Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efektivitas Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon nardus) sebagai Repelan terhadap Nyamuk Aedes aegypti: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review dan Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi eksperimental; total 890 relawan manusia yang diuji gigitan nyamuk Aedes aegypti.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi minyak 5–15% v/v; aplikasi topikal pada lengan bawah; pengamatan selama 0, 2, 4, dan 6 jam setelah aplikasi.
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa minyak C. nardus secara signifikan menurunkan risiko gigitan nyamuk dengan risk ratio gabungan 0,27 (95% CI 0,19–0,38). Peningkatan konsentrasi di atas 10% tidak memberikan tambahan proteksi yang bermakna.
  2. Potensi Nanoemulsi Minyak Serai Wangi (Cymbopogon nardus) sebagai Larvasida Aedes aegypti

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Larva Aedes aegypti instar III sebanyak 600 ekor; 6 kelompok perlakuan konsentrasi dengan 4 ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 10–100 ppm; paparan selama 24 jam; mortalitas larva diamati pada akhir perlakuan.
    Temuan:
    Nanoemulsi minyak C. nardus memiliki LC50 sebesar 54,2 ppm terhadap larva A. aegypti setelah 24 jam paparan. Efektivitasnya lebih tinggi dibandingkan minyak murni karena ukuran partikel nanoemulsi yang lebih kecil.
  3. Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon nardus) terhadap Candida albicans secara In Vitro

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Isolat Candida albicans ATCC 10231; lima konsentrasi minyak dengan tiga kali ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 0,5–10% v/v; inkubasi pada suhu 35 °C selama 24 jam.
    Temuan:
    Minyak C. nardus menghambat pertumbuhan C. albicans dengan diameter zona hambat 15,8 mm pada konsentrasi 10%. Aktivitas fungisida minimal terjadi pada konsentrasi 2,5%.
  4. Aktivitas Antibakteri Minyak Serai Wangi (Cymbopogon nardus) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Strain klinis Staphylococcus aureus dan Escherichia coli; metode difusi cakram dan mikrodilusi dengan enam ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 0,0625–2% v/v; inkubasi pada suhu 37 °C selama 24 jam.
    Temuan:
    Minyak C. nardus menunjukkan aktivitas antibakteri lebih kuat terhadap S. aureus dengan kadar hambat minimum 0,25% dibandingkan E. coli dengan MIC 0,5%. Aktivitas ini berkaitan dengan kandungan sitronelal dan geraniol.
  5. Pengaruh Pelapisan Kitosan yang Mengandung Minyak Cymbopogon nardus terhadap Kualitas Fillet Ikan Nila selama Penyimpanan Dingin

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental
    Sampel:
    Fillet ikan nila (Oreochromis niloticus) sebanyak 36 buah; tiga kelompok perlakuan dengan tiga ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi minyak 1% v/v dalam larutan kitosan 1,5%; penyimpanan pada suhu 4 °C selama 12 hari.
    Temuan:
    Pelapisan kitosan dengan minyak C. nardus mampu menekan pertumbuhan bakteri total dan mempertahankan tekstur serta warna fillet hingga 12 hari. Perlakuan ini memperpanjang umur simpan dibanding kontrol.
  6. Profil Senyawa Aktif Minyak Atsiri Cymbopogon nardus dari Tiga Wilayah Indonesia dan Korelasinya dengan Aktivitas Antioksidan

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi eksperimental komparatif
    Sampel:
    Minyak atsiri C. nardus dari Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan; masing-masing dianalisis dengan tiga ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada dosis terapeutik; uji DPPH dilakukan pada rentang konsentrasi 10–80 μg/mL.
    Temuan:
    Kandungan utama minyak C. nardus adalah sitronelal, geraniol, dan sitronelol dengan rentang berturut-turut 28,4–32,1%, 14,7–19,2%, dan 8,3–11,6%. Sampel dari Sumatera Utara menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan IC50 48,2 μg/mL.
  7. Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Akut Minyak Atsiri Cymbopogon nardus pada Model Tikus Wistar

    Tahun:
    2025
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    Tikus Wistar jantan sebanyak 30 ekor, berat 180–220 g; lima kelompok dosis.
    Dosis/Durasi:
    Dosis oral tunggal 0; 250; 500; 1.000; 2.000 mg/kg berat badan; pengamatan selama 14 hari.
    Temuan:
    Pemberian oral minyak C. nardus hingga dosis 2.000 mg/kg tidak menimbulkan gejala toksisitas akut yang signifikan. Pada tikus yang diinduksi stres oksidatif, minyak ini menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktivitas SOD.
  8. Efektivitas Losion Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon nardus) sebagai Repelan Nyamuk Anopheles: Uji Klinis Acak

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial (RCT)
    Sampel:
    Manusia dewasa sehat sebanyak 120 orang; 60 orang kelompok losion C. nardus dan 60 orang kelompok placebo.
    Dosis/Durasi:
    Losion 12% v/v dioleskan pada lengan bawah dan tungkai; observasi gigitan nyamuk dilakukan setiap jam selama 6 jam.
    Temuan:
    Losion dengan konsentrasi minyak C. nardus 12% memberikan proteksi 83,3% terhadap gigitan Anopheles hingga 4 jam setelah aplikasi. Tidak ditemukan reaksi kulit pada 95% peserta selama pengamatan.

Advertisement


Cari: