Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efikasi dan keamanan kelembak (Rheum officinale) sebagai terapi tambahan pada pankreatitis akut: telaah sistematis dan meta-analisis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    12 studi RCT dengan total 1.024 pasien pankreatitis akut
    Dosis/Durasi:
    3–15 g/hari dalam bentuk rebusan atau bubuk, selama 7–14 hari
    Temuan:
    Pemberian kelembak sebagai tambahan terapi konvensional secara signifikan mempercepat perbaikan gejala, menurunkan kadar amilase, dan mengurangi komplikasi. Tidak ditemukan efek samping serius yang berhubungan dengan pemberian kelembak.
  2. Pengaruh kelembak terhadap pemulihan fungsi gastrointestinal pascabedah abdomen: uji acak terkendali

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    80 pasien pascabedah abdomen
    Dosis/Durasi:
    6 g/hari dalam bentuk ekstrak kering, diberikan selama 3 hari pascabedah
    Temuan:
    Pemberian kelembak mempercepat pemulihan motilitas usus dan mengurangi durasi mual serta kembung. Kelompok kelembak menunjukkan waktu flatus pertama yang lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol.
  3. Ekstrak kelembak (Rheum officinale) memperbaiki kolitis ulseratif pada mencit dengan memodulasi mikrobiota usus dan asam lemak rantai pendek

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    40 mencit C57BL/6 dengan kolitis ulseratif yang diinduksi dextran sulfate sodium (DSS)
    Dosis/Durasi:
    200 dan 400 mg/kg berat badan per hari, diberikan secara oral selama 7 hari
    Temuan:
    Ekstrak kelembak mengurangi skor aktivitas penyakit, menekan respons inflamasi kolon, serta meningkatkan keanekaragaman mikrobiota usus. Kadar asam lemak rantai pendek seperti butirat juga meningkat setelah pemberian ekstrak.
  4. Emodin dari kelembak (Rheum officinale) menghambat fibrosis ginjal melalui jalur TGF-β1/Smad dan NF-κB

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    36 mencit Model unilateral ureteral obstruction (UUO)
    Dosis/Durasi:
    40 mg/kg berat badan per hari, diberikan secara oral selama 14 hari
    Temuan:
    Emodin menurunkan deposisi kolagen interstitial dan ekspresi sitokin profibrotik di jaringan ginjal. Efek perlindungan ginjal diduga melalui penghambatan aktivasi TGF-β1/Smad dan NF-κB.
  5. Efikasi kelembak (Rheum officinale) pada penyakit ginjal kronis: telaah sistematis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi dengan total 1.180 pasien penyakit ginjal kronis
    Dosis/Durasi:
    3–12 g/hari dalam bentuk formulasi herbal, selama 4–12 minggu
    Temuan:
    Terapi yang mengandung kelembak dilaporkan menurunkan kadar kreatinin serum dan urea, serta memperlambat progresivitas penyakit ginjal kronis. Namun, diperlukan uji klinis dengan metodologi yang lebih kuat untuk memastikan efek jangka panjang.
  6. Farmakologi jaringan dan penambatan molekuler untuk mengungkap mekanisme kelembak (Rheum officinale) dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi Bioinformatika / Network Pharmacology
    Sampel:
    n/a (analisis basis data: 5 senyawa aktif utama dan 86 target protein terkait diabetes)
    Dosis/Durasi:
    n/a
    Temuan:
    Senyawa antrakuinon seperti emodin, rhein, dan aloe-emodin berpotensi berinteraksi dengan PPARγ dan DPP-4. Hasil penambatan molekuler menunjukkan bahwa kelembak dapat memengaruhi jalur sinyal insulin dan inflamasi kronis pada diabetes tipe 2.
  7. Enema kelembak (Rheum officinale) pada pankreatitis akut: uji acak terkendali

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    100 pasien pankreatitis akut
    Dosis/Durasi:
    30 g kelembak kering dalam 300 mL air hangat, diberikan sebagai enema 2 kali sehari selama 5–7 hari
    Temuan:
    Enema kelembak menurunkan tekanan intra-abdominal dan kadar CRP secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Pemberian enema juga memperbaiki disfungsi organ dan mempersingkat lama rawat inap.

Advertisement


Cari: