen inilah yang menjadi komoditas utama karena kandungan minyaknya yang tinggi, mencapai 50–60%, serta protein dan antioksidan seperti sesamin dan sesamolin.
Nama Lain: Goma (Japan), Til (India), Simsim (Arab countries), Ajonjolí (Mexico), Gergelim (Brazil)
Glycyrrhiza uralensis, yang dikenal luas sebagai Chinese Licorice atau Gan Cao dalam pengobatan tradisional Tiongkok, merupakan tanaman herba tahunan yang termasuk dalam famili Fabaceae. Tanaman ini berasal dari wilayah Asia Timur, terutama Tiongkok, Mongolia, dan Siberia. Akar tunggangnya yang tebal dan berwarna cokelat kekuningan merupakan bagian yang paling bernilai secara medis. Secara morfologi, tanaman ini dapat tumbuh hingga setinggi satu meter, dengan daun majemuk menyirip dan bunga ungu kebiruan yang tersusun dalam tandan. Rasa manis khas dari akar licorice berasal dari senyawa glisirizin yang 50 kali lebih manis daripada gula tebu, menjadikannya salah satu tanaman obat paling ikonik dalam khazanah botanika.
Nama Lain: Gan Cao (China), Kanzo (Japan), Gamcho (South Korea), Ural licorice (Russia), Mongolian licorice (Mongolia)
Rehmannia glutinosa, yang lebih dikenal sebagai rehmannia atau Chinese foxglove, adalah tanaman herbal tahunan yang berasal dari Tiongkok dan Korea. Habitat aslinya meliputi lereng bukit dan area terbuka di dataran tinggi, di mana ia tumbuh setinggi 30–60 cm dengan akar tunggang yang tebal dan berdaging. Daunnya berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi dan permukaan yang sedikit berbulu, sementara bunganya berbentuk lonceng berwarna ungu kemerahan yang menyerupai bunga foxglove. Tanaman ini telah dibudidayakan secara luas di Asia Timur, terutama karena akarnya yang bernilai tinggi dalam pengobatan tradisional Tiongkok, di mana dikenal sebagai di huang atau sheng di huang (akar mentah) dan shu di huang (akar yang diproses).
Nama Lain: Di Huang (China), Jiō (Japan), Jihwang (South Korea), Địa hoàng (Vietnam), Chinese foxglove (United Kingdom)
Akar Paeonia lactiflora, yang dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok sebagai Bai Shao, berasal dari tanaman peoni putih yang termasuk dalam famili Paeoniaceae. Tanaman herba menahun ini tumbuh liar di kawasan Asia Timur, terutama di Tiongkok, Mongolia, dan Siberia. Bagian yang digunakan secara medis adalah akar yang telah dikupas dan dikeringkan. Dalam sistem pengobatan Tionghoa, Bai Shao dikategorikan sebagai ramuan yang bersifat sedikit dingin, berasa asam dan pahit, serta masuk ke meridian hati dan limpa. Khasiat utamanya adalah menyehatkan darah, mengatur sirkulasi energi (qi), dan meredakan nyeri, terutama yang berkaitan dengan ketidakseimbangan fungsi hati dan darah.
Nama Lain: Shakuyaku (Jepang), Jak-yak (Korea), Pivoine blanche (Prancis), Peonía blanca (Spanyol)
Poko-Poko (Mentha arvensis), yang dikenal juga sebagai daun mint ladang atau mint Jepang, adalah tumbuhan herbal tahunan dari famili Lamiaceae yang banyak tumbuh liar di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tumbuhan ini memiliki batang basah yang sedikit berbulu, daun berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi, serta aroma khas mentol yang kuat. Minyak atsiri yang dihasilkannya mengandung mentol tinggi, menjadikannya salah satu sumber utama penghasil mentol alami di dunia. Di berbagai daerah, Poko-Poko dimanfaatkan sebagai sayuran segar, lalapan, maupun bahan ramuan tradisional.
Nama Lain: Field mint (Inggris), corn mint (Amerika Serikat), Japanese mint (Jepang), pudina (India), yerba buena (Filipina)
Schizonepeta tenuifolia, yang dikenal luas sebagai Jing Jie dalam pengobatan tradisional Tiongkok, adalah tanaman herbal tahunan dari famili Lamiaceae. Tumbuhan ini berasal dari Asia Timur, terutama Tiongkok, Korea, dan Jepang, dan telah dibudidayakan selama berabad-abad sebagai bahan obat penting. Secara botani, tanaman ini memiliki batang persegi khas famili mint, daun berwarna hijau keunguan dengan tepi bergerigi, serta bunga kecil berwarna ungu atau biru yang tersusun dalam spike terminal. Bagian yang paling sering digunakan adalah bagian aerial, terutama pucuk berbunga yang dipanen pada saat mulai mekar, kemudian dikeringkan untuk digunakan sebagai rempah ataupun obat herbal. Aroma khasnya yang kuat dan tajam berasal dari minyak atsiri yang terkandung di dalamnya, menjadikannya mudah dikenali dan sangat dihargai dalam ramuan tradisional.
Nama Lain: Jing Jie (China), Keigai (Jepang), Hyeonggae (Korea), Kinh giới (Vietnam), fineleaf schizonepeta (Inggris)
- Kampo Formulations for Prescription 2024