Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antiurolitiasis Ekstrak Hidroalkohol Galium aparine terhadap Batu Ginjal Oksalat Kalsium pada Tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 ekor tikus Sprague-Dawley jantan yang diinduksi etilen glikol dan amonium klorida
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kg berat badan per oral sekali sehari selama 28 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Galium aparine menurunkan ekskresi kalsium dan oksalat urin serta mengurangi jumlah dan ukuran kristal kalsium oksalat di ginjal. Dosis tertinggi menunjukkan efek preventif yang sebanding dengan kalium sitrat sebagai obat standar.
  2. Aktivitas Antiproliferatif dan Apoptosis Ekstrak Metanol Galium aparine pada Sel Kanker Payudara MCF-7 dan MDA-MB-231

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Uji laboratorium in vitro
    Sampel:
    Sel MCF-7, MDA-MB-231, dan sel epitel normal MCF-10A
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 25–200 µg/mL selama 24, 48, dan 72 jam
    Temuan:
    Ekstrak metanol menghambat proliferasi sel kanker payudara secara bergantung waktu dan dosis, serta meningkatkan apoptosis dengan menaikkan rasio Bax/Bcl-2. Ekstrak relatif tidak toksik terhadap sel normal MCF-10A.
  3. Profil Fitokimia serta Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Galium aparine

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Ekstrak metanol, etil asetat, dan n-heksana daun serta batang Galium aparine
    Dosis/Durasi:
    IC50 DPPH sebesar 42,8 µg/mL; uji antimikroba menggunakan konsentrasi 50–200 µg/mL
    Temuan:
    Kandungan fenolik dan flavonoid total berhubungan dengan aktivitas penangkal radikal DPPH dan ABTS yang tinggi. Ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, dengan efek paling kuat pada bakteri Gram-positif.
  4. Tinjauan Sistematis Aktivitas Diuretik dan Efek Nefroprotektif Galium aparine

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    9 artikel yang relevan dari PubMed dan Scopus (studi in vivo dan in vitro)
    Dosis/Durasi:
    Dosis bervariasi, umumnya 200–500 mg/kg per oral per hari selama 14–28 hari
    Temuan:
    Bukti dari studi hewan menunjukkan Galium aparine memiliki aktivitas diuretik yang signifikan dan melindungi tubulus ginjal dari kerusakan. Namun, belum ada uji klinis pada manusia sehingga tingkat bukti masih terbatas.
  5. Aktivitas Antiinflamasi Fraksi Etil Asetat Galium aparine melalui Penghambatan Produksi Nitrit Oksida pada Makrofag RAW264.7

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Uji laboratorium in vitro
    Sampel:
    Sel makrofag RAW264.7 yang diaktivasi lipopolisakarida (LPS)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 10–100 µg/mL selama 24 jam
    Temuan:
    Fraksi etil asetat menurunkan produksi nitrit oksida serta ekspresi TNF-α dan IL-6 secara signifikan tanpa menimbulkan sitotoksisitas. Iridoid glikosida pada fraksi diduga bertanggung jawab terhadap efek antiinflamasi.
  6. Efek Hepatoprotektif Ekstrak Etanol Galium aparine terhadap Kerusakan Hati Akibat Karbon Tetraklorida pada Tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji eksperimental in vivo
    Sampel:
    28 ekor tikus Wistar jantan yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4)
    Dosis/Durasi:
    150 dan 300 mg/kg per oral sekali sehari selama 10 hari sebelum induksi CCl4
    Temuan:
    Ekstrak etanol Galium aparine menurunkan kadar ALT, AST, dan bilirubin serta memperbaiki gambaran histopatologi hati. Efek protektifnya kemungkinan dimediasi oleh senyawa polifenol yang menangkal radikal bebas.
  7. Nanoenkapsulasi Ekstrak Galium aparine Menggunakan Kitosan untuk Meningkatkan Sitotoksisitas terhadap Sel Kanker Kolon

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi eksperimental formulasi dan in vitro
    Sampel:
    Sel HT-29, HCT-116, dan sel normal 293T; nanopartikel kitosan
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 5–100 µg/mL; inkubasi 48 jam; ukuran nanopartikel sekitar 160 nm
    Temuan:
    Nanopartikel kitosan yang mengandung ekstrak Galium aparine menunjukkan pelepasan lebih terkontrol dan menghasilkan indeks selektivitas lebih tinggi pada sel HT-29 dibandingkan ekstrak bebas. Dosis sitotoksik terhadap sel normal menjadi empat kali lipat lebih rendah.

Advertisement


Cari: