Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efikasi dan keamanan Lianhua Qingwen untuk COVID-19: tinjauan sistematis dan meta-analisis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-analisis
    Sampel:
    8 uji klinis acak terkontrol (RCT) dengan total 1.126 pasien COVID-19
    Dosis/Durasi:
    4 kapsul (1,4 g) tiga kali sehari, selama 7–14 hari, bervariasi antar studi.
    Temuan:
    Penambahan Lianhua Qingwen pada terapi standar meningkatkan perbaikan gejala dan mengurangi progresivitas penyakit pada pasien COVID-19 ringan hingga sedang. Tidak ditemukan peningkatan risiko efek samping yang bermakna secara statistik.
  2. Forsythiaside A melemahkan cedera paru akut akibat lipopolisakarida pada mencit melalui jalur TLR4/NF-κB

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    48 mencit C57BL/6 jantan yang diinduksi lipopolisakarida (LPS)
    Dosis/Durasi:
    20, 40, atau 80 mg/kg intraperitoneal, diberikan 1 jam sebelum induksi LPS; dievaluasi 24 jam setelah induksi.
    Temuan:
    Pemberian Forsythiaside A menurunkan infiltrasi sel inflamasi, edema paru, dan kadar sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β. Efek protektif ini dimediasi oleh penghambatan aktivasi TLR4/NF-κB.
  3. Phillyrin melemahkan cedera paru akut akibat LPS pada mencit melalui penghambatan jalur NF-κB dan MAPK

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    60 mencit BALB/c jantan dengan model cedera paru akut induksi LPS intratrakeal
    Dosis/Durasi:
    5, 10, atau 20 mg/kg intraperitoneal, diberikan 1 jam sebelum induksi LPS; diamati pada 24 jam setelah induksi.
    Temuan:
    Phillyrin secara signifikan mengurangi edema paru, permeabilitas vaskular, dan produksi sitokin proinflamasi. Efek antiinflamasi ini terkait dengan penekanan fosforilasi p65 NF-κB dan MAPK.
  4. Forsythiaside A menghambat replikasi virus influenza A dan menekan respons inflamasi in vitro

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel epitel paru manusia A549 dan sel Madin-Darby Canine Kidney (MDCK)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 6,25–50 µM; perlakuan diberikan sebelum atau sesudah infeksi, dengan durasi inkubasi 24–72 jam.
    Temuan:
    Forsythiaside A menunjukkan aktivitas antivirus langsung terhadap virus influenza A dengan menghambat replikasi serta mengurangi ekspresi sitokin proinflamasi. Senyawa ini berpotensi sebagai kandidat terapi infeksi influenza.
  5. Ekstrak Forsythia suspensa memperbaiki kolitis ulseratif akibat DSS pada mencit melalui modulasi mikrobiota usus

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    40 mencit C57BL/6 dengan model kolitis ulseratif induksi dekstran sulfat natrium (DSS) 2%
    Dosis/Durasi:
    200 atau 400 mg/kg berat badan per oral, sekali sehari selama 14 hari, termasuk masa induksi DSS 7 hari.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Forsythia suspensa menurunkan skor aktivitas penyakit dan memperbaiki kerusakan histologis kolon. Perbaikan ini disertai pemulihan komposisi mikrobiota usus dan peningkatan asam lemak rantai pendek.
  6. Forsythiaside A menekan aktivitas protease utama SARS-CoV-2 dan menghambat replikasi virus pada sel Vero E6

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Enzim rekombinan SARS-CoV-2 3CLpro dan sel Vero E6 yang diinfeksi SARS-CoV-2
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 1–100 µM; pra-inkubasi dengan virus selama 1 jam, kemudian infeksi sel selama 48 jam.
    Temuan:
    Forsythiaside A menghambat aktivitas 3CLpro SARS-CoV-2 pada kisaran konsentrasi mikromolar dan menurunkan replikasi virus di sel Vero E6. Temuan ini mendukung potensi Lian Qiao sebagai antivirus terhadap SARS-CoV-2.
  7. Forsythiaside A melindungi cedera otak akibat iskemia/reperfusi melalui aktivasi jalur antioksidan Nrf2/Keap1

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    60 tikus Sprague-Dawley (SD) jantan dengan model oklusi arteri serebri medial selama 90 menit
    Dosis/Durasi:
    25, 50, atau 100 mg/kg intraperitoneal segera setelah reperfusi; evaluasi dilakukan 24 jam setelah reperfusi.
    Temuan:
    Forsythiaside A mengurangi volume infark, edema serebral, dan defisit neurologis setelah cedera iskemia/reperfusi. Mekanisme protektifnya melibatkan peningkatan translokasi Nrf2 dan penurunan stres oksidatif.

Advertisement


Cari: