Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek ekstrak akar Purwoceng (Pimpinella pruatjan) terhadap kadar testosteron dan kualitas sperma tikus diabetes

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan yang diinduksi streptozotocin, dibagi menjadi 6 kelompok
    Dosis/Durasi:
    100 dan 200 mg/kgBB/hari per oral selama 28 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Purwoceng meningkatkan kadar testosteron, jumlah sperma, dan motilitas sperma pada tikus diabetes. Dosis 200 mg/kgBB menunjukkan efek paling tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
  2. Keanekaragaman jamur endofit akar Purwoceng (Pimpinella pruatjan) dan aktivitas antibakterinya

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental mikrobiologi
    Sampel:
    15 isolat jamur endofit yang diisolasi dari akar Purwoceng
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (studi in vitro)
    Temuan:
    Beberapa isolat jamur endofit dari akar Purwoceng memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Isolat dengan kode KJ45 menunjukkan zona hambat paling kuat.
  3. Aktivitas afrodisiak Purwoceng (Pimpinella pruatjan) melalui jalur nitrat oksida pada tikus jantan

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan, dibagi 5 kelompok
    Dosis/Durasi:
    50, 100, dan 200 mg/kgBB/hari per oral selama 21 hari
    Temuan:
    Ekstrak Purwoceng meningkatkan frekuensi kopulasi, ejakulasi, serta kadar nitrat oksida plasma. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan relaksasi otot polos kavernosum.
  4. Profil fitokimia dan aktivitas antioksidan akar Purwoceng (Pimpinella pruatjan)

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi analitik laboratoris
    Sampel:
    Ekstrak etanol akar Purwoceng dari tiga populasi di Dataran Tinggi Dieng
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (studi in vitro)
    Temuan:
    Skrining fitokimia menunjukkan adanya flavonoid, alkaloid, saponin, dan steroid. Ekstrak Purwoceng memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 sebesar 68 µg/mL.
  5. Tinjauan sistematis efektivitas Purwoceng (Pimpinella pruatjan) terhadap kesehatan reproduksi pria

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    12 artikel primer yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri atas 11 studi hewan dan 1 studi in vitro
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan (studi pustaka)
    Temuan:
    Tinjauan menemukan bukti yang konsisten bahwa Purwoceng meningkatkan kadar testosteron dan perilaku seksual pada hewan coba. Namun, belum ada cukup bukti klinis pada manusia karena uji terkontrol masih terbatas.
  6. Toksikologi subkronis ekstrak akar Purwoceng (Pimpinella pruatjan) pada tikus Sprague-Dawley

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi toksisitas eksperimental
    Sampel:
    40 ekor tikus Sprague-Dawley (20 jantan dan 20 betina)
    Dosis/Durasi:
    250, 500, dan 1000 mg/kgBB/hari per oral selama 90 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak hingga 1000 mg/kgBB/hari selama 90 hari tidak menyebabkan kematian atau perubahan signifikan pada histopatologi hati dan ginjal. Nilai NOAEL ditetapkan pada 250 mg/kgBB/hari.
  7. Perbandingan efek ekstrak Purwoceng (Pimpinella pruatjan) terhadap ekspresi PDE5 dan relaksasi jaringan kavernosum

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Jaringan kavernosum tikus dan ekstrak etanol Purwoceng dengan konsentrasi berbeda
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 1, 10, dan 100 µg/mL secara in vitro
    Temuan:
    Ekstrak Purwoceng menghambat aktivitas enzim PDE5 secara dosis-tergantung. Efek ini berpotensi menjadi mekanisme kerja Purwoceng dalam meningkatkan ereksi.
  8. Meta-analisis efek tanaman herbal Indonesia, termasuk Purwoceng (Pimpinella pruatjan), terhadap kadar testosteron pada hewan coba

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-analisis
    Sampel:
    8 studi yang melibatkan total 210 tikus jantan
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi antara 50–300 mg/kgBB/hari selama 21–42 hari
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Purwoceng secara signifikan meningkatkan kadar testosteron dibandingkan kontrol (SMD 0,91; 95% CI 0,45–1,37). Heterogenitas antarstudi tergolong tinggi, sehingga interpretasi tetap perlu hati-hati.

Advertisement


Cari: