Katuki

Picrorhiza scrophulariiflora
Nama
Katuki
Nama Latin/Ilmiah
Picrorhiza scrophulariiflora
Bagian Digunakan
Akar, Rimpang
Rasa
Tikta (pahit)
Nama Lain
Kutki (India), Kutki (Nepal), Hu Huang Lian (China), Kadu (India), Kutki (Pakistan)
Asal
Himalaya Timur (Nepal, Bhutan, Sikkim, dan Tibet).
Kandungan Utama
Glikosida iridoid (picroside I, II, III, dan kutkoside), glikosida feniletanoid, dan asetofenon (apocynin dan androsin).

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Katuki

Picrorhiza scrophulariiflora, yang dikenal sebagai Katuki dalam pengobatan Ayurveda, adalah tumbuhan herbal abadi yang tumbuh di kawasan Himalaya, terutama pada ketinggian 3.000–4.500 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini termasuk famili Plantaginaceae dan memiliki rhizoma (rimpang) yang tebal serta akar yang berwarna cokelat kehitaman. Bagian yang paling sering digunakan adalah rimpang dan akarnya yang mengandung senyawa aktif utama seperti iridoid glikosida, yaitu kutkin, picroside I, dan picroside II. Kandungan inilah yang memberikan rasa pahit yang khas dan menjadi dasar utama khasiat terapeutik Katuki, terutama sebagai hepatoprotektor, antiinflamasi, dan antioksidan.

Baca Lebih Lanjut
Update: 04 Sep 2026 - 09:41:54
 

II. Ciri-ciri Katuki

Tumbuh subur di daerah pegunungan tinggi, tepatnya di celah-celah bebatuan atau lereng berbatu di wilayah Himalaya pada ketinggian sekitar 3.000 hingga 5.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini menyukai udara dingin dan kelembapan yang cukup. Karakteristik/ciri-ciri Katuki (Picrorhiza scrophulariiflora):

Bagian Ciri-Ciri
Akar Berupa rimpang yang merayap, tebal, dan agak berkayu dengan tekstur yang sedikit pahit jika dicicipi.
Batang Batang cenderung pendek, ramping, dan tertutup oleh sisa-sisa daun lama yang sudah mengering.
Daun Daunnya tumbuh mengumpul di pangkal (tipe roset), berbentuk bulat telur melebar, dan tepinya bergerigi kasar. Warnanya hijau tua dengan tekstur agak kaku.
Bunga Bunga muncul di ujung batang dengan susunan seperti bulir. Warnanya cenderung kebiruan, ungu, atau putih pucat dengan bentuk kelopak yang khas.
Buah Dan Biji Menghasilkan buah kapsul kecil yang di dalamnya berisi banyak biji berukuran sangat halus untuk perkembangbiakan.

III. Manfaat Katuki

7 Manfaat Katuki untuk kesehatan.

  1. Hepatoprotektif — kerusakan hati akibat zat hepatotoksik (CCl4, parasetamol, alkohol)

    Picroside I, picroside II, dan kutkoside menstabilkan membran hepatosit, menurunkan peroksidasi lipid (MDA), menjaga kadar GSH, SOD, dan katalase; menghambat aktivasi CYP2E1 sehingga pembentukan metabolit radikal toksik berkurang; menekan jalur NF-κB/TNF-α dan apoptosis sel hati. Dampaknya berupa penurunan ALT, AST, ALP dan perbaikan histologi hati.

    Senyawa Aktif: Picroside I, Picroside II, Kutkoside
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi — peradangan kronis dan nyeri sendi/osteoartritis

    Picroside II dan iridoid lain menghambat degradasi IκBα sehingga NF-κB tidak masuk inti; menekan MAPK (p38/JNK/ERK); menurunkan TNF-α, IL-1β, IL-6, PGE2; menurunkan COX-2 dan iNOS; pada kondrosit menurunkan MMP-13 dan ADAMTS-5 sehingga kerusakan tulang rawan berkurang.

    Senyawa Aktif: Picroside II, Picroside I, Kutkoside
    Tampilkan
  3. Antioksidan — pencegahan stres oksidatif seluler

    Senyawa fenolik iridoid menangkap radikal DPPH/ABTS; mengaktifkan Nrf2/ARE dan meningkatkan enzim fase II (HO-1, NQO1, SOD, katalase); menurunkan malondialdehid dan protein carbonyl akibat radikal bebas.

    Senyawa Aktif: Picroside II, Kutkoside, Picroside I
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+4)

Advertisement


IV. Kandungan Katuki

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Katuki.

  1. Picroside I (6-O-cinnamoylcatalpol)

    Golongan: Iridoid glikosida
    Bagian Tanaman: Rimpang dan akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Hepatoprotektif; Melindungi Sel Hati Terhadap Kerusakan Akibat Karbon Tetraklorida Dan D-galaktosamin Pada Model Hewan.
    Tampilkan
  2. Picroside II (6-O-vanilloylcatalpol)

    Golongan: Iridoid glikosida
    Bagian Tanaman: Rimpang dan akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Neuroprotektif; Mengurangi Apoptosis Neuron Dan Menekan Inflamasi Mikroglia Pada Model Iskemia Dan Stres Oksidatif.
    Tampilkan
  3. Kutkoside

    Golongan: Iridoid glikosida
    Bagian Tanaman: Rimpang dan akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Hepatoprotektif Dan Imunomodulator; Komponen Kutkin Yang Digunakan Dalam Studi Perlindungan Hati Pada Hewan.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Katuki

Interaksi & Kontraindikasi Katuki dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Penggunaan bersamaan dengan Pasien dewasa sehat yang memakai dosis lazim tanpa obat resep penyerta

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Belum ada laporan interaksi yang bermakna, tetapi hindari penggunaan lebih dari 4–6 minggu tanpa pengawasan tenaga kesehatan; hentikan bila muncul gangguan pencernaan atau ruam.

  2. Penggunaan bersamaan dengan Pasien diabetes mellitus yang mendapat insulin atau obat hipoglikemik oral (sulfonilurea, metformin)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Katuki dapat menambah efek penurun gula darah. Pantau kadar glukosa rutin dan konsultasikan sebelum menggabungkan; kewaspadaan khusus pada pasien yang menjalani puasa.

  3. Ibu menyusui serta bayi/anak kecil

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Data keamanan masih kurang; hindari pada bayi dan anak kecil. Pada ibu menyusui tidak direkomendasikan karena belum diketahui ekskresinya ke ASI.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+4)

VI. Efek Samping Katuki

Katuki (Picrorhiza scrophulariiflora) adalah tanaman obat tradisional yang sering digunakan dalam sistem pengobatan Ayurveda untuk mengatasi gangguan pencernaan, masalah hati, dan peradangan. Meskipun memiliki potensi terapeutik, konsumsi Katuki dapat menimbulkan beberapa efek samping, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau jangka panjang. Efek samping yang paling umum dilaporkan berkaitan dengan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, kolik abdomen, dan diare. Senyawa aktif glikosida iridoid di dalamnya dapat mengiritasi mukosa lambung pada individu yang sensitif, sehingga memicu rasa tidak nyaman di perut.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Katuki

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Katuki.

Apa itu Katuki (Picrorhiza scrophulariiflora) dan apa kandungan aktifnya?
Katuki adalah tanaman herbal dari famili Plantaginaceae yang banyak digunakan dalam pengobatan Ayurveda dan pengobatan tradisional Tiongkok. Bagian yang digunakan terutama rimpangnya. Kandungan utama yang bertanggung jawab atas aktivitas biologis adalah iridoid glikosida, terutama picroside I, picroside II, kutkoside, dan apocynin. Senyawa ini dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan hepatoprotektif. Referensi: Journal of Natural Products, Phytochemistry, dan Planta Medica.
Bagaimana cara mengonsumsi Katuki dengan aman, dan berapa dosis harian yang dianjurkan?
Belum ada dosis standar yang disetujui secara resmi. Dalam praktik Ayurveda, bubuk kering rimpang Katuki umumnya dikonsumsi 1-3 gram per hari, dicampur air hangat atau madu, dibagi menjadi dua hingga tiga kali. Untuk ekstrak, beberapa produk menggunakan 400-600 mg ekstrak standar yang mengandung 4-5% picroside. Namun, karena rasanya pahit dan berpotensi mengiritasi lambung, pengguna disarankan memulai dari dosis rendah dan berkonsultasi dengan dokter. Referensi: Ayurvedic Pharmacopoeia of India, Journal of Ayurveda and Integrative Medicine.
Apa saja efek samping yang bisa timbul dari penggunaan Katuki?
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, nyeri lambung, dan rasa pahit yang berlebihan. Pada sebagian orang dapat timbul reaksi alergi berupa ruam kulit, gatal, atau kemerahan. Dosis tinggi dan penggunaan jangka panjang berisiko menyebabkan kerusakan hati atau ginjal. Jika mengalami gejala berat, segera hentikan penggunaan dan cari bantuan medis. Referensi: Natural Medicines Comprehensive Database, Pharmacognosy Review.
Apakah Katuki bermanfaat untuk mengobati gangguan hati?
Berbagai studi menunjukkan bahwa ekstrak Katuki dan senyawa aktifnya, seperti picroside I dan kutkoside, memiliki aktivitas hepatoprotektif. Pada hewan percobaan, pemberian ekstrak ini dapat mengurangi kerusakan sel hati akibat karbon tetraklorida, parasetamol, dan alkohol. Sebuah studi klinis yang dipublikasikan pada tahun 1992 di Journal of Ethnopharmacology melaporkan perbaikan fungsi hati pada pasien hepatitis B kronis. Namun, data ilmiah masih terbatas sehingga tidak bisa menggantikan pengobatan medis. Referensi: Journal of Ethnopharmacology (1992), Hepatology Research.
Apakah Katuki dapat membantu menurunkan gula darah?
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa picroside dan kutkoside dari Katuki dapat menurunkan kadar glukosa darah, meningkatkan sekresi insulin, dan memperbaiki toleransi glukosa. Apocynin juga memiliki efek antioksidan yang dapat mengurangi stres oksidatif yang terkait komplikasi diabetes. Namun, uji klinis pada manusia masih sangat terbatas. Penderita diabetes yang menggunakan obat antidiabetes harus berhati-hati karena kombinasi dengan Katuki berpotensi menyebabkan hipoglikemia. Referensi: Phytomedicine, Journal of Diabetes Research.
Apakah Katuki aman untuk anak-anak?
Keamanan dan dosis Katuki pada bayi serta anak-anak belum pernah diteliti secara memadai. Herbal ini memiliki rasa pahit yang kuat dan aktivitas imunomodulator yang dapat memengaruhi sistem kekebalan anak yang masih berkembang. Karena itu, pemberian Katuki kepada bayi, balita, dan anak-anak tidak dianjurkan kecuali atas resep dan pengawasan tenaga kesehatan profesional yang berpengalaman dalam herbal pediatrik. Referensi: Indian Journal of Pediatrics, Journal of Pediatric Pharmacology and Therapeutics.
Apakah Katuki aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Penggunaan Katuki selama kehamilan dan menyusui tidak disarankan karena belum ada cukup data keamanan. Secara tradisional, Katuki dianggap memiliki efek emmenagogue, yaitu dapat merangsang menstruasi dan kontraksi rahim, sehingga berisiko meningkatkan keguguran atau kelahiran prematur. Selain itu, belum diketahui apakah senyawa aktifnya diekskresikan ke dalam ASI. Oleh karena itu, sebaiknya hindari Katuki pada periode kehamilan dan laktasi. Referensi: Natural Medicines Comprehensive Database, Journal of Obstetrics and Gynaecology Research.
Apakah Katuki dapat berinteraksi dengan obat-obatan?
Ya. Katuki berpotensi berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Efek hipoglikemiknya dapat menambah efek obat antidiabetes dan menyebabkan gula darah turun berlebihan. Karena memiliki efek imunostimulan, Katuki dapat mengurangi efektivitas obat imunosupresan seperti siklosporin. Senyawa iridoidnya juga dimetabolisme oleh enzim sitokrom P450 di hati, sehingga dapat memengaruhi kadar obat yang diproses oleh enzim tersebut. Pastikan untuk menginformasikan penggunaan Katuki kepada dokter atau apoteker. Referensi: Current Drug Metabolism, European Journal of Clinical Pharmacology.

Priyangu

Callicarpa macrophylla

Anggur

Vitis vinifera

Cari: