Konsumsi jamur shiitake (Lentinula edodes), terutama dalam keadaan mentah atau setengah matang, dapat menimbulkan efek samping dermatologis yang dikenal sebagai Shiitake dermatitis. Kondisi ini dimediasi oleh polisakarida lentinan yang terkandung di dalam jamur, yang ketika dicerna dapat memicu pelepasan sitokin dan vasodilator, menyebabkan peradangan kulit berupa erupsi flagellata (garis-garis kemerahan menyerupai bekas cambukan) yang disertai rasa gatal hebat. Reaksi ini biasanya muncul dalam waktu 24 hingga 72 hari setelah konsumsi dan dapat bertahan hingga beberapa minggu[1].
Selain masalah pada kulit, konsumsi jamur shiitake mentah atau dimasak tidak matang juga sering dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan kembung akibat kandungan kitin yang tinggi yang sulit dicerna oleh lambung manusia. Pada individu yang memiliki sensitivitas tinggi atau alergi terhadap spora jamur, inhalasi atau konsumsi shiitake dapat memicu reaksi hipersensitivitas, termasuk asma okupasional, pneumonitis hipersensitivitas (sering disebut sebagai shiitake mushroom worker's lung), serta gangguan pernapasan lainnya[2].
Rekomendasi:
Berdasarkan panduan medis dan toksikologi klinis, para ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat tidak pernah mengonsumsi jamur shiitake dalam keadaan mentah. Proses memasak secara menyeluruh (pemanasan) sangat krusial untuk mendegradasi senyawa lentinan labil panas yang menjadi pemicu utama reaksi dermatitis flagellata. Bagi individu yang memiliki riwayat gangguan pencernaan sensitif, asma, atau alergi terhadap jamur, disarankan untuk mengonsumsi dalam porsi kecil terlebih dahulu atau menghindarinya sama sekali[3].
Jika setelah mengonsumsi jamur shiitake muncul gejala ruam kulit khas berupa garis-garis merah yang gatal atau gangguan gastrointestinal yang parah, pasien sangat dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit atau tenaga medis profesional. Pengobatan umumnya bersifat suportif, meliputi pemberian antihistamin atau kortikosteroid topikal/sistemik untuk meredakan inflamasi kulit, serta penghentian total konsumsi jamur shiitake hingga gejala benar-benar sembuh[4].
Referensi:
- Nakamura, T., et al. (2012). Shiitake (Lentinula edodes) dermatitis: a review of 34 cases. Dermatology, 224(4), 370-376.
- Kanekura, T., et al. (2013). Shiitake dermatitis: flagellate eruption caused by Lentinan. Contact Dermatitis, 68(2), 123-124.
- Haq, N., et al. (2018). Mushroom worker's lung: hypersensitivity pneumonitis caused by Lentinula edodes spores. Thorax, 73(5), 498-500.
- Ahluwalia, J., & Jorizzo, J. L. (2016). Shiitake dermatitis: a case report and review of the literature. Cutis, 97(2), E12-E14.