Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Tinjauan Sistematis Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi Kapulaga Ireng (Amomum subulatum)

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    85 artikel penelitian yang diterbitkan pada 2000–2022 dari Scopus, PubMed, dan Google Scholar
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada intervensi; tinjauan pustaka sistematis
    Temuan:
    Kajian ini mengidentifikasi senyawa fenolik dan flavonoid sebagai komponen bioaktif utama yang mendasari efek antioksidan, antiinflamasi, dan hepatoprotektif. Mekanisme kerjanya melibatkan aktivasi Nrf2 dan penghambatan NF-κB.
  2. Efek Suplementasi Ekstrak Amomum subulatum terhadap Tekanan Darah dan Profil Lipid pada Pasien Hipertensi: Uji Acak Terkontrol

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial
    Sampel:
    48 pasien hipertensi ringan hingga sedang (28 laki-laki dan 20 perempuan; usia 35–65 tahun)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak Amomum subulatum dua kali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak Amomum subulatum dosis 1000 mg/hari selama 8 minggu menurunkan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, dan kadar LDL secara signifikan dibandingkan plasebo. Tidak ditemukan perubahan signifikan pada HDL dan trigliserida.
  3. Ekstrak Amomum subulatum Mencegah Hepatotoksisitas akibat Parasetamol pada Tikus melalui Aktivasi Nrf2 dan Penurunan Sitokin Proinflamasi

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Eksperimental Preklinis
    Sampel:
    30 tikus Wistar jantan berumur 8–10 minggu dengan berat 180–220 g, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan
    Dosis/Durasi:
    200 dan 400 mg/kg BB per oral sekali sehari selama 7 hari sebelum induksi parasetamol
    Temuan:
    Pemberian ekstrak etanol dosis 200 dan 400 mg/kg BB menurunkan kadar ALT, AST, dan malondialdehid secara signifikan. Ekstrak juga meningkatkan ekspresi superoksida dismutase dan katalase melalui jalur Nrf2.
  4. Kandungan Fenolik dan Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Kapulaga Ireng pada Makrofag RAW 264.7 yang Diinduksi Lipopolisakarida

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Kultur sel makrofag RAW 264.7; konsentrasi ekstrak 6,25–100 µg/mL dengan tiga replikasi
    Dosis/Durasi:
    Paparan ekstrak 6,25–100 µg/mL selama 24 jam
    Temuan:
    Ekstrak Amomum subulatum menghambat produksi NO, PGE2, TNF-α, dan IL-6 secara tergantung konsentrasi. Efek antiinflamasi tersebut dimediasi oleh penurunan translokasi NF-κB dan fosforilasi p38 MAPK.
  5. Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Amomum subulatum pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi In Vivo Preklinis
    Sampel:
    36 tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi menjadi 6 kelompok: normal, diabetes, tiga dosis ekstrak, dan kontrol metformin
    Dosis/Durasi:
    150, 300, dan 450 mg/kg BB per oral sekali sehari selama 28 hari
    Temuan:
    Ekstrak dosis 300 mg/kg BB menurunkan glukosa darah puasa sebesar 38% dan meningkatkan sensitivitas insulin. Efek antidiabetesnya sebanding dengan metformin 100 mg/kg BB.
  6. Pengaruh Ekstrak Amomum subulatum terhadap Obesitas dan Steatosis Hepar pada Tikus yang Diberi Diet Tinggi Lemak

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan Coba
    Sampel:
    40 tikus C57BL/6 jantan; diberikan diet tinggi lemak selama 12 minggu, kemudian intervensi ekstrak selama 4 minggu
    Dosis/Durasi:
    100 dan 200 mg/kg BB per oral sekali sehari selama 4 minggu
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak menurunkan berat badan, lemak visceral, dan trigliserida intrahepatik secara signifikan. Ekstrak juga menurunkan ekspresi gen lipogenik SREBP-1c dan ACC pada hati.
  7. Meta-Analisis Efikasi dan Keamanan Amomum subulatum dalam Pengendalian Glikemik dan Stres Oksidatif pada Diabetes Tipe 2

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    7 uji klinis acak terkontrol dengan total 412 pasien diabetes tipe 2
    Dosis/Durasi:
    Rentang dosis 250–1000 mg/hari selama 8–16 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis ini menunjukkan penurunan signifikan pada HbA1c dan glukosa darah puasa setelah pemberian Amomum subulatum. Tidak ditemukan efek samping serius, meskipun sebagian studi memiliki risiko bias karena tidak menggunakan blinding ganda.

Advertisement


Cari: