Pohon kola

Kola nut | Cola acuminata
Nama
Pohon kola (Kola nut)
Nama Latin/Ilmiah
Cola acuminata
Bagian Digunakan
Biji
Rasa
Pahit
Nama Lain
Obi abata (Nigeria), bese (Ghana), goro (Nigeria), noix de cola (Prancis), kolanuss (Jerman)
Asal
Afrika Barat, terutama Nigeria dan Kamerun.
Kandungan Utama
Kafein, teobromin, tanin, kolanin, dan senyawa fenolik

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Pohon kola

Kola Nut (Cola acuminata) merupakan tumbuhan tropis yang berasal dari Afrika Barat, tepatnya wilayah hutan hujan tropis. Tanaman ini termasuk dalam famili Malvaceae dan telah dikenal selama berabad-abad oleh masyarakat lokal sebagai sumber stimulan alami. Biji dari buah kola mengandung kafein dan teobromin, menjadikannya komoditas penting dalam perdagangan tradisional maupun modern.

Baca Lebih Lanjut
Update: 15 Agu 2026 - 14:20:03
 

II. Ciri-ciri Pohon kola

Pohon ini asli dari hutan hujan tropis di Afrika Barat. Mereka suka banget sama lingkungan yang lembap, tanah yang subur dan kaya bahan organik, serta nggak terlalu suka terkena sinar matahari langsung secara terus-menerus saat masih muda. Karakteristik/ciri-ciri Pohon kola (Cola acuminata):

Bagian Ciri-Ciri
Batang Pohonnya bisa tumbuh cukup tinggi, sekitar 10-20 meter dengan kulit batang yang agak kasar dan berwarna abu-abu kecokelatan.
Daun Bentuk daunnya lonjong memanjang (elips) dengan ujung yang meruncing. Warnanya hijau tua, teksturnya halus, dan punya susunan tulang daun yang menyirip jelas.
Bunga Bunganya muncul dalam kelompok kecil, warnanya kuning pucat dengan guratan atau bercak merah/ungu di bagian dalamnya.
Buah Bentuk buahnya agak lonjong menyerupai polong besar yang kasar. Di dalam satu buah ini biasanya terdapat beberapa biji yang bentuknya bulat atau pipih.
Biji Nah, ini bagian paling ikonik. Bijinya (kacang kola) teksturnya keras, berwarna putih, merah muda, atau merah. Biji inilah yang mengandung kafein dan biasa dimanfaatkan sebagai stimulan.

III. Manfaat Pohon kola

7 Manfaat Pohon kola untuk kesehatan.

  1. Penunjang kewaspadaan dan fungsi kognitif

    Kafein dan teobromin bekerja sebagai antagonis nonselektif reseptor adenosin A1/A2A di sistem saraf pusat, sehingga menurunkan inhibisi adenosin terhadap pelepasan dopamin dan norepinefrin di korteks prefrontal. Kafein juga menghambat fosfodiesterase, meningkatkan cAMP/cGMP intraseluler, yang berkontribusi pada peningkatan atensi, waktu reaksi, dan pengurangan fatigue.

    Senyawa Aktif: Kafein, Teobromin
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi dan nyeri akibat inflamasi

    Polifenol seperti katekin, epikatekin, dan proanthocyanidin menghambat enzim COX-2 dan 5-LOX, menekan aktivasi NF-κB, serta menurunkan produksi sitokin proinflamasi TNF-α, IL-6, dan oksida nitrat. Efek ini mengurangi edema dan nyeri pada model inflamasi.

    Tampilkan
  3. Antimikroba pada infeksi bakteri dan jamur

    Tanin terkondensasi dan flavonoid monomerik mengganggu integritas membran sel mikroba, mengikat protein dan lipid dinding sel, mengkelat ion besi, serta menghambat enzim ekstraseluler bakteri. Efek ini bersifat broad-spectrum terhadap bakteri Gram-positif, Gram-negatif, dan fungi.

    Senyawa Aktif: Tanin terkondensasi, Katekin, Epikatekin
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+4)

Advertisement


IV. Kandungan Pohon kola

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Pohon kola.

  1. Golongan: Alkaloid (metilxantin)
    Bagian Tanaman: Biji (kotiledon)
    Aktivitas Farmakologis:
    Stimulan SSP Melalui Antagonisme Reseptor Adenosin; Meningkatkan Kewaspadaan, Atensi, Dan Mengurangi Kelelahan Pada Dosis Moderat..
    Tampilkan
  2. Teobromin

    Golongan: Alkaloid (metilxantin)
    Bagian Tanaman: Biji
    Aktivitas Farmakologis:
    Menghambat Fosfodiesterase; Memberikan Vasodilatasi Ringan, Efek Diuretik, Dan Stimulasi Kardiovaskular..
    Tampilkan
  3. (−)-Epikatekin

    Golongan: Flavonoid (flavan-3-ol)
    Bagian Tanaman: Biji
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Meningkatkan Aktivitas ENOS Dan Bioavailabilitas Nitrit Oksida, Sehingga Berpotensi Mendukung Fungsi Endotel Dan Kesehatan Kardiovaskular..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Pohon kola

Interaksi & Kontraindikasi Pohon kola dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Konsumsi bersamaan dengan minuman berkafein lain (kopi, teh, minuman energi)

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Batasi total kafein dari semua sumber di bawah 400 mg/hari pada dewasa sehat. Kola (Cola acuminata) mengandung kafein dan dapat menambah stimulasi berlebih. Referensi: EFSA (2015); Natural Medicines.

  2. Defisiensi zat besi atau anemia

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Hindari konsumsi kola bersamaan dengan makanan atau suplemen zat besi karena tanin dalam kola menghambat absorpsi zat besi non-heme. Referensi: Zijp et al. (2000); WHO/FAO.

  3. Diabetes melitus

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Gunakan dengan hati-hati; kafein dapat menurunkan sensitivitas insulin dan menyebabkan kenaikan gula darah akut. Awasi glukosa darah secara berkala. Referensi: Natural Medicines; EFSA (2015).

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+13)

VI. Efek Samping Pohon kola

Pohon kola (Cola acuminata) mengandung sejumlah senyawa bioaktif, dengan kafein dan teobromin sebagai komponen utama yang memberikan efek stimulan kuat pada sistem saraf pusat. Konsumsi produk yang berasal dari biji kola secara berlebihan dapat memicu berbagai efek samping yang berkaitan langsung dengan stimulasi adrenergik. Gejala umum yang sering dilaporkan meliputi peningkatan detak jantung (takikardia), peningkatan tekanan darah, kecemasan, kegelisahan, sakit kepala, serta gangguan tidur seperti insomnia. Kandungan kafein yang tinggi juga dapat merangsang sekresi asam lambung secara berlebihan, yang pada gilirannya berisiko menyebabkan iritasi lambung, mual, muntah, serta memperburuk kondisi bagi individu yang memiliki riwayat tukak lambung atau penyakit refluks asam (GERD).

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Pohon kola

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Pohon kola.

Apa kandungan fitokimia utama dari biji pohon kola (Cola acuminata) dan fungsinya?
Biji kola mengandung alkaloid purin, terutama kafein dan teobromin, serta tanin, flavonoid, saponin, dan glikosida. Kafein berfungsi sebagai stimulan sistem saraf pusat dengan memblokir reseptor adenosin, sehingga meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa lelah. Teobromin memiliki efek diuretik ringan dan stimulasi kardiovaskular. Polifenolnya memberikan aktivitas antioksidan. Kandungan kafein biji kola dilaporkan sekitar 1–2,5% menurut Iwu (2014), Handbook of African Medicinal Plants, CRC Press.
Bagaimana cara konsumsi sehari-hari Cola acuminata dan berapa batas amannya?
Biji kola dapat dikunyah segar atau kering, digiling menjadi bubuk lalu diseduh sebagai teh, atau digunakan sebagai komponen minuman dan makanan ringan. Tidak ada dosis baku khusus untuk kola, tetapi untuk menghindari efek berlebih, total kafein harian dari semua sumber pada orang dewasa sehat dibatasi 400 mg, dan 200 mg untuk dosis tunggal menurut EFSA (2015), Scientific Opinion on the Safety of Caffeine.
Apa manfaat kesehatan umum dari Cola acuminata yang didukung bukti ilmiah?
Bukti yang cukup kuat terutama pada efek stimulan kognitif: kafein dalam kola meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan mengurangi kelelahan. Ekstrak kola juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan antimikroba dalam sejumlah kajian in vitro. Iwu (2014) mencatat pemanfaatan tradisionalnya sebagai tonik dan stimulan, tetapi klaim terapeutik lain umumnya masih memerlukan uji klinis lebih lanjut.
Bagaimana penggunaan Cola acuminata dalam pengobatan tradisional?
Dalam pengobatan tradisional Afrika, biji kola dipakai untuk mengatasi kelelahan, meningkatkan stamina, meredakan mual, mengatasi diare, sakit kepala, dan sebagai tonik jantung serta peredaran darah. Beberapa kegunaan tradisional tersebut sejalan dengan efek farmakologis kafein dan polifenol, meskipun belum semua klaim memiliki bukti klinis yang kuat. Iwu (2014) memuat catatan etnomedisinal ini dan menekankan perlunya kehati-hatian dalam penggunaan.
Apa efek samping dari konsumsi Cola acuminata yang berlebihan?
Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan insomnia, gelisah, cemas, jantung berdebar, peningkatan tekanan darah, mual, dan iritasi lambung. Karena kola mengandung kafein, batas aman harian 400 mg sebaiknya tidak dilampaui pada orang dewasa sehat. EFSA (2015) menyatakan dosis tunggal hingga 200 mg dan asupan harian sampai 400 mg umumnya tidak menimbulkan masalah, tetapi pada individu sensitif efek samping dapat muncul pada dosis lebih rendah.
Apakah Cola acuminata aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui?
Tidak dianjurkan. Kafein menembus plasenta dan masuk ke dalam ASI. Pada ibu hamil, asupan kafein lebih dari 200 mg per hari berpotensi mengganggu pertumbuhan janin, sedangkan pada bayi yang mendapat ASI kafein dapat menyebabkan rewel dan gangguan tidur. EFSA (2015) menetapkan batas keamanan kafein untuk ibu hamil sebesar 200 mg per hari dan menyarankan kehati-hatian pada ibu menyusui. Oleh karena itu, penggunaan kola dalam bentuk biji atau ekstrak sebaiknya dihindari selama kehamilan dan menyusui.
Apakah Cola acuminata boleh diberikan kepada bayi dan anak-anak?
Tidak. Kafein dan stimulan lain dalam kola tidak dianjurkan untuk bayi dan anak karena sistem saraf serta kardiovaskular mereka masih berkembang dan lebih sensitif. Risiko yang dapat muncul antara lain gangguan tidur, gelisah, denyut jantung cepat, dan refluks. EFSA (2015) belum dapat menetapkan asupan kafein yang aman untuk anak-anak, sehingga konsumsi kola pada kelompok usia ini sebaiknya dihindari.
Apakah Cola acuminata dapat berinteraksi dengan obat-obatan?
Ya. Karena kafein dimetabolisme oleh enzim CYP1A2, kola dapat meningkatkan kadar obat yang dimetabolisme oleh enzim ini, seperti teofilin dan klozapin. Kombinasi dengan stimulan lain seperti efedrin atau pseudoefedrin dapat memicu hipertensi dan aritmia; konsumsi bersama inhibitor MAO juga dapat memperburuk efek stimulan. Oleh karena itu, penggunaan kola bersama obat resep harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan. Iwu (2014) juga mengingatkan perlunya kewaspadaan pada penggunaan kombinasi herbal dan obat sintetik.

Mate

Ilex paraguariensis

Damiana

Turnera diffusa

Cari: