Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Kajian sistematis fitokimia, etnomedisin, dan aktivitas farmakologi tanaman vanili (Vanilla planifolia)

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    5 database; 62 artikel yang memenuhi kriteria (studi in vitro, in vivo, dan laporan kasus)
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku (studi literatur; tidak ada intervensi dosis)
    Temuan:
    Vanilla planifolia mengandung vanillin, vanillic acid, p-hydroxybenzoic acid, dan ferulic acid yang berperan dalam aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba. Studi klinis lanjutan diperlukan untuk menetapkan efektivitas dan keamanannya pada manusia.
  2. Ekstrak etanol buah vanili menghambat inflamasi melalui penekanan NF-κB pada makrofag RAW264.7 yang diinduksi LPS

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel RAW264.7 (makrofag tikus); perlakuan LPS 1 µg/mL dengan 6 konsentrasi ekstrak
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 10, 25, 50, dan 100 µg/mL; paparan 24 jam sebelum dan selama stimulasi LPS
    Temuan:
    Ekstrak vanili menurunkan produksi NO, TNF-α, dan IL-6 secara tergantung dosis. Ekstrak juga menghambat translokasi p65 NF-κB ke nukleus.
  3. Vanillin meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki stres oksidatif pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley jantan (8–10 minggu, 180–220 g); diabetes diinduksi STZ 55 mg/kg
    Dosis/Durasi:
    Vanillin 50 dan 100 mg/kg BB per oral; 28 hari berturut-turut setelah induksi diabetes
    Temuan:
    Vanillin dosis 50 dan 100 mg/kg menurunkan glukosa darah puasa, HOMA-IR, dan MDA. Terjadi peningkatan SOD, katalase, dan ekspresi GLUT4 pada jaringan otot dan adiposa.
  4. Vanillin menimbulkan efek neuroprotektif pada model penyakit Parkinson tikus yang diinduksi MPTP melalui aktivasi jalur Nrf2

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    36 tikus C57BL/6 jantan (8 minggu); model MPTP selama 5 hari
    Dosis/Durasi:
    Vanillin 10, 20, dan 40 mg/kg intraperitoneal; diberikan 1×/hari selama 14 hari setelah induksi MPTP
    Temuan:
    Vanillin mengurangi kehilangan neuron dopaminergik di substansia nigra dan memperbaiki koordinasi motorik. Mekanisme melalui peningkatan Nrf2 dan penurunan stres oksidatif.
  5. Aktivitas antibakteri vanillin terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Strain S. aureus ATCC 25923 dan E. coli ATCC 25922; metode mikrodilusi broth
    Dosis/Durasi:
    Vanillin 0,5–4 mg/mL; inkubasi 24 jam pada 37°C
    Temuan:
    Vanillin menghambat pertumbuhan kedua bakteri dengan konsentrasi hambat minimum 2 mg/mL dan 4 mg/mL. Kombinasi vanillin dengan suhu 60°C meningkatkan efek bakterisidal.
  6. Vanillin mengurangi nefrotoksisitas yang diinduksi cisplatin pada tikus Wistar melalui efek antioksidan dan anti-inflamasi

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    28 tikus Wistar jantan (6–8 minggu, 150–180 g); nefrotoksisitas diinduksi cisplatin 7 mg/kg
    Dosis/Durasi:
    Vanillin 100 mg/kg BB per oral; diberikan 14 hari sebelum dan 5 hari setelah injeksi cisplatin
    Temuan:
    Vanillin menurunkan kadar kreatinin serum, BUN, dan skor histopatologi tubulus ginjal. Vanillin menekan ekspresi TNF-α dan malondialdehida di jaringan ginjal.
  7. Vanillin menginduksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7 melalui jalur mitokondria

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel MCF-7 (kanker payudara manusia) dan sel normal MCF-10A; uji MTT dan flow cytometry
    Dosis/Durasi:
    Vanillin 5–100 µM; inkubasi 24 dan 48 jam
    Temuan:
    Vanillin menekan proliferasi sel MCF-7 dengan nilai IC50 sekitar 25 µM tanpa toksisitas signifikan terhadap sel normal. Vanillin meningkatkan aktivitas kaspase-3 dan pembelahan PARP.

Advertisement


Cari: