Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Tinjauan fitokimia dan farmakologi tanaman Kaki Kuda sebagai antiinflamasi bronkial

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    95 artikel yang mencakup studi in vitro, in vivo, dan toksikologi Tussilago farfara.
    Dosis/Durasi:
    Telaah literatur tanpa intervensi; pada studi hewan digunakan ekstrak 100–300 mg/kgBB.
    Temuan:
    Kaki Kuda menunjukkan efek antiinflamasi dan antitusif melalui penghambatan NF-κB, TNF-α, dan IL-6. Kandungan tussilagon dan flavonoid merupakan senyawa yang paling berperan dalam efek farmakologisnya.
  2. Tussilagone melindungi cedera paru akut pada mencit melalui jalur Nrf2/NF-κB

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    48 mencit C57BL/6 jantan yang dibagi menjadi enam kelompok perlakuan.
    Dosis/Durasi:
    Tussilagone 5, 10, dan 20 mg/kgBB secara intraperitoneal sekali sehari selama 7 hari.
    Temuan:
    Pemberian tussilagone mengurangi edema paru serta menurunkan sitokin proinflamasi TNF-α dan IL-6. Efek ini berkaitan dengan peningkatan ekspresi HO-1 dan penghambatan fosforilasi NF-κB p65.
  3. Efek pencegahan tussilagone terhadap perubahan seperti PPOK yang diinduksi asap rokok pada tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    40 tikus Sprague-Dawley yang dipapar asap rokok selama delapan minggu.
    Dosis/Durasi:
    Tussilagone 3 atau 10 mg/kgBB diberikan per oral lima kali per minggu selama 8 minggu.
    Temuan:
    Tussilagone menekan inflamasi saluran napas, mencegah remodeling saluran napas, dan mengurangi apoptosis sel epitel bronkial. Efek ini menunjukkan potensi perlindungan terhadap penyakit paru obstruktif kronis.
  4. Ekstrak Tussilago farfara menginduksi apoptosis sel adenokarsinoma paru melalui jalur mitokondria

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel A549 dan H1299 yang diuji dengan MTT, flow cytometry, dan Western blot.
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak diberikan pada konsentrasi 25–200 μg/mL selama 24 dan 48 jam.
    Temuan:
    Ekstrak Kaki Kuda menghambat proliferasi sel tumor paru dan menginduksi apoptosis. Ekspresi Bcl-2 menurun, sedangkan ekspresi Bax dan kaspase-3 teraktivasi meningkat.
  5. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol Kaki Kuda terhadap bakteri patogen saluran napas

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Ekstrak etanol 70% Tussilago farfara diuji terhadap Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus strain ATCC.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi serial ekstrak 0,125–8 mg/mL diinkubasi selama 24 jam.
    Temuan:
    Ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri sedang dengan MIC 1,0–2,0 mg/mL dan bersifat bakterisidal pada MBC 2,0–4,0 mg/mL. Efek antibakteri diduga berkaitan dengan kandungan flavonoid dan asam klorogenat.
  6. Keamanan herbal Kaki Kuda: analisis kandungan alkaloid pirolizidin pada produk komersial

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi analitik toksikologi
    Sampel:
    30 produk komersial yang mengandung Tussilago farfara; analisis menggunakan LC-MS/MS.
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada intervensi terapeutik; perhitungan paparan harian berdasarkan dosis yang tertera pada label produk.
    Temuan:
    Sebanyak 70% produk mengandung alkaloid pirolizidin seperti senkirkin dan senesionin dengan estimasi paparan 0,5–18,2 μg per hari. Temuan ini menunjukkan risiko hepatotoksisitas jika digunakan dalam jangka panjang.
  7. Ekstrak Tussilago farfara memperbaiki dermatitis kontak alergi dengan menekan respons imun Th2 pada mencit

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 mencit BALB/c yang diinduksi 2,4-dinitroklorobenzena (DNCB).
    Dosis/Durasi:
    Salep ekstrak 2% dan 5% (b/b) dioleskan pada telinga setiap hari selama 10 hari.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak topikal menurunkan skor dermatitis dan kadar IgE serum. Ekspresi sitokin Th2 seperti IL-4 dan IL-13 pada lesi kulit juga menurun secara signifikan.

Advertisement


Cari: