Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Tinjauan sistematis aktivitas farmakologi dan fitokimia Curcuma aeruginosa

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    32 artikel terindeks dari PubMed dan Scopus, periode 2010–2022
    Dosis/Durasi:
    Tidak dilakukan intervensi langsung; dosis bervariasi tergantung studi primer, misalnya 100–500 mg/kgBB
    Temuan:
    Aktivitas antiinflamasi, antimikroba, dan sitotoksik merupakan yang paling banyak dilaporkan. Tidak ditemukan efek toksik berat pada dosis uji hewan.
  2. Efektivitas ekstrak rimpang temu ireng terhadap nyeri haid primer pada perempuan

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial
    Sampel:
    68 perempuan usia 18–35 tahun dengan dismenore primer; 33 mendapat ekstrak dan 35 mendapat plasebo
    Dosis/Durasi:
    Kapsul 500 mg ekstrak etanol 70% sekali sehari, diberikan selama 5 hari setiap siklus selama 3 bulan
    Temuan:
    Skor nyeri VAS menurun lebih besar pada kelompok ekstrak dibanding plasebo setelah tiga siklus menstruasi. Frekuensi efek samping ringan tidak berbeda bermakna antar kelompok.
  3. Aktivitas antiinflamasi senyawa Curcuma aeruginosa pada makrofag yang diinduksi lipopolisakarida

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel RAW264.7 dan THP-1; perlakuan LPS dengan/tanpa ekstrak 6,25–50 µg/mL
    Dosis/Durasi:
    6,25–50 µg/mL selama 24 jam
    Temuan:
    Ekstrak menurunkan sekresi TNF-α, IL-6, dan NO secara tergantung dosis. Penghambatan jalur NF-κB terlibat dalam efek antiinflamasi.
  4. Potensi antikanker ekstrak temu ireng terhadap sel kanker payudara MCF-7 melalui apoptosis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel MCF-7 dan sel normal MCF-10A; konsentrasi 25–200 µg/mL
    Dosis/Durasi:
    25–200 µg/mL selama 24 dan 48 jam
    Temuan:
    Ekstrak menghambat proliferasi sel MCF-7 dengan IC50 sekitar 78,9 µg/mL dan menginduksi apoptosis melalui peningkatan ekspresi Bax serta penurunan Bcl-2. Efek sitotoksik terhadap sel normal relatif rendah.
  5. Studi in silico senyawa aktif temu ireng sebagai inhibitor protease SARS-CoV-2

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi in silico
    Sampel:
    12 senyawa aktif utama, yaitu curcumin, demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin, dan ar-turmerone, terhadap protein Mpro SARS-CoV-2
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku; simulasi docking menggunakan AutoDock Vina
    Temuan:
    Senyawa bisdemethoxycurcumin dan ar-turmerone menunjukkan afinitas ikatan lebih kuat dibanding ligan kontrol. Keduanya berpotensi menjadi kandidat inhibitor protease SARS-CoV-2 untuk studi lanjutan.
  6. Efek antidiabetes dan antioksidan ekstrak rimpang temu ireng pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan; lima kelompok: normal, diabetes kontrol, dan diabetes dengan ekstrak 100, 200, 400 mg/kgBB
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kgBB per oral setiap hari selama 14 hari
    Temuan:
    Pemberian ekstrak 400 mg/kgBB menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan aktivitas SOD serta kadar GSH. Ekstrak juga memperbaiki histologi pankreas pada tikus diabetik.
  7. Aktivitas antibakteri dan penghambatan biofilm ekstrak temu ireng terhadap Staphylococcus aureus

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Strain Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan isolat klinis MRSA; metode difusi, mikrodilusi, dan uji biofilm
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 39–500 µg/mL, inkubasi 24 jam
    Temuan:
    Ekstrak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan MIC 78–125 µg/mL dan menghambat pembentukan biofilm hingga 85% pada konsentrasi sub-MIC. Efeknya diperkuat ketika dikombinasi dengan gentamisin.

Advertisement


Cari: