Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek hepatoprotektif ekstrak rizoma Picrorhiza kurroa terhadap kerusakan hati yang diinduksi parasetamol pada tikus

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley jantan (6-8 minggu, 180-220 g) yang dibagi menjadi 5 kelompok
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 70% dosis 200 atau 400 mg/kg/hari per oral selama 7 hari; induksi parasetamol 3 g/kg pada hari ke-7
    Temuan:
    Pemberian ekstrak P. kurroa dosis 200 dan 400 mg/kg secara signifikan menurunkan kadar ALT dan AST serta memperbaiki nekrosis hepatoseluler pada tikus yang diinduksi parasetamol. Efek hepatoprotektif diduga melalui peningkatan aktivitas antioksidan endogen dan penghambatan peroksidasi lipid.
  2. Picroside I menekan respons inflamasi pada makrofag RAW264.7 yang dipicu lipopolisakarida melalui inhibisi jalur NF-κB

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vitro
    Sampel:
    Sel makrofag murine RAW264.7
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi 25, 50, dan 100 µM selama 1 jam sebelum stimulasi LPS (1 µg/mL) selama 24 jam
    Temuan:
    Picroside I menghambat produksi TNF-α, IL-6, dan NO secara tergantung dosis pada makrofag yang dipicu LPS. Efek ini dimediasi oleh penurunan fosforilasi IκBα dan translokasi nuklir NF-κB p65, sehingga berpotensi sebagai agen anti-inflamasi.
  3. Ekstrak Picrorhiza kurroa meningkatkan toleransi glukosa dan profil lipid pada tikus diabetes induksi streptozotosin

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    24 tikus Wistar jantan (8-10 minggu, 200-250 g) yang diinduksi diabetes dengan streptozotosin (STZ) dosis 45 mg/kg
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak air dosis 400 mg/kg/hari per oral selama 28 hari setelah induksi diabetes
    Temuan:
    Pemberian ekstrak P. kurroa selama 28 hari menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c, serta memperbaiki dislipidemia pada tikus diabetes. Temuan menunjukkan efek antidiabetik yang mungkin terkait dengan aktivitas antioksidan dan pemulihan sel beta pankreas.
  4. Efektivitas dan keamanan ekstrak Picrorhiza kurroa sebagai terapi tambahan pada pasien dengan perlemakan hati non-alkoholik: uji klinis acak terkontrol plasebo

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial (RCT)
    Sampel:
    60 pasien NAFLD (usia 30-65 tahun) dengan fibroscan derajat steatosis ≥ S2, diacak untuk menerima ekstrak P. kurroa atau plasebo (1:1)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak terstandar 600 mg/hari dalam dua kapsul 300 mg selama 12 minggu, dengan pengobatan standar (vitamin E) yang sama pada kedua kelompok
    Temuan:
    Terapi tambahan P. kurroa selama 12 minggu secara signifikan menurunkan ALT dan AST serta memperbaiki derajat steatosis pada ultrasonografi dibandingkan plasebo. Tidak ditemukan efek samping yang serius, dan tolerabilitas baik.
  5. Tanaman obat untuk perlemakan hati non-alkoholik: tinjauan sistematis dan meta-analisis uji klinis acak

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review dan Meta-Analisis
    Sampel:
    17 uji klinis acak dengan total 1.254 pasien NAFLD, termasuk 4 studi yang melibatkan formulasi Picrorhiza kurroa
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi; untuk ekstrak P. kurroa berkisar 400–600 mg/hari selama 8–24 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi tanaman obat termasuk P. kurroa secara signifikan menurunkan kadar ALT dan steatosis hati dibandingkan plasebo/kontrol. Namun, heterogenitas antar studi cukup tinggi, sehingga diperlukan uji klinis yang lebih besar dengan standar pelaporan yang lebih baik.
  6. Efek neuroprotektif ekstrak Picrorhiza kurroa pada tikus model penyakit Alzheimer yang diinduksi asam okadain

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley (6-7 bulan, 300-350 g) yang diinduksi amiloid/tau via asam okadain intraventrikular
    Dosis/Durasi:
    200 mg/kg/hari per oral selama 21 hari setelah induksi asam okadain
    Temuan:
    Ekstrak P. kurroa dosis 200 mg/kg memperbaiki defisit memori spasial dalam uji Morris water maze dan menurunkan kadar agregat beta-amiloid serta hiperfosforilasi tau di hipokampus. Efek neuroprotektif kemungkinan berkaitan dengan aktivasi jalur Nrf2 dan penurunan stres oksidatif.
  7. Picroside II melemahkan kerusakan paru yang diinduksi asap rokok pada tikus dengan mengaktifkan jalur Nrf2/HO-1

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    40 tikus C57BL/6 jantan (8-10 minggu) yang dipapari asap rokok 30 menit dua kali sehari selama 4 minggu
    Dosis/Durasi:
    20 atau 40 mg/kg/hari intraperitoneal selama 28 hari, bersamaan dengan paparan asap rokok
    Temuan:
    Picroside II dosis 20 dan 40 mg/kg secara signifikan mengurangi infiltrasi sel inflamasi, kadar MDA, dan meningkatkan ekspresi Nrf2 serta HO-1 di jaringan paru. Hasil ini menunjukkan bahwa picroside II memiliki potensi terapeutik untuk penyakit paru obstruktif terkait paparan asap rokok.
  8. Efek terapeutik Picrorhiza kurroa pada artritis reumatoid: tinjauan sistematis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    Analisis dari 9 penelitian (3 uji klinis dan 6 studi hewan) yang melibatkan 480 peserta dan hewan model
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi; ekstrak 300–600 mg/hari pada studi klinis selama 8–16 minggu
    Temuan:
    Tinjauan sistematis menemukan bahwa P. kurroa dan senyawa picroside dapat mengurangi skor arthritis dan penanda inflamasi seperti TNF-α dan IL-17 baik pada hewan maupun manusia. Namun, kualitas bukti rendah karena banyak studi pra-klinis tanpa protokol standar.

Advertisement


Cari: