Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Komposisi Kimia dan Aktivitas Antimikroba Minyak Atsiri Tanacetum balsamita L.

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Minyak atsiri hasil hidrodistilasi dari bagian aerial Tanacetum balsamita yang dikoleksi dari Iran; diuji terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan jamur Candida albicans.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 15,6–250 µg/mL; durasi inkubasi 24–48 jam secara in vitro.
    Temuan:
    Minyak atsiri kaya akan senyawa karvon, 1,8-sineol, dan kamfor, serta menunjukkan aktivitas antimikroba lebih kuat terhadap bakteri Gram-positif dibandingkan Gram-negatif. Nilai MIC berkisar antara 15,6 hingga 62,5 µg/mL.
  2. Aktivitas Insektisida Fumigan Minyak Atsiri Tanacetum balsamita terhadap Sitophilus granarius

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Minyak atsiri T. balsamita diuji pada kumbang dewasa Sitophilus granarius dengan 4 ulangan; setiap ulangan menggunakan 50 ekor kumbang.
    Dosis/Durasi:
    Paparan konsentrasi 5–80 µL/L udara selama 24–72 jam.
    Temuan:
    Minyak atsiri T. balsamita bersifat toksik melalui mekanisme fumigan dengan LC50 sebesar 37,8 µL/L udara setelah 24 jam. Aktivitas repelen juga signifikan pada konsentrasi 0,1–1 µL/mL.
  3. Kandungan Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tanacetum balsamita dari Berbagai Metode Ekstraksi

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental komparatif laboratorium
    Sampel:
    Ekstrak metanol, etanol, dan air dari daun serta batang T. balsamita; dianalisis menggunakan metode DPPH, ABTS, dan total fenol.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 10–200 µg/mL; waktu reaksi DPPH/ABTS 30 menit.
    Temuan:
    Ekstrak etanol menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan IC50 DPPH 42,3 µg/mL dan berkorelasi positif dengan kadar fenolik total. Senyawa utama yang teridentifikasi meliputi asam klorogenat dan rutin.
  4. Efek Antiinflamasi dan Analgesik Ekstrak Etanol Tanacetum balsamita pada Model Tikus

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo pada hewan coba
    Sampel:
    Tikus Wistar jantan (n=30) dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol negatif, kontrol positif asetosal, dan ekstrak etanol dengan dosis 50, 100, serta 200 mg/kg.
    Dosis/Durasi:
    Dosis 50–200 mg/kg berat badan per oral, diberikan selama 7 hari.
    Temuan:
    Ekstrak etanol dosis 200 mg/kg secara signifikan mengurangi edema dan meningkatkan ambang nyeri pada tikus, mendekati efek asetosal. Tidak ditemukan perubahan berat badan yang signifikan antar kelompok.
  5. Efek Hepatoprotektif Ekstrak Hidroalkohol Tanacetum balsamita terhadap Kerusakan Hati Akibat Karbon Tetraklorida pada Tikus

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo pada hewan coba
    Sampel:
    Tikus Sprague-Dawley (n=24) terbagi dalam 4 kelompok: kontrol normal, kontrol toksik CCl4, ekstrak 100 mg/kg, dan ekstrak 200 mg/kg.
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak diberikan oral 100 dan 200 mg/kg per hari selama 14 hari; CCl4 diinduksi pada hari ke-7.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak menurunkan kadar AST, ALT, dan malondialdehida serum secara signifikan serta meningkatkan aktivitas SOD dan katalase. Hal ini menunjukkan efek perlindungan hati melalui mekanisme antioksidan.
  6. Aktivitas Sitotoksik Senyawa Seskuiterpen Lakton dari Tanacetum balsamita pada Sel Kanker Payudara MCF-7

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Fraksi etil asetat ekstrak T. balsamita diuji pada sel lini MCF-7 dan sel normal MCF-10A; dilakukan 3 replikasi.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 1–100 µM; durasi inkubasi 48 jam.
    Temuan:
    Senyawa seskuiterpen lakton yang diisolasi dari T. balsamita menghambat proliferasi sel MCF-7 dengan IC50 10,2 µM dan menginduksi apoptosis. Senyawa ini menunjukkan selektivitas lebih tinggi terhadap sel kanker dibandingkan sel normal.
  7. Pengaruh Waktu Panen terhadap Rendemen dan Komposisi Minyak Atsiri Tanacetum balsamita

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental lapangan
    Sampel:
    Tanaman T. balsamita ditanam dengan rancangan acak lengkap; dipanen pada tiga tahap pertumbuhan yaitu vegetatif, awal berbunga, dan berbunga penuh, masing-masing dengan 3 ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Tidak relevan; minyak diekstraksi menggunakan hidrodistilasi selama 3 jam per sampel.
    Temuan:
    Tahap awal berbunga merupakan waktu panen terbaik dengan rendemen minyak atsiri tertinggi sebesar 1,2% v/w dan kadar karvon maksimum. Komposisi senyawa minyak atsiri berubah nyata di setiap tahap pertumbuhan.

Advertisement


Cari: