Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efikasi dan keamanan Astragalus membranaceus sebagai terapi adjuvan pada nefropati diabetik: meta-analisis uji acak terkontrol

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    18 uji acak terkontrol dengan total 1.286 pasien nefropati diabetik
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar Huang Qi setara 2,5–5 g/hari selama 8–24 minggu.
    Temuan:
    Penambahan Astragalus membranaceus terhadap pengobatan standar menurunkan proteinuria dan serum kreatinin secara signifikan. Tidak ditemukan peningkatan risiko efek samping yang bermakna dibandingkan plasebo.
  2. Pengaruh polisakarida Astragalus membranaceus terhadap kontrol glikemik pada diabetes melitus tipe 2: telaah sistematis dan meta-analisis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review & Meta-Analisis
    Sampel:
    12 uji acak terkontrol dengan total 876 pasien diabetes melitus tipe 2
    Dosis/Durasi:
    Polisakarida astragalus 500–1.000 mg/hari selama 8–16 minggu.
    Temuan:
    Suplementasi polisakarida Huang Qi menurunkan HbA1c dan glukosa darah puasa secara bermakna dibandingkan plasebo. Efek klinis lebih nyata apabila diberikan selama minimal 12 minggu.
  3. Astragalus membranaceus sebagai tambahan terapi standar pada gagal jantung kronis: meta-analisis uji klinis acak

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    14 uji acak terkontrol dengan total 1.032 pasien gagal jantung kronis kelas fungsional NYHA II–IV
    Dosis/Durasi:
    Granul atau ekstrak Huang Qi setara 3–6 g bahan baku per hari selama 4–12 minggu.
    Temuan:
    Astragalus membranaceus meningkatkan fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kapasitas latihan, serta menurunkan kadar NT-proBNP. Hasil ini mendukung potensi Huang Qi sebagai terapi adjuvan pada gagal jantung.
  4. Pengaruh ekstrak Astragalus membranaceus terhadap fungsi imun pasien dengan keganasan yang menjalani kemoterapi: uji acak terkontrol

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    60 pasien dewasa usia 40–75 tahun dengan tumor padat yang menjalani kemoterapi
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar Astragalus membranaceus 2 g/hari dalam bentuk kapsul (setara 10 g bahan baku) selama 8 minggu.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Huang Qi meningkatkan jumlah sel CD4+ dan rasio CD4+/CD8+, serta mengurangi kelelahan terkait kemoterapi. Tidak ditemukan hepatotoksisitas maupun nefrotoksisitas yang bermakna.
  5. Penggunaan Astragalus membranaceus pada penyakit ginjal kronis: telaah sistematis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    22 studi terdiri atas 15 uji acak terkontrol dan 7 studi kuasi-eksperimental dengan total 1.570 partisipan
    Dosis/Durasi:
    Dosis harian bervariasi antara 3–15 g akar Huang Qi dalam bentuk rebusan atau ekstrak selama 4–24 minggu.
    Temuan:
    Telaah sistematis menunjukkan perbaikan fungsi ginjal yang ditandai dengan penurunan kreatinin serum dan proteinuria, serta peningkatan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronis. Namun, beberapa studi memiliki risiko bias sedang hingga tinggi.
  6. Adjuvan Astragalus membranaceus pada pemulihan pasien stroke iskemik akut: meta-analisis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    10 uji acak terkontrol dengan total 782 pasien stroke iskemik akut
    Dosis/Durasi:
    Sediaan injeksi Astragalus 20–40 mL/hari dalam larutan NaCl 0,9% selama 14–28 hari.
    Temuan:
    Astragalus membranaceus memperbaiki skor NIHSS dan indeks Barthel setelah 4 minggu bila ditambahkan pada terapi standar. Profil keamanannya tidak berbeda secara signifikan dibandingkan kontrol.
  7. Pengaruh infus polisakarida Astragalus membranaceus terhadap cedera ginjal akut pada sepsis: uji klinis acak

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    72 pasien sepsis yang dirawat di ICU dengan risiko cedera ginjal akut
    Dosis/Durasi:
    Polisakarida astragalus 400 mg intravena sekali sehari selama 7 hari.
    Temuan:
    Infus polisakarida Huang Qi menurunkan kadar NGAL dan TNF-α serum, serta menurunkan insiden perburukan cedera ginjal akut dalam 7 hari. Penggunaan adjuvan ini dianggap aman pada pasien sepsis.

Advertisement


Cari: