Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Tinjauan Sistematis: Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi Akar Ranggitan (Rubia cordifolia L.)

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    37 artikel terindeks Scopus/PubMed yang memuat data fitokimia dan aktivitas biologis Rubia cordifolia
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan untuk tinjauan sistematis; pada studi yang dianalisis, dosis ekstrak berkisar 50–400 mg/kg berat badan/hari.
    Temuan:
    Ranggitan kaya akan antrakuinon seperti alizarin, purpurin, dan rubiadin yang berkontribusi pada aktivitas antioksidan, antiinflamasi, hepatoprotektif, dan antikanker. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa ekstrak akar Ranggitan berpotensi dikembangkan sebagai fitofarmaka untuk penyakit peradangan dan degeneratif.
  2. Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Akar Ranggitan pada Tikus yang Mengalami Artritis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Wistar jantan yang diinduksi artritis menggunakan complete Freund's adjuvant
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 100, 200, dan 400 mg/kg berat badan/hari diberikan secara oral selama 14 hari.
    Temuan:
    Ekstrak Ranggitan menurunkan edema kaki dan kadar sitokin proinflamasi TNF-α serta IL-6 secara signifikan. Efek antiinflamasinya sebanding dengan indometasin, terutama pada dosis 400 mg/kg.
  3. Efektivitas dan Keamanan Krim Ekstrak Ranggitan pada Pasien Psoriasis Plak: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    60 pasien psoriasis plak derajat ringan hingga sedang
    Dosis/Durasi:
    Krim 2% ekstrak Ranggitan dioleskan dua kali sehari selama 12 minggu.
    Temuan:
    Krim yang mengandung 2% ekstrak Ranggitan memperbaiki skor PASI dan kualitas hidup pasien psoriasis secara bermakna dibandingkan plasebo. Tidak ditemukan efek samping serius selama 12 minggu penggunaan.
  4. Aktivitas Hepatoprotektif Ekstrak Air Rubia cordifolia terhadap Kerusakan Hati Akibat Parasetamol pada Tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    24 ekor tikus Sprague-Dawley yang diinduksi hepatotoksisitas dengan parasetamol dosis toksik
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak air 100 dan 250 mg/kg berat badan/hari diberikan secara oral selama 7 hari sebelum induksi parasetamol dan dilanjutkan 7 hari setelahnya.
    Temuan:
    Pemberian Ranggitan menurunkan kadar ALT, AST, dan malondialdehid serta meningkatkan superoksida dismutase pada tikus yang mengalami cedera hati. Hal ini menunjukkan efek protektif terhadap kerusakan hati akibat stres oksidatif.
  5. Meta-Analisis Efek Sitotoksik Rubia cordifolia terhadap Berbagai Lini Sel Kanker Secara In Vitro

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    14 studi in vitro yang melibatkan lini sel MCF-7, HeLa, HepG2, A549, dan HT-29
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan; rentang konsentrasi uji IC50 2,5–80 µg/mL dengan durasi paparan 24–72 jam.
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa purpurin dan mollugin dari Ranggitan menghambat proliferasi sel tumor dan meningkatkan apoptosis. Efek sitotoksik bervariasi tergantung jenis senyawa aktif, konsentrasi, dan lini sel yang diuji.
  6. Penelusuran Mekanisme Terapeutik Ranggitan untuk Peradangan Kulit melalui Network Pharmacology dan Molecular Docking

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi In Silico
    Sampel:
    28 senyawa bioaktif dari Rubia cordifolia dan 5 protein target inflamasi, yaitu TNF-α, COX-2, IL-6, NF-κB, dan iNOS
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan; analisis docking dilakukan secara virtual tanpa pemberian dosis.
    Temuan:
    Senyawa mollugin dan rubiadin berikatan stabil dengan TNF-α dan COX-2 pada sisi aktif protein. Jalur inflamasi tersebut menjelaskan penggunaan tradisional Ranggitan dalam mengobati penyakit kulit radang.
  7. Aktivitas Antimikroba dan Antibiofilm Ekstrak Akar Ranggitan terhadap Staphylococcus aureus Resisten Metisilin

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Laboratorium In Vitro
    Sampel:
    6 isolat Staphylococcus aureus, terdiri atas 3 isolat MSSA dan 3 isolat MRSA
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 0,1–5 mg/mL dengan waktu inkubasi 24 jam.
    Temuan:
    Ekstrak akar Ranggitan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambat 8–16 mm. Aktivitas antibiofilm juga terlihat pada konsentrasi sub-MIC, terutama terhadap isolat MRSA.

Advertisement


Cari: