Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Studi Sistematis Etnofarmakologi, Fitokimia, dan Aktivitas Farmakologi Ketumbar Bolivia (Porophyllum ruderale)

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    18 artikel dari PubMed, Scopus, dan SciELO yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan/tidak dilaporkan
    Temuan:
    Porophyllum ruderale mengandung senyawa bioaktif seperti terpenoid dan poliasetilen, serta menunjukkan aktivitas antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasi. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa tanaman ini berpotensi sebagai sumber senyawa obat, tetapi uji klinis lanjutan masih diperlukan.
  2. Komposisi Kimia dan Aktivitas Antioksidan Minyak Atsiri Daun Ketumbar Bolivia dari Cerrado Brasil

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental Laboratorium
    Sampel:
    Daun segar Porophyllum ruderale sebanyak 2,5 kg dikoleksi di Goiás, Brasil; minyak atsiri diperoleh melalui distilasi hidro.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi uji 10–200 µg/mL; inkubasi 30 menit pada uji DPPH.
    Temuan:
    Komponen utama minyak atsiri adalah (E)-β-ocimene, limonene, dan α-phellandrene. Minyak atsiri menunjukkan aktivitas antioksidan sedang pada uji DPPH dengan nilai IC50 45,2 µg/mL.
  3. Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Minyak Atsiri Porophyllum ruderale terhadap Bakteri Patogen Pangan

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Uji Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Minyak atsiri diuji terhadap 8 bakteri, termasuk Staphylococcus aureus ATCC 29213, Escherichia coli ATCC 25922, Listeria monocytogenes, dan Salmonella Typhimurium.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 0,0625–1% (v/v); waktu kontak 24 jam.
    Temuan:
    Minyak atsiri menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) 0,125–0,5%. Pada konsentrasi 0,25%, minyak menghambat pembentukan biofilm Staphylococcus aureus hingga 82%.
  4. Aktivitas Larvasida Minyak Atsiri Porophyllum ruderale terhadap Aedes aegypti

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Uji Eksperimental Laboratorium
    Sampel:
    Larva instar III/IV Aedes aegypti, 4 kelompok perlakuan, masing-masing terdiri atas 25 larva.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 12,5–200 µg/mL; pengamatan pada 24 dan 48 jam.
    Temuan:
    Minyak atsiri bersifat larvasidal dengan LC50 58,3 µg/mL setelah 24 jam. Komponen mayor (E)-β-ocimene diduga berperan sebagai senyawa toksik utama.
  5. Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Porophyllum ruderale pada Model Inflamasi Akut

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 mencit Swiss jantan yang dibagi menjadi 6 kelompok: kontrol negatif, kontrol positif, dan 4 kelompok dosis ekstrak.
    Dosis/Durasi:
    Dosis ekstrak 50, 100, 200, dan 300 mg/kgBB; diberikan per oral sekali sebelum induksi karagenan.
    Temuan:
    Ekstrak etanol dosis 300 mg/kgBB secara signifikan menekan edema kaki yang diinduksi karagenan setelah 3 jam. Efek antiinflamasi tersebut diduga berkaitan dengan penghambatan mediator inflamasi.
  6. Sitotoksisitas Ekstrak Porophyllum ruderale dan Induksi Apoptosis pada Sel Kanker Kolorektal

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Uji Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Sel line HCT116 (kanker kolorektal) dan sel normal CCD-18Co; tiga ulangan independen.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 3,125–200 µg/mL; waktu inkubasi 48 jam.
    Temuan:
    Ekstrak Porophyllum ruderale menunjukkan sitotoksisitas selektif terhadap sel HCT116 dengan IC50 62,5 µg/mL dan meningkatkan apoptosis hingga 3,4 kali lipat dibanding kontrol. Aktivitas ini berkaitan dengan peningkatan ekspresi protein pro-apoptosis.
  7. Aktivitas Insektisida Minyak Atsiri Porophyllum ruderale terhadap Hama Sitophilus zeamais

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Uji Eksperimental Laboratorium
    Sampel:
    Serangga dewasa Sitophilus zeamais sebanyak 200 ekor; lima ulangan per konsentrasi.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi fumigan 2,5–40 µL/L udara; dosis kontak 2,5–20 µL/g; pengamatan pada 24 dan 48 jam.
    Temuan:
    Minyak atsiri Porophyllum ruderale memiliki efek fumigan dengan LC50 12,8 µL/L udara serta efek toksisitas kontak pada dosis 10 µL/g. Efektivitasnya bertahan hingga 48 jam pengamatan.

Advertisement


Cari: