Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Studi Komprehensif Fitokimia, Etnofarmakologi, dan Aktivitas Farmakologi Tanaman Tempuyung (Sonchus arvensis L.)

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    158 artikel Scopus/PubMed yang dipublikasikan periode 2000-2023
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (studi pustaka)
    Temuan:
    Tempuyung mengandung flavonoid, fenolik, dan seskuiterpen lakton yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, diuretik, serta nefroprotektif. Temuan ini mendukung penggunaan tradisional tempuyung untuk membantu mengatasi batu ginjal dan hipertensi.
  2. Efek Hipoglikemik Ekstrak Etanol Daun Tempuyung pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Wistar jantan, dibagi 5 kelompok: kontrol normal, kontrol diabetes, dan 3 kelompok dosis ekstrak
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kgBB oral sekali sehari selama 28 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol daun tempuyung dosis 400 mg/kgBB menurunkan kadar glukosa darah puasa dari 289 mg/dL menjadi 132 mg/dL. Kadar MDA juga turun dan kadar SOD meningkat secara signifikan, menunjukkan efek antioksidan.
  3. Penghambatan Aktivitas Xantin Oksidase oleh Ekstrak dan Fraksi Daun Tempuyung serta Efek Antihiperurisemia pada Tikus

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi in vitro dan in vivo
    Sampel:
    40 ekor tikus jantan hiperurisemia yang diinduksi potassium oksonat; ekstrak dan fraksi diuji in vitro
    Dosis/Durasi:
    75 dan 150 mg/kgBB oral selama 14 hari; uji in vitro pada konsentrasi 10–100 µg/mL
    Temuan:
    Fraksi etil asetat daun tempuyung menunjukkan aktivitas inhibisi xantin oksidase dengan IC50 sebesar 37,5 µg/mL. Pada dosis 150 mg/kgBB, kadar asam urat serum turun sekitar 48% setelah 14 hari pemberian.
  4. Efek Nefroprotektif Ekstrak Tempuyung terhadap Pembentukan Batu Kalsium Oksalat pada Tikus Model Nefrolitiasis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    24 ekor tikus Sprague-Dawley yang diinduksi etilen glikol 0,75% dan amonium klorida 1% selama 28 hari
    Dosis/Durasi:
    150, 300, dan 600 mg/kgBB oral sekali sehari selama 28 hari
    Temuan:
    Ekstrak tempuyung dosis 300 mg/kgBB menurunkan jumlah kristal kalsium oksalat dalam urin dan jaringan ginjal. Terdapat perbaikan histologi tubulus ginjal serta penurunan kadar kreatinin serum.
  5. Aktivitas Antioksidan dan Respons Anti-Inflamasi Ekstrak Metanol Sonchus arvensis pada Makrofag RAW264.7

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi in vitro
    Sampel:
    Sel murin RAW264.7 yang distimulasi lipopolisakarida (LPS) 1 µg/mL
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 25–200 µg/mL; inkubasi 24 jam
    Temuan:
    Ekstrak metanol tempuyung pada konsentrasi 100 µg/mL menurunkan produksi nitric oxide sebesar 65% serta menurunkan ekspresi TNF-α dan IL-6. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan fenolik dan flavonoid.
  6. Meta-Analisis Pengaruh Ekstrak Tempuyung terhadap Kadar Kreatinin Serum dan Volume Urin pada Model Hewan

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    7 studi pra-klinis dengan total 168 ekor tikus yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi 100–500 mg/kgBB oral; durasi 14–28 hari
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan ekstrak tempuyung menurunkan kadar kreatinin serum secara signifikan (SMD = −1,32; 95% CI −1,88 hingga −0,76) dan meningkatkan volume urin (SMD = 2,04). Efek nefroprotektif konsisten meskipun dosis dan durasi antar studi masih bervariasi.
  7. Penambatan Molekuler dan Prediksi Farmakokinetik Senyawa Aktif Daun Tempuyung sebagai Inhibitor ACE dan α-Glukosidase

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi in silico
    Sampel:
    28 senyawa fitokimia Sonchus arvensis yang ditambatkan terhadap protein target ACE (PDB 1O8A) dan α-glukosidase (PDB 3W37)
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (studi komputasi)
    Temuan:
    Senyawa luteolin-7-O-glukosida dan asam klorogenat menunjukkan skor afinitas pengikatan lebih rendah dibandingkan lisinopril dan akarbosa. Prediksi ADMET menunjukkan kedua senyawa memiliki bioavailabilitas oral yang baik.

Advertisement


Cari: