Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas penyembuhan luka ekstrak etanol daun iler (Coleus scutellarioides) pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Wistar jantan (umur 8–10 minggu, berat 180–220 g) yang diinduksi diabetes dengan streptozotocin dan diberi luka eksisi 6 mm
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 70% diberikan oral melalui sonde sekali sehari dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB selama 14 hari.
    Temuan:
    Ekstrak etanol daun iler dosis 400 mg/kgBB mempercepat epitelisasi dan meningkatkan kepadatan kolagen pada luka dibandingkan kelompok kontrol. Efek tersebut sebanding dengan gel standar, mendukung penggunaan tradisional iler sebagai penyembuh luka.
  2. Efek anti-inflamasi dan antioksidan ekstrak daun iler (Coleus scutellarioides) pada makrofag RAW 264.7 yang diinduksi lipopolisakarida

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel makrofag RAW 264.7; ekstrak etil asetat daun iler; konsentrasi 1–50 µg/mL; tiga ulangan independen
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 1–50 µg/mL diberikan selama 24 jam pada kultur sel.
    Temuan:
    Ekstrak yang kaya asam rosmarinat menurunkan produksi nitrit oksida dan TNF-α secara signifikan. Ekspresi iNOS dan COX-2 juga tertekan, menunjukkan mekanisme anti-inflamasi melalui penghambatan jalur NF-κB.
  3. Tinjauan sistematis: fitokimia, aktivitas farmakologis, dan keamanan tanaman iler (Coleus scutellarioides)

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    Database Scopus, PubMed, dan Web of Science; 24 studi primer (2015–2021) yang meliputi uji in vitro, in vivo, dan studi kualitatif fitokimia
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku karena merupakan systematic review.
    Temuan:
    Tinjauan ini mengonfirmasi bukti aktivitas antioksidan, antibakteri, anti-inflamasi, dan penyembuhan luka dari Coleus scutellarioides. Kualitas metodologis sebagian besar studi masih rendah dan diperlukan uji klinis pada manusia untuk validasi lebih lanjut.
  4. Aktivitas antimikroba minyak atsiri daun iler (Plectranthus scutellarioides) terhadap bakteri MRSA dan Pseudomonas aeruginosa

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Minyak atsiri dari daun segar dan kering iler; uji mikrodilusi terhadap MRSA ATCC 43300 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi minyak atsiri 0,0625–4% v/v; inkubasi 24 jam untuk pengukuran MIC dan MBC.
    Temuan:
    Minyak atsiri iler kaya monoterpenoid, dan pada konsentrasi 0,5–1% mampu menghambat pertumbuhan MRSA. Efek antibiofilm terhadap Pseudomonas aeruginosa juga diamati pada konsentrasi sub-MIC.
  5. Efek hepatoprotektif ekstrak daun iler (Coleus scutellarioides) terhadap cedera hati akibat parasetamol pada tikus

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    40 ekor tikus Sprague-Dawley dibagi dalam 5 kelompok; ekstrak etanol daun iler dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak diberikan oral selama 7 hari; pada hari ke-7, tikus diinduksi parasetamol 2 g/kgBB.
    Temuan:
    Ekstrak iler menurunkan kadar ALT, AST, dan malondialdehid serta memperbaiki histologi hepar setelah induksi parasetamol. Efek hepatoprotektif ini diperkirakan berkaitan langsung dengan aktivitas antioksidan asam rosmarinat.
  6. Potensi antidiabetes ekstrak kaya polifenol daun iler (Coleus scutellarioides) pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    36 ekor tikus Wistar diabetes yang diinduksi streptozotocin 50 mg/kgBB; kelompok ekstrak 150, 300, dan 600 mg/kgBB serta kontrol glibenklamid
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak diberikan oral sekali sehari selama 28 hari dengan dosis 150, 300, dan 600 mg/kgBB.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak iler menurunkan glukosa darah dan HbA1c serta meningkatkan ekspresi GLUT4 pada jaringan otot. Dosis 600 mg/kgBB memberikan efek hipoglikemik yang sebanding dengan glibenklamid tanpa menunjukkan toksisitas.
  7. Uji toksisitas akut dan subkronik ekstrak etanol 70% daun iler (Coleus scutellarioides) pada tikus

    Tahun:
    2025
    Tipe:
    Studi toksikologi
    Sampel:
    Tikus Sprague-Dawley jantan dan betina; uji akut 10 ekor/kelompok (OECD 423) dan uji subkronik 40 ekor (OECD 407)
    Dosis/Durasi:
    Dosis 500, 1000, dan 2000 mg/kgBB diberikan oral; pengamatan akut 14 hari dan subkronik 28 hari.
    Temuan:
    LD50 oral ekstrak iler lebih dari 5000 mg/kgBB sehingga tergolong praktis tidak toksik pada pemberian akut. Pada uji subkronik 28 hari, tidak ditemukan perubahan signifikan pada berat organ, hematologi, dan biokimia; NOAEL ditetapkan sebesar 1000 mg/kgBB/hari.
  8. Aktivitas sitotoksik fraksi etil asetat daun iler (Coleus scutellarioides) terhadap sel T47D dan modulasi apoptosis

    Tahun:
    2026
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel adenokarsinoma payudara T47D; fraksi etil asetat daun iler; konsentrasi 10–200 µg/mL; tiga ulangan
    Dosis/Durasi:
    Kultivasi sel dengan fraksi 10–200 µg/mL selama 48 jam.
    Temuan:
    Fraksi etil asetat iler menunjukkan IC50 sebesar 78,5 µg/mL dan menginduksi apoptosis melalui peningkatan rasio Bax/Bcl-2. Fraksi tidak menunjukkan sitotoksisitas terhadap sel normal MCF-10A pada konsentrasi yang sama.

Advertisement


Cari: